Kesulitan Jual Hasil Panen, Petani Ikan Datangi Dinas Perikanan Kuansing

Nila.jpg
(KKP RI)

RIAU ONLINE, TELUK KUANTAN-Petani ikan di Desa Jake, Kecamatan Kuantan Tengah mendatangi Dinas Perikanan Kabupaten Kuansing, Jumat, 12 Agustus 2022.


Kedatangan petani kolam ikan menyampaikan keluhan sulitnya menjual hasil panen ikan karena tidak adanya toke yang mau membeli hasil panen ikan kolam mereka.

"Kita minta pemerintah daerah mencarikan solusi terkait persoalan ini," kata Sofyan salah satu petani ikan asal Desa Jake, Jumat kemarin.

Pemerintah harap Sofyan diharapkan mampu mencarikan penampung untuk ikan kolam milik petani yang akan panen. "Kalau sekarang pasaran ikan di pasar tradisional ditempat kita itu sudah mencapai Rp 30-35 ribu perkilogram. Kalau harga jual petani ke toke itu hanya berkisar Rp 20-22 ribu perkilo," kata Sofyan.


Namun sekarang katanya, petani dihadapkan masa sulit karena tidak ada toke yang mau menampung hasil panen ikan kolam milik mereka. "Kalau di pasar harganya memang mahal, tapi hasil panen kita sekarang ini tidak ada toke yang mau menampung," katanya.

Apabila ini terus berlangsung tentunya petani ikan di Kuansing bakal merugi mengingat harga pakan saat ini juga selalu naik. "Harga pakan sudah hampir Rp 400 ribu satu karung, sementara hasil panen tidak ada yang membeli," katanya.

Oleh karena itu dirinya berharap pemerintah melalui Dinas Perikanan Kuansing bisa mencari solusi agar panen ikan milik petani di Kuansing ada yang menampung. "Kalau dibiarkan tentu petani akan semakin merugi," katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Perikanan Kuansing, Agusmandar sebelumnya mengaku sudah ada beberapa alternatif salah satunya dengan membuat ikan salai.

Soal apakah ada penampung untuk ikan salai ini nantinya disampaikan Agusmandar, tentunya untuk saat ini memang tidak ada. "Kalau untuk saat ini memang tidak ada, kalau ikan salai ini kan tahan lama dan harganya lumayan mahal," kata Agusmandar, Sabtu, 13 Agustus 2022.

Agusmandar juga mengakui untuk pemasaran ikan jenis Nila saat ini memang sulit. "Yang sulit pemasarannya sekarang kan ikan Nila, karena pemasaran ikan di daerah kita ini sangat berkaitan dengan ikan di daerah Maninjau Sumatera Barat. Kalau ikan di daerah Maninjau ini melimpah harganya jauh lebih murah dari ikan yang ada di daerah kita," kata Agusmandar.

Biasanya lanjut Agusmandar ikan kolam milik petani di Kuansing ini pembuangannya ke beberapa kabupaten/kota mulai Tembilahan, Indragiri Hulu, dan Dharmasraya Sumbar.

"Masalahnya sekarang kalau diambil pun oleh toke kebanyakan tidak dibayar, mereka ngutang ke petani ikan, dan petani malah tambah merugi," katanya.

 

Solusi dalam waktu dekat ini pihaknya akan segera  mengumpulkan para pedagang ikan yang biasa mengambil ikan milik petani. "Tentu kalau kita kumpulkan kita juga tidak bisa intervensi soal harga, karena nanti ada peran Dinas Perdagangan di sana," katanya.

Namun pihaknya akan coba mencari solusi agar ikan milik petani di Kuansing bisa laku terjual. "Kalau petani ikan menjual hasil panen mereka dengan eceran memang tidak ada untung, apalagi sekarang harga pelet mahal," katanya.