Miliki APBD Triliunan, Inilah SD Laskar Pelangi di Rokan Hulu

Lokal-Laskar-Pelangi.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Anak-anak mengenakan seragam bagian atas berwarna putih dan bawah berwarna merah, dengan tekun menulis jawaban demi jawaban di lembar buku sekolah di atas mejanya.

Meja belajar mereka gunakan terbuat dari triplek dan kayu apa adanya, tanpa cat, polos serta tingginya tak lebih dari 40 sentimer dari tanah. Selain itu, bangku panjang ala kadarnya, terbuat dari sebilah papan di paku di atas balok kayu selebar 15 sentimer dari tanah. 

Ya, tanah. Murid-murid SD di pedalaman Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, menuntut ilmu, belajar di atas lantai tanah, bukan semen apalagi keramik, layaknya sekolah-sekolah di perkotaan. 

"Kelas berlantai tanah ini untuk murid kelas 1 hingga 3. Lantai tanah dan dinding papan," kata Kepala SDN 006 Ulak Patian, Andi Maryanto, Jumat, 4 Oktober 2019. 

Andi menceritakan, saat ini ada 202 murid belajar di sekolah yang berdiri sejak 1972 silam. Sekolah itu menjadi satu-satunya fasilitas pendidikan tingkat dasar tersedia di desa tersebut.

Tak hanya berlantai tanah saja, sekolah tersebut juga berdinding papan 1,75 meter, selebihnya dibiarkan kosong di bagian dengan sekat antarkelas terbuat dari papan juga. 

Andi menceritakan, jangan bayangkan sekolah ia kepalai memiliki jendela, atau bahkan pintu masuk kelas, seperti bangunan sekolah lainnya. Tanpa jendela, tanpa pintu. Langsung berhadapan dengan halaman. Hujan dan debu, selalu menjadi ancaman.

"Ya kalau hujan, masuklah air ke dalam lokal berlantaikan tanah ini. Kalau musim kemarau, masuklah debu. Ini selalu hantui murid-murid dalam menuntut ilmu," jelasnya. 

Sekolah itu jauh dari kata layak. Padahal, SDN 006 menjadi satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut. Dampaknya, sekolah itu kerap kebanjiran murid setiap tahun ajaran baru tiba.

Sekolah Laskar Pelangi di Rohul

 

 

Sementara fasilitas tersedia sama sekali tidak mendukung generasi penerus bangsa meraih ilmu dan cita-cita. Desa Ulak Patian merupakan satu dari puluhan desa terpencil di pedalaman Kabupaten Rokan Hulu.

Desa itu terpaut 80 kilometer dari ibu kota kabupaten, Pasir Pangaraian, serta 24 kilometer dari ibu kota kecamatan. 

Akses menuju desa itu juga sangat buruk. Dari jalan lintas Rokan Hulu-Duri, perlu ditempuh 12 kilometer dengan tujuh kilometer diantaranya jalan tanah. 

Andi menjelaskan, terdapat sembilan bangunan kelas di sekolah tersebut. "Untuk enam bangunan lainnya telah dibangun pemerintah dengan bangunan permanen. Namun, tiga bangunan kelas itu menyisakan masalah lainnya, kondisi rusak dan belum mendapat perbaikan," katanya. 

Tak hanya itu, tiga kelas diperuntukkan untuk murid kelas satu hingga kelas tiga berlantai tanah itu juga terus dihantui banjir saat musim hujan tiba. 

Tiga kelas dengan kondisi memprihatinkan itu dibuat secara swadaya oleh masyarakat karena daya tampung dan jumlah murid tidak seimbang. 
Pihak sekolah telah beberapa kali memohon bantuan pembangunan sekolah namun hingga kini belum terlaksana. 

"Tahun 2018 lalu, Dinas Pendidikan Rokan Hulu telah beberapa kali melakukan survei di sekolah kami ini. Namun hingga sekarang belum ada," tuturnya. 

Ia berharap segera ada bantuan pemerintah agar murid-muridnya yang belajar dengan lantai tanah dan bangku serta meja seadanya itu dapat belajar dengan nyaman.

DPRD Rohul Pastikan Dianggarkan 

Ketua DPRD Rokan Hulu, Novliwanda Adiputra memastikan legislatif akan menganggarkan pembangunan gedung sekolah dasar tersebut. 

Politisi Gerindra mengatakan, DPRD sudah mengkonfirmasi terkait adanya kabar sekolah mirip dengan sekolah di film layar lebar Laskar Pelangi.

"Insya Allah 2020 dianggarkan untuk pembangunan ruang kelas baru di sekolah itu," kata Wanda, Jumat, 4 Oktober 2019.

Ia mengakui belum tahu pasti kendala di lapangan selama ini sehingga ruang belajar tersebut tidak memiliki pintu, apalagi jendela.

Bangunan Laskar Pelangi

 

Namun, menurut keterangan dinas sebelumnya, sudah ada bangunan pemerintah di sekolah tersebut, dan diakui dinas tersebut memang masih ada kekurangan lokal. 

"Pemerintah akan mengalokasikan dana pembanguanan di tahun 2020," jelasnya. 

Wanda menceritakan, Kamis, 3 Oktober 2019, anggota DPRD dari daerah pemilihan (Dapil) III Rohul, dapil sekolah itu berada, sudah melaporkan hal serupa. Ia akan melihat lokasi sekolah dalam waktu dekat.

"Kita tunggu. DPRD yang lain saat ini masih sedang penyusunan Alat Kelengkapan Dewan (AKD), sehingga komisi bersangkutan belum terbentuk. Jadi kita tunggu saja," tutupnya.