Abdul Manan, Petani Sagu Meranti Ini Nominator Kalpataru 2016

Sekat-Kanal-di-Sui-Tohor.jpg
(HUMAS BANK RIAUKEPRI untuk RIAUONLINE.CO.ID)

RIAU ONLINE, SIAK - Abdul Manan, petani sagu di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, terpilih sebagai penerima sertifikat dan plakat Penghargaan Kalpataru, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup. 

 

Sebagai petani sagu, Abdul Manan, mampu menjadi penggerak dan inisiator dalam pembuatan sekat kanal (Blocking Canal) di Indonesia. Pembuatan sekat kanal di Sungai Tohor menjadi percontohan untuk di Indonesia. 

 

Secara khusus, Abdul Manan, kepada RIAUONLINE.CO.ID, mengucapkan syukur Alhamdulillah atas penghargaan yang diterimanya dari negara. Ini tanda, tuturnya, upaya keras selama ini dilakukan dirinya bersama warga Sungai Tohor mendapat apreasi serta pengakuan negara. 

 

Baca Juga: Kabupaten Siak Catat Sejarah Gelar Hari Lingkungan Hidup di Luar Istana Negara

 

"Sekat kanal (Blocking Canal) ini upaya kami untuk menimalisir terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut. Gambut harus dibasahi sehingga tak bisa terbakar," kata Abdul Manan, Jumat, 22 Juli 2016.

 

Abdul Manan dan Presiden Joko Widodo

RIAUONLINE.CO.ID.ISTIMEWA

PETANI sagu dari Desa Sungai Tohor, Tebing Tinggi Timur, Kepulauan Meranti, menerima kayu dari Presiden Joko Widodo, sebagai bantuan untuk membuat sekat kanal (Blocking Canal) di lahan gambut, akhir tahun 2014 silam.

 

Abdul Manan bersama sembilan penerima Kalpataru dari seluruh Indonesia, akan menerima penghargaan tersebut di Halaman Istana Siak, dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

 

Saat berupaya membuat sekat kanal di desanya, Abdul Manan didampingi lembaga sipil seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan Greenpeace. Pendampingan ini mampu menekan Karhutla di Sungai Tohor, dan menarik perhatian Presiden Joko Widodo secara langsung melihat pembuatan Blocking Canal tersebut, akhir tahun 2014 silam. 

 

"Perlu ketegasan untuk pelihara lingkungan, jangan lagi alam dirusak. Kita harus gigih libatkan masyarakat untuk upaya tersebut. Alhamdulillah, perusahaan HTI tak bisa masuk di desa kami. Kami punya pohon sagu sebagai ekonomi, penunjang kehidupan warga desa," kata Manan. 

 

Sekat Kanal di Sungai Tohor

RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA

KETUA Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead, Pelaksana Tugas Gubernur Riau (Plt Gubri) Arsyadjuliandi Rachman dan Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir, saat meninjau sekat kanal (blocking canal) yang dibangun di Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Riau, Selasa, 12 April 2016.

 

Ia menceritakan bagaimana pohon sagu menjadi penopang kehidupan warga yang bergantung hidup di lahan gambut sejak tahun 1960-an. Ketika itu, saat lagi booming HPH Adan penebangan hutan dilanjutkan Hutan Tanaman Industri (HTI) serta perkebunan kelapa sawit di atas gambut, warga tetap menanam pohon tersebut. 

 

Klik Juga: Terancam Perambah dan Sawit Alasan Zamrud Jadi Taman Nasional

 

"Saya baru tahu meraih Kalpataru Rabu sore lalu, sekitar pukul 17.00 WIB. Ketika itu, staf Dinas Lingkungan Hidup Meranti hubungi dan menyampaikan saya dapat Kalapataru," tuturnya. 

 

Saat menerima kabar bahagia tersebut, tuturnya, ia senang. "Alhmadulillah, perjuangan kita selama ini berhasil. sebelum itu bulan puasa, sudah ada verfikasi. Saya berpikir, diterima atau juga tak masalah," jelas Manan. 

 


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline