Punya Segudang Prestasi, Gadis Cilik Penyintas Kanker Hadir di ROL Cast

Hanifah-Nurliana4.jpg
(RAHMADI DWI/Riau Online)

RIAUONLINE, PEKANBARU- Gadis cilik bergaun putih datang ke Kantor Riau Online, Selasa (22/12). Ia tampak begitu ceria dan menyebar senyuman. Apalagi ia datang bersama kedua orangtua tercinta.

 

Namanya Hanifah Nurliana. Keceriaan di wajahnya tak lepas dari peran kedua orangtua. Bersama ibunya, Ratna Dewi Syarif, Hani memulai obrolan di ruang ROL cast pagi itu.

 

Gadis cilik berusia sembilan tahun ini masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Ia bercerita mendapat juara kelas saat terima raport semester kemarin.

 

 

"Kemarin juara dua, dapat hadiah mainan dari ibu," ucapnya ceria.

 

Tak hanya berprestasi di sekolah, beberapa kali Hani  memenangkan lomba melukis. Ia juga sering diundang menyanyi berkat memiliki suara yang bagus.

 

Meskipun begitu, siapa sangka Hani kecil pernah melewati masa sulit dalam hidupnya. Kanker ganas retinoblastoma membuat mata kiri Hani harus diangkat.

 

Retinoblastoma merupakan suatu kanker mata yang dimulai di bagian belakang mata (retina). Kanker ini sering terjadi pada anak-anak. Bisa terjadi pada salah satu atau kedua mata.

 

Empat tahun lalu, saat usianya masih lima tahun, Hani kecil tengah bermain bersama para kakak di rumah. Kakaknya melihat ada yang aneh pada mata Hani. Retina mata kirinya bergeser.

 

"Kejadiannya sekitar satu sampai dua menit. Saat itu Hani masih belajar di play group," ungkap ibu Hani.

 

Dewi mengira itu hanya kejadian sementara. Namun keesokan harinya, kembali terjadi. Ia kemudian memutuskan memeriksakan kondisi Hani.

 

Mata Dewi berbinar kala ia mengenang kembali masa lalu. Pada awal Januari 2017, Hani dibawa ke rumah sakit mata. Kala itu dokter menyatakan Hani terkena glaukoma karena tekanan bola matanya tinggi.

 

Proses pengobatan pun dilakukan. Selama sebulan tidak melihat adanya perubahan. Malahan Hani mulai merasakan sakit di sekitar matanya.

 

"Hampir setiap hari rasa sakitnya kambuh. Bisa sampai berjam-jam. Usai makan obat pereda baru hilang rasa sakitnya sementara," kenang Dewi.

 

Hani lalu dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Dokter mendiagnosanya masih glaukoma dan pendarahan di dalam retina.

 

Setelah tiga bulan juga tidak ada tanda membaik, dokter sudah mulai curiga karena pada retinanya mulai tampak perubahan. Retinanya terlihat seperti mata kucing. Akhirnya dokter mendiagnosa jika ada tumor atau kanker di mata Hani.

 

"Saat itu mata sebelah kirinya sama sekali sudah tidak bisa melihat. Saat itu saya tidak bisa ngomong lagi, hanya air mata keluar," kata Dewi sambil mengusap matanya.

 

Hani dirujuk ke rumah sakit yang di luar kota Pekanbaru. Dii Padang, ia diperiksa lagi oleh dokter spesialis anak, spesialis dokter mata, tumor dan kanker. Setelah proses pemeriksaan yang tidak sedikit, barulah dinyatakan positif retinoblastoma.

 

"Rasanya saat dinyatakan positif saat itu tidak bisa dibayangkan," ujar Dewi.

 

Setelah dinyatakan positif, dokter mengatkan jalan satu-satunya adalah mengikhlaskan mata Hani. Itu adalah jalan terbaik, dokter katakan, retinoblastoma itu ganas dan bisa menyebar ke sel syaraf yang lain.

 

"Delapan bulan sudah menonjol matanya. Bisa memengaruhi mata yang sebelahnya juga, apalagi dekat dengan otak juga. Ditakutkan sel kanker menyenar ke mana-mana,"

 

Usai proses pengangkatan bola mata, Hani masih harus melewati masa perawatan. Ia juga harus kemoterapi selama delapan bulan lamanya.

 

Di masa itu, Dewi selalu semangat untuk terus mendampingi putrinya. "Setiap anak penderita kanker pasti punya harapan. Harapan untuk hidup, untuk, sekolah dan sebagainya. Daya ingin anak saya bisa mengalahkan keganasan kanker itu," katanya.

 

 

 

Dengan semangat dan harapan itu, Hani malah tumbuh menjadi anak ceria. Tak ada tangis, yang ada hanya prestasi. Terbukti Hani semangat melewati itu semua.