Enam Alat Berat di TPA Muara Fajar Rusak, Pengelolaan Sampah Terganggu

agus-dlhk.jpg
(istimewa)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Sejumlah alat berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar mengalami kerusakan. Hal ini berdampak pada proses pengelolaan sampah di TPA.

Ada delapan alat berat di kawasan TPA. Semuanya telah beroperasi sejak tahun 2012. Enam di antaranya kini rusak parah. Kondisi alat berat tidak bisa mendukung proses pengelolaan sampah.

Dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, Agus Pramono, enam alat berat itu sudah sering diperbaiki hingga akhirnya tidak berfungsi lagi.

"Selama enam bulan hidup mati terus. Kini mati total karena rusak parah," terangnya, kepada Riau Online, Senin 21 Desember 2020.

Saat ini, hanya dua alat berat yang masih berfungsi yakni satu unit ekskavator dan dozer. Namun dua alat berat ini tidak ideal untuk mengelola sampah yang kian menumpuk di TPA Muara Fajar.

Menurut perhitungan Agus, seharusnya ada delapan unit alat berat beroperasi di sana. Empat unit ekskavator untuk mengeruk sampah yang diangkut dari seluruh kecamatan. Empat unit dozer untuk mendorong dan meratakan tumpukan sampah.

"Idealnya ada empat ekskavator dan empat dozer beroperasi di TPA. Tiap hari ada 700 sampai 800 ton sampah yang diangkat TPA," terangnya.

Agus mengaku bahwa kekurangan alat berat di TPA Muara Fajar berdampak pada antrian pembuangan sampah di TPA. Proses pengangkutan sampah dari truk ke TPA harus bergantian.

Mengatasi hal ini, pihaknya berupaya menyewa dua alat berat untuk mencegah penumpukan sampah di pintu masuk TPA. Mereka menyewa satu unit ekskavator dan satu unit dozer.

"Kita rental juga dua alat berat. Kalau dua alat berat kita rusak lagi, ya kita perbaiki," ujarnya.

Agus tak menampik adanya keluhan dari masyarakat. Mereka mengeluhkan penjemputan sampah sekali tiga hari.

"Walaupun kadang tertunda, penjemputan sampah di rumah-rumah masyarakat masih lancar," ucapnya.

Ada dua truk sampah dari dua pengelola angkutan yakni PT Samhana Indah dan PT Godang Tua Jaya tetap mengambil sampah setiap hari.

Mereka terpaksa menampung sampahnya di depot sementara milik pengelola angkutan tersebut. Truk tersebut mengangkut sampah ke TPA hanya sekali tiga hari.

"Kalau mengangkut dari masyarakat ya setiap hari. Kalau ke TPA terpaksa sementara sekali tiga hari, agar tidak menumpuk saat diangkut," katanya.

Pihaknya sudah menganggarkan untuk pengadaan alat berat tahun 2021. Mereka baru bisa menggarkan dua alat berat saja untuk tahun depan.

"Jadi nantinya, proses pengangkutan sampah ke TPA tidak antri lagi atau menumpuk di depot pembuangan sementara," pungkasnya.