Pertama di Pekanbaru, Tukar Sampah Jadi Uang Lewat Aplikasi Online

TDB.jpg
(Laras Olivia/Riau Online)

RIAUONLINE, PEKANBARU- Sampah menumpuk memang sangat mengganggu. Apalagi bisa merusak lingkungan dan mendatangkan penyakit bila menumpuk terlalu lama.

 

Siapa sangka kini sampah bisa menjadi berguna. Sampah-sampah bisa ditukar menjadi uang tunai, saldo dan bahkan bisa membayar token listrik.

 

Di Pekanbaru, ada sebuah perusahaan bergerak di bidang pengumpulan sampah, yaitu Tuan Di Banggarna (TDB). Mereka mengumpulkan sampah secara kolektif.

 

 

 

Salah satu anak perusahaan TDB adalah Pemulung Online atau Pemol. Satu-satunya Bank Sampah berbasis digitalisasi di Pekanbaru.

 

Berbeda dengan TDB yang menjemput sampah di perusahaan atau sekolah, Pemol justru menjemput sampah dari user (pengguna aplikasi) langsung.

 

CMO Pemol, Yohana Agustina menuturkan, user bisa mengumpulkan sampah dan disetorkan melalui aplikasi. Sampah yang sudah difoto akan dijemput oleh driver, sesuai permintaan si pengguna aplikasi.

 

"Penukaran sampah dapat berupa saldo. Selanjutnya bisa ditukarkan jadi pulsa, token listrik, pembayaran BPJS atau dijadikan uang tunai," terangnya saat diundang dalam ROL Cast, Selasa 17 November 2020.

 

Menurut Yohana, saat ini penjemputan sampah daur ulang masih gratis. Mereka bisa menjemput ke rumah user hingga jarak 5 Km dari titik nol Kota Pekanbaru.

 

"Untuk jarak penjemputan, seluruh Pekanbaru kami cover, bisa jemput sampai ke daerah Kubang," jelasnya.

 

Mekanisme penjemputan sampah, calon nasabah melakukan order di aplikasi Pemol App, ada tahapan pemilihan sebelum sampah dijemput. Selanjutnya sampah difoto, memilih alamat dan langsung order.

 

"Minimal sampah yang dijemput seberat 5 Kg. Jika calon nasabah belum memiliki sampah mencapai 5 Kg, bisa langsung datang ke drop-point Pemol di Jalan Bakti, Marpoyan Damai," ucap Yohana.

 

Saat ini Pemol hanya menjemput sampah anorganik. Mereka menjemput sampah berbahan kertas, kardus, plastik dan elektronik.

 

Pemol mematok harga tak jauh berbeda dengan pemulung lainnya. Yohana menyebut, hal ini demi mempertahankan usaha pemulung yang tidak berbasis digitalisasi.

 

"Untuk botol plastik dihargai Rp 2 ribu per kilogram. Kalau kaleng minuman bisa mencapai Rp 8 ribu," kata Yohana.

 

Dia menambahkan, uang dari penukaran sampah bisa langsung diterima user atau nadabah saat di lokasi. Uang juga bisa ditabung di aplikasi. Nantinya bisa ditukarkan menjadi saldo lainnya.

 

 

"Saldo juga bisa ditukarkan jadi uang tunai lewat drivet saat melakukan penjemputan sampah," pangkasnya.