RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pertandingan PSPS Pekanbaru melawan PSMS Medan di tengah kondisi Kota Pekanbaru yang dilanda kabut asap menjadi tantangan tersendiri bagi kedua tim.
Selain harus berjuang memperebutkan kemenangan di lapangan, para pemain juga dihadapkan pada kondisi udara yang berpotensi memengaruhi kebugaran dan kenyamanan saat bernapas.
Dampak kabut asap tersebut dirasakan para pemain, terutama ketika pertandingan berlangsung dengan intensitas tinggi. Kondisi ini terlihat dari para pemain yang tampak terengah-engah, khususnya pada babak pertama pertandingan.
Pelatih PSPS Pekanbaru, Akhyar Ilyas, mengakui kondisi kabut asap sedikit banyak memengaruhi performa fisik pemainnya.
Hal itu diketahuinya setelah melihat kondisi para pemain di lapangan dan menanyakan langsung kepada mereka saat berada di ruang ganti.
Akhyar mengungkapkan, para pemain mengeluhkan kondisi pernapasan yang terasa lebih berat ketika menjalani pertandingan.
Situasi tersebut menjadi perhatian tersendiri karena pemain sepak bola membutuhkan kondisi fisik prima untuk mempertahankan intensitas permainan selama 90 menit.
"Saya pikir sedikitnya berpengaruh. Karena saya tadi sempat tanya, pemain kelihatan seperti terengah-engah sekali di babak pertama," kata Akhyar Ilyas, Minggu, 11 Oktober 2026.
Menurutnya, kondisi fisik pemain yang terlihat kelelahan bukan semata-mata persoalan intensitas pertandingan. Faktor kualitas udara yang kurang baik akibat kabut asap juga patut menjadi perhatian, terlebih ketika para pemain harus terus bergerak, berlari, dan menjaga tempo permainan.
Akhyar mengatakan, dirinya sempat menanyakan kondisi tersebut kepada para pemain ketika jeda babak pertama. Dari percakapan itu, ia mengetahui bahwa sejumlah pemain memang merasakan napas yang lebih berat selama pertandingan.
"Di ruang ganti saya tanya, ya memang mereka merasakan seperti agak berat bernapas," ujarnya.
Akhyar juga menyoroti perbedaan kondisi yang mungkin dialami pemain PSPS Pekanbaru dan PSMS Medan selama berada di Kota Pekanbaru.
Sebagai tim tuan rumah, para pemain PSPS sehari-hari menjalani latihan di tengah kondisi lingkungan setempat. Sementara itu, pemain PSMS Medan baru datang ke Pekanbaru untuk menjalani pertandingan.
Menurut Akhyar, kebiasaan menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kondisi udara Pekanbaru bisa menjadi salah satu faktor yang membedakan pengalaman kedua tim. Namun, ia tidak serta-merta menganggap pemain PSPS terbebas dari dampak kabut asap.
Justru, ia menilai paparan asap yang berlangsung terus-menerus perlu menjadi perhatian karena pemain PSPS kemungkinan telah lebih lama menghirup udara yang tercemar dibandingkan pemain tim tamu.
"Apa yang membedakan kita dengan PSMS, mungkin kita selama ini ya sehari-harinya kita latihan seperti ini. Jadi mungkin bukan soal adaptasi, tapi memang akumulasi yang kita hirup mungkin sudah lebih ya ketimbang PSMS yang baru datang ke mari," jelasnya.
Di tengah situasi tersebut, Akhyar berharap kondisi kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru segera membaik.
Baginya, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan sepak bola, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan kesehatan masyarakat yang beraktivitas di tengah kualitas udara yang menurun.
Karena itu, Akhyar berharap bencana kabut asap yang melanda wilayah tersebut segera berakhir sehingga para pemain dapat kembali beraktivitas dalam kondisi lingkungan yang lebih baik.
"Ya mudah-mudahan bencana ini segera berakhir," tutup Akhyar.

