Kasus DBD Melonjak di Kuansing Tapi Anggaran Fogging Minim

ILUSTRASI-NYAMUK.jpg
(INTERNET)

Laporan: ROBI SUSANTO

RIAU ONLINE, TELUK KUANTAN - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau tahun 2019 melonjak dibanding tahun 2018 lalu.

Hingga November tahun ini terdapat 114 jumlah kasus DBD di Kuansing. Dibanding tahun lalu jumlah kasus DBD hanya 75 kasus sampai bulan November.

Data Dinas Kesehatan Kuansing terjadi peningkatan kasus DBD tahun ini. Berdasarkan data Januari - Oktober 2019 jumlahnya kasus DBD sebanyak 86 kasus.

Selama November ini terdapat 28 kasus DBD di Kuansing. Paling banyak kasus DBD tersebut ditemukan di Kecamatan Sentajo Raya.

"Sejak memasuki musim pancarobah sejak cuaca hujan dan panas jumlah kasus DBD meningkat," kata Kepala Dinas Kesehatan Kuansing melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Jumardi ketika dihubungi RIAUONLINE.CO.ID, Minggu, 24 November 2019.

Jumardi mengatakan, sebelumnya Diskes Kuansing sudah memberi himbauan kepada masyarakat untuk waspada akan pergantian musim. Masyarakat sudah dihimbau untuk melakukan kegiatan membersihkan lingkungan terutama dilingkungan sekitar tempat tinggal.

Terutama melakukan pemberantasan terhadap tempat bersarangnya dan bertelurnya nyamuk dengan gerakan 3M PLus. Gerakan ini menurut Jumardi lebih ampuh dibanding fogging. Dengan syarat gerakan ini dilakukan secara rutin oleh masyarakat.

Menurut Jumardi, fogging hanya untuk membunuh nyamuk dewasa tapi tidak bisa membunuh jentik maupun memusnahkan telur nyamuk serta sarang nyamuk.

Jumardi menjelaskan, selama telur nyamuk saat musim kemarau itu mengendap di tempat penampungan air yang sudah kering. Saat tiba musim hujan telur nyamuk yang mengendap di sejumlah wadah penampungan tadi akan menetas dengan sendirinya.

"Kalau sudah menetas itu bisa mencapai ribuan, dan nyamuk ini akan berkembang biak menjadi nyamuk dewasa," terangnya.

Sebelum telur-telur ini menetas maka penting menggalakan kegiatan 3M yakni menguras dan membersihkan tempat penampungan air.

Kemudian menutup tempat penampungan air yang ada disekitar rumah, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Sedangkan, 'Plus' adalah mencegah perkembangbiakan nyamuk dengan memelihara ikan pemakan jentik, memasang kasa, mengatur ventilasi, serta pencahayaan di dalam ruangan.

Menurut Jumardi selama ini Diskes sudah proaktif dan sudah melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat supaya giat membersihkan lingkungan dan menggalakan program 3M Plus untuk mencegah terkena DBD.

"Selain penyuluhan upaya fogging juga sudah dilakukan. Cuma masyarakat kadang sering tidak melakukan kegiatan 3M ini. Bahkan desa yang kena itu-itu setiap tahunnya," katanya.

Sekarang jumlah paling banyak kasus DBD itu berada di Kecamatan Sentajo Raya. "Peningkatan kasus terjadi di Kecamatan Sentajo Raya, desanya beragam, itu sudah kita fogging," katanya.

Dari keterangan Diskes Kuansing ternyata anggaran untuk kegiatan fogging ini minim dianggarkan dalam APBD Kuansing.

"Yang didanai hanya untuk 55 kasus saja, sekarang jumlah kasus sudah lebih dari 100 kasus," ujar Jumardi.

Kegiatan fogging ini jelasnya dilakukan dua kali setiap ditemukan ada kasus DBD. Fogging pertama itu untuk siklus terjangkit DBD dan satu minggu setelah itu kembali dilakukan fogging.

Selain minim anggaran untuk kegiatan fogging, peralatan fogging ini ternyata juga masih minim di Kabupaten Kuansing.

Jumardi mengatakan, untuk peralatan fogging selain dimiliki Dinas juga sudah dimiliki beberapa Puskesmas di Kuansing diantaranya Puskesmas Lubuk Jambi, Baserah dan Sungai Buluh.

"Ketiga alat fogging milik Puskesmas semuanya sudah rusak, yang bagus tinggal di Dinas," pungkasnya.

Padahal alat fogging ini harganya berkisar antara Rp25 juta tapi masih minim di Kabupaten Kuansing. "Harganya kalau di katalog itu satu unit Rp25 juta," katanya.