Pandemi Covid-19 Hantam UMKM Keripik Nenas di Kampar

kripik-nenas.jpg
(muthi)

RIAU ONLINE, KAMPAR – Namanya Sampurna, pemilik kedai keripik nenas dengan nama kedai serupa namanya. Kedai keripik nenas milik Sampurna tampak sepi. Tidak ada pembeli, hanya ada dua anaknya yang sibuk berkejar-kejaran sana sini.

Etalase yang biasanya dipenuhi keripik nenas dan nangka hasil olahannya, tampak kosong. Hanya ada beberapa keripik yang berada di dalam etalase dan itupun sisa produksi enam bulan lalu.

“Yang di etalase itu udah lama, kita pajang buat narik pembeli. Yang dijual yang baru di atas etalase dalam baskom ini,” katanya dengan mata sendu kepada RIAUONLINE.CO.ID, Sabtu, 24 Oktober 2020.

Lelaki paruh baya memakai baju kaus oren itu tampak meghela nafas, lalu kemudian duduk dibangku kayu dekat etalase keripiknya. Sam bercerita, semenjak pandemi, omset semakin menurun. Dulu sebelum pandemi, sehari bisa produksi sampai 20 kg keripik. Dalam sebulan bisa menghasilkan 700 kg keripik yang terjual.

Sam berujar, semenjak pandemi, permintaan pesanan sudah tidak ada. Padahal sebelum pandemi, permintaan pesanan bisa sampai ke Jawa dan Kalimantan. Sebelum pandemi juga, Sam bekerja sama dengan berbagai mini market dan toko dipasar untuk menjualkan keripik olahannya.

“Pas pandemi, produksi susah. Emang sepi total. Jual beli dikedai juga susah. Pengiriman nggak ada. Sekilo kadang nggak habis. Jual beli memang merosot,” ujarnya.

Sam memperkirakan kemerosotan penjualan sejak pandemi sekitar 90 persen. Untuk keripik nenas sendiri dibandrol dengan harga bervariasi mulai dari Rp 10 ribu.

“Kalau kemasan ukuran kecil Rp 10 ribu. Makin besar ukuran kemasan, tentu saja makin mahal,” ujar Sam.

***

Keripik nenas sendiri menjadi penganan khas Riau. Awal keripik nenas ini hadir di Riau pada tahun 2001, Sam sendiri baru mulai merintis di tahun 2008 dengan modal awal 45 juta.

“Alat satu dulu awalnya, habis 33 juta, sisanya untuk modal-modal buat rak-rak, kemasan, bahan baku, walaupun istilahnya bahan baku dari kebun sendiri, tapi kan patokan harganya ada.”

Lelaki berkumis itu berujar, alasan dirinya memulai berbisnis keripik nenas ini karena ia juga merupakan petani nenas. Nenas kecil yang tidak dikirim, Sam olah menjadi keripik.

“Daripada mubazir yang kecil dibuang, jadinya dibikin keripik,” kata Sam. Selain keripik nenas, Sam juga memproduksi keripik nangka.

Untuk Nangka sendiri, ia membeli dari petani.

Hingga kini, alat pembuatan keripik yang awalnya satu senilai 33 juta itu, kini sudah ada dua. Untuk karyawanpun, disaat sebelum pandemi, Sam bisa memperkerjakan dua hingga tiga orang tergantung banyaknya permintaan.

“Karyawan lepas, bukan tetap. Apalagi semenjak pandemi udah nggak ada pesanan,” katanya sedih.

Sam berharap, semoga kedepannya perekonomian kembali stabil dan pandemi berakhir. “Kita kan pengen berkembang lagi. Tapi kalau kaya gini kan gimana. Semunya serba merosot,” tutupnya.