Tiga Politik Dinasti Sukses di Riau, Satu Gagal

deklarasi-kasmarni.jpg
(istimewa)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Politik Dinasti menjadi dilema di budaya politik Indonesia. Hal ini dibuktikan dari masih banyaknya trah politik keluarga di Pilkada serentak kali ini.

Dua calon kepala daerah merupakan istri dari pimpinan daerah sebelumnya. Pertama, ada Kasmarni yang merupakan istri dari Bupati non Aktif Bengkalis yang tengah menjalani kasus korupsi, Amril Mukminin.

Diketahui Kasmarni bersama Bagus Santoso diyakini memenangkan Pilkada Bengkalis. Artinya, Kasmarni akan melanjutkan kepemipinan Amril yang terpilih pada 2016 lalu.

Selain Kasmarni, juga terdapat Rezita Meylani Yopi, istri dari Bupati Indragiri Hulu dua periode, Yopi Arianto.

Dalam proses hitung sementara di website resmi KPU, Rezyta yang berpasangan dengan Junaidi masih bersaing ketat dengan pasangan Rizal Zamzani-Yogi Susilo.

Apabila Rezita menang artinya keluarga Yopie setidaknya akan menjadi tampuk pimpinan pemerintahan Indragiri Hulu setidaknya selama 15 tahun.

Selain pasangan Suami-istri juga terdapat sosok anak yang meneruskan kiprah orangtuanya. Pertama ada Andi Putra, Putra Mahkota trah Sukarmis di Kuansing akhirnya sukses merebut kembali kursi nomor satu di Kuansing setelah sang ayah selesai menghabiskan dua periode jabatan tahun pada 2016 lalu.

Tak seberuntung tiga pewaris tahta sebelumnya, Adi Sukemi yang sempat diyakini akan melanjutkan kepemipinan sang ayah ternyata gagal melakukannya.

Melawan lawan politik sang ayah, Adi Sukemi tak berdaya dan harus puas menempati urutan dua di bawah Zukri Misran.

Pengamat Komunikasi politik, Aidil Haris menyebut faktor keluarga ini mempengaruhi ceruk pemilih para Paslon.

Contoh terkuat adalah Kasmarni yang mewarisi ceruk suara Amril di kecamatan Pinggir mencapai 16.633 suara atau lebih dari 50 persen suara.

Selain faktor suara langsung ini, faktor psikologis dan sosiologis para pemilih juga sangat mungkin dipengaruhi.

"Di Kuansing misalnya, Sukarmis punya modal sosial yang bagus. Ia tidak segan-segan membantu orang. Itu membuat orang melihat Andi Putra dengan lebih baik. Tapi semua ya tergantung garis tangan," ujar Aidil.

Meski demikian, estafet kekuasaan ini juga tetap kembali kepada kemampuan sang Paslon.

Hal ini yang dilihat oleh Aidil Haris terjadi pada Adi Sukemi yang tidak berdaya melawan Zukri Misran, lawan ayahnya pada Pilkada sebelumnya.

"Anaknya Haris yang menjadi estafet kekuasaannya mungkin belum intens kepada konstituennya menyebabkan ia kalah dari Zukri yang sudah jauh hari membentuk komunikasi politik," tutupnya.