Kala Jerebu Kembali Hantui Bumi Melayu

kabut-asap.jpg
(yan)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Deru helikopter meraung-raung mendekati Pangakalan Militer Roesmin Nurjadin, Sabtu sore. Di ketinggian, tampak tali atau Sling memanjang dengan bucket raksasa masih nyantol di tubuh si capung besi tersebut.

Di sebalik ekor helikopter, tampak matahari sore yang tak lagi cemerlang. Sinarnya memerah, diselimuti kelabu asap. Pemandangan itu mengingatkan warga Riau pada 2015 lalu, saat Bumi Lancang Kuning luluh lantak dihajar kabut asap.

2019 ini, seharusnya Riau berhasil memecahkan rekor, empat tahun tanpa asap. Tapi, sepertinya rekor itu sulit untuk dipertahankan. Sehari sebelumnya, berita kabut asap Riau menghiasi berita utama koran koran nasional.

Kebakaran meluas, Riau berasap. Begitulah kira-kira tajuk utama para kuli tinta. Sejak medio pekan ini, aroma Riau kembali diselimuti asap, cukup kuat. Aroma hangus mulai dirasakan sejak pertengahan Juli 2019 ini. Tapi asap belum benar-benar menampakkan diri. Baru, di awal pekan terakhir 2019 asap menyebar ke penjuru negeri, bumi Melayu.

Di Pekanbaru, asap tipis menyelimuti sejumlah lokasi. Terutama di pinggiran kota yang berbatsan dengan sumber api. Pekanbaru memang bukan sumber utama kebakaran, namun kabupaten tetangga seperti Pelalawan dan Siak sudah berlekuk lutut pada bencana tahunan itu.

BMKG sejak Jumat hingga Minggu hari ini mendeteksi lebih dari 50 titik panas mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di seluruh Riau. Paling banyak, titik panas menyebar di Pelalawan dan Siak. Dua wilayah itu berbatasan langsung dengan Kota Pekanbaru. Akibatnya, jelas Pekanbaru yang selama ini dijaga steril dari kabut asap, gagal.

Di Siak lebih parah lagi. Kualitas udara terus menurun. Jarak pandang sejak tiga hari terakhir juga memburuk. Ria, sopir travel tujuan Bengkalis Pekanbaru yang tiap hari melintasi Siak mengaku harus lebih banyak menginjak rem ketimbang gas.

"Dua hari ini jalan lintas di Siak diselimuti kabut. Terutama pagi. Sangat membahayakan," kata Ria.

Hingga Juli 2019 ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mencatat lebih dari 3.800 hektare lahan di Riau hangus terbakar. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah yang terluas mengalami Karhutla dengan luas mencapai 1.435 hektare. Selain Bengkalis, kebakaran turut melanda wilayah Rohil dengan luas kebakaran mencapai 606,25 hektare.

Selanjutnya Siak 366 hektare, Dumai 269,75 hektare dan Meranti 232,7 hektare. Kemudian, di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) 120 hektare, Pelalawan 95 hektare, Indragiri Hulu (Inhu) 71,5 hektare, Kampar 64,9 hektare dan Kuansing lima hektare.

Akan tetapi angka yang dirilis BPBD Riau itu berpotensi lebih besar setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan luas kebakaran di Riau sepanjang 2019 ini mencapai lebih dari 27.000 hektare lebih.

Padahal, diawal 2019 lalu Riau sudah pernah pasrah dilucuti karhutla tanpa ampun. Akibat kebakaran tanpa ampun itu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto langsung turun ke Riau, tepatnya Pulau Rupat.

Pulau Rupat, Bengkalis, satu pulau di bibir Selat Malaka menjadi salah satu penyumbang kebakaran hebat. Lebih dari 1.000 hektare lahan di pulau itu terbakar.

Akibat masifnya kebakaran di Pulau Rupat, Kota Dumai yang secara geografis berbatasan langsung dengan pulau itu dilanda kabut asap. Siswa-siswi pun diliburkan dari aktivitas belajar mengajar di sekolah, akibat kondisi udara memburuk.

Presiden menginginkan Panglima TNI meninjau langsung dan menyuntik semangat prajurit TNI serta tim gabungan dalam mengatasi karhutla.

"Sesuai perintah Bapak Presiden langsung kepada saya, segera berikan perkuatan kepada pasukan yang sedang melaksanakan pemadaman api. Khususnya personel TNI. Oleh sebab itu, saya segera ke Riau, melihat langsung," katanya kala itu.

Kedatangan Hadi Tjahjanto hanya berselang kurang 24 jam dari seniornya Jenderal TNI (Purn) Moeldoko yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan. Moeldoko melakukan kunjungan kerja pada Jumat (22/2) dan turut membawa pesan pencegahan dan penanggulangan karhutla.

Akan tetapi, kedatangan Hadi terlihat lebih komplit. Selain menyatakan akan memompa semangat prajurit melakukan penanggulangan karhutla, dia juga membawa peralatan berupa helikopter Puma TNI AU dan strategi perang untuk melawannya.

Hadi mencatat ada tiga kelemahan upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di Riau yang harus dan segera diatasi, yakni sistem peringatan dini yang tergantung pada satelit.

"Sedangkan satelit itu melaporkan titik-titik api setiap enam jam," ujarnya.

Jelas, kondisi tersebut membuat penanggulangan tidak efektif, karena ketika terjadi kebakaran di daerah terpencil atau tidak terpantau manusia, enam jam kemudian baru terdeteksi.

"Setelah enam jam, kebakaran akan tinggi (meluas, red.)," kata Hadi kepada wartawan sesaat sebelum terbang meninjau lokasi kebakaran.

Selanjutnya, Hadi juga menilai pasukannya kerap kesulitan untuk mencapai lokasi kebakaran. Akses yang sulit dijangkau melalui jalur darat membuat operasi pemadaman menjadi tidak optimal.

Selain itu, keterbatasan alat pemadaman menjadi kendala terakhir yang harus diselesaikan.

Namun, ternyata lima bulan usai strategi Panglima diterapkan Riau kembali dilanda kebakaran luar biasa. Bahkan, kali ini Riau, khususnya Pekanbaru harus bertekuk lutut tanpa ampun akibat kabut asap. Apa dosa Riau?. (**)