Innalilahi, Wartawan Senior Riau, Haidir Anwar Tanjung Meninggal Dunia

Haidir-Anwar-Tanjung.jpg
(istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Innalilahi wa innailaihi raji'un, kabar duka mengejutkan datang dari salah seorang wartawan senior detik.com daerah Riau, Haidir Anwar Tanjung. 

Haidir diketahui meninggal dunia setelah mendapat serangan jantung sekitar pukul 22.00, Kamis malam, 19 November 2020. Sempat dilarikan ke Rumah Sakit Eka Hospital dan mendapat perawatan ternyata ia tidak bisa terselamatkan, Sosok ramah itupun berpulang menghadap sang pencipta. 

 

 

 

Kabar ini sontak mengagetkan banyak pihak karena sebelumnya Haidir terlihat bugar dan masih melakukan liputan, bahkan beberapa waktu sebelumnya ia sempat melakukan liputan terkait Pilkada ke suku Akit di Pelalawan. 

 

"Kami ikut berduka mendalam, Semoga almarhum Husnul khatimah. Beliau ada meliput soal sosialisasi kpu ke suku akit," ujar Komisioner KPU, Nugroho Notosusanto seakan tidak percaya. 

 

Sosoknya selama ini dikenal sebagai wartawan yang cakap, wawasannya luas dan tulisannya pun kian ciamik. bahkan buku yang ditulisnya Bonita: Hikayat Sang Raja menarik perhatian menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. 

 

Di kalangan para sejawatnya ia dikenal lebih dari sekadar sosok wartawan yang cakap. Lebih dari itu, ia merupakan sosok panutan. Tidak jarang ia memberi masukan dan arahan bagi para wartawan muda. 

 

Begitulah sosoknya, ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan, kehadirannya saja seakan membawa aura positif di lingkungan sekitarnya. 

 

"Kaget awak mendengar kabar bang Haidir wartawan Detik.com Riau wafat. Sosok yang selalu menyapa menyapa melalui senyum. Baru malam kemarin membicarakan sosok beliau dengan rekan senior. Allah memiliki rencana sendiri. RIP bang Haidir," kenang wartawan Gatra, Febri Kurnia di kiriman WhatsAppnya

 

Pagi ini, Jumat, 20 November 2020 di kediaman beliau terlihat ramai para pelayat yang ingin melihat dan memberi penghormatan terakhir kepada Haidir. Mulai dari wartawan, hingga pejabat publik Bergantian keluar masuk, terlihat mata para hadirin berkaca-kaca dan tidak sedikit yang tak kuasa menahan tangis. 

 

Namun cerita sedih kepergiannya lekas digantikan dengan cerita-cerita inspiratif dari sosok Beliau. Riuh rendah para hadirin ini bercerita tentang kenangan dan kebanggan dapat bertemu bahkan berguru dengannya. 

 

Beberapa wartawan pun berencana menuliskan memoar tentang beliau sebagai kenangan akan sosok yang begitu menginspirasi ini. 

 

 

Haidir Tanjung telah berpulang, tapi sosoknya akan selalu hidup dalam tulisan. Bersemi dalam ingatan. Sebagai wartawan, sebagai handai taulan, kami ucapkan selamat jalan panutan.