Warga Kesal, Pembangunan Jalan dan Jembatan Sei Kepojan Tak Kunjung Rampung

aksi-spntan.jpg
(riski)

RIAU ONLINE, PELALAWAN - Puluhan warga Dusun Sungai Medang, Kelurahan Bunut, Kacamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, melakukan aksi spontanitas kepada pengawas PT. Mitra Wira Jaya (MWJ), pada Ahad, 8 Desember 2020 Sore.

Dengan melewati 1 Km perjalanan, aksi spontan yang dilakukan warga didampingi RT/RW setempat, itu menyusul lemahnya pengawasan kerja dilakukan pihak PT. MWJ maupun dinas terkait soal pelaksanaan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan paket 4 (empat) pembangunan jembatan sei kepojan (pembangunan jembatan-jembatan ginder) di pemukiman padat penduduk tersebut.

Pasalnya, progres kegiatan yang sudah memasuki tahapan pemasangan paku bumi jembatan ginder itu, masyarakat mengeluh karena sudah lebih kurang satu minggu tidak bisa melewati akses jalan alternatif (darurat) untuk kegiatan sehari-hari.

"Yang kita keluhkan di sini ada 80 kepala keluarga atau dua ratus lebih jiwa yang tidak bisa melakukan kegiatan. Inikan proyek besar sudah lama belum ada solusi," ungkap Jul, (54) warga dusun Sei Medang didampingi puluhan warga saat aksi.

Belum lagi, tambahnya, pada hari ini (Ahad-red) pasar satu-satunya di daerah Kelurahan Bunut, membuat warga harus berjalan kaki, walaupun dipaksakan sepeda motor banyak yang macet di jalanan, belum lagi ada warga yang ingin mengangkut hasil panen terhambat.
Mirisnya lagi kata dia, katanya ada warga baru melahirkan tidak bisa pulang, terpaksa menginap di rumah warga terdekat.

"Kami semua warga dengan RT/RW di sini minta solusi cepat dari kontraktor pelaksana agar menyelesaikan cepat kegiatan ini, terutama akses menuju kerumah kami. Orang proyek sebesar ini di percaya pemerintah untuk menyelesaikan secepatnya, ini malah menyengsarakan masyarakat," bebernya, didampingi RT Muhammad Jali, dan RW Ujang.

Pantauan di lapangan, aksi berlangsung kondusif dengan suasana hari mulai senja itu.
pengawas lapangan yang mewakili PT. MWJ, Rahman, saat dikonfirmasi RiauOnline.co.id, soal tuntutan masyarakat, mengatakan akan menunggu perintah atasannya sebagai kepala kontraktor yang bertanggung jawab dalam semua kegitan tersebut.

"Solusi itulah, disuruh tunggu sama bos tadi," singkat Rahman, seraya menghubungi atasannya untuk menjawab tuntutan RT/RW dan warga.

Usai mendapatkan jawaban, warga Dusun Sei Medang mulai membubarkan diri, dan berharap janji pihak kontaktor terlaksana. Jika tidak, warga akan melaksanakan aksi lebih besar dari spontanitas yang dilakukan saat itu.

"Kata atasannya tadi selasa ini sore akan dicari solusi, tentu harapan tuntutan kami ini bisa selesai, jika tidak selesai nanti kami akan buat aksi yang lebih besar lagi," tegas RW Ujang, didampingi RT dan puluhan warga lainnya saat saat bubar.