Dua Tahun Proyek SPALD Ancam Keselamatan Pengguna Jalan

spald.jpg
(olivia)

Laporan: Laras Olivia

RIAUONLINE, PEKANBARU - Dalam sepekan ni, Pekanbaru diguyur hujan. Jalanan berlubang menampung air sehingga membuat genangan air di mana-mana.

Belakangan ini masyarakat diresahkan dengan adanya proyek galian Sistem Pembuangan Air Limbah Domestik (SPALD) yang tak kunjung usai.

Pasalnya proyek berlangsung sejak 2019 itu hingga kini belum juga selesai. Ini menjadi cecaran masyarakat, dikarenakan tanda-tanda pengaspalan jalan masih minim.

Tak hanya itu, jagat maya pun dihebohkan karena lubang menganga di Jalan Pepaya tampak dibiarkan. Kondisi itu sempat viral pada dua hari terakhir.

Masyarakat menanam pohon di area jalan berlubang itu yang sebelumnya juga ada kibaran bendera kain putih.

Pantauan Riau Online di lapangan pada Senin (21/9) terlihat lubang telah ditutup. Namun, masyarakat sekitar, Ranu menyebut, meski ditutup tak berapa lama lubang akan timbul lagi.

"Kepada pemerintah atau instansi terkait agar memperhatikan pembangunan yang digarap," ucap Ranu, Senin 21 September 2020.

Sementara itu, disekitar Jalan Pepaya-Jalan Durian pun kerap terjadi laka tunggal.
Informasi tersebut tentunya didapat dari warga dan masyarakat sekitar.

"Sering ada orang jatuh karena banyak pasir. Seringnya orang tua, sampai berdarah-darah. Untung ga tabrakan. Satu lagi di dekat tempat jualan malam sekitar jalan pepaya pun orang sering jatuh di sana," ungkap penjual minuman, Ayu Endang.

Ia yang ditemani suaminya berjualan berharap agar proyek diselesaikan satu persatu baru berpindah tempat. "Begitu selesai satu, diaspal. Baru pindah tempat," katanya yang sudah berjualan sebelum bulan puasa lalu.

Ia juga keluhkan debu dari jalanan saat musim panas. Saat hujan tiba, genangan air juga cukup banyak di sekitar proyek galian SPALD . Hal itu mengganggu waktu berjualannya.

Pengamat Perkotaan Kota Pekanbaru, Mardianto Manan kepada Riau Online menyebutkan, pembangunan itu gagal karena tidak sesuai dengan filosofi pembangunan.

"Artinya, pembangunan diciptakan untuk merubah, membangun, membuat dari yang buruk menjadi bagus dan elok. Saya lihat seperti SPALD ini proyek siluman. Ntah apa yang dibangun di bawahnya," ucap Manan.

Katanya, jika didapati pembangunan yang merusak dan menghancurkan ataupun dapat membuat masyarakat tergelincir karena proyek itu, maka pembangunan belum tersentuh.

"Jika SPALD itu membuat jalan licin, menggangu lalu lintas, maka secara hakiki SPALD itu dalam konteks pembangunan gagal. Dinas terkait khususnya PUPR harus mampu menyelesaikan masalah ini," katanya.

Manan pun tak menampik keterangan masyarakat yang disebut di atas. Seyogyanya jika orang menggali jalan, maka minimal harus dikembalikan seperti dulu.

"Konsep membangun itu dikembalikan seperti semula, diaspal lagi. Ini dari dulu masalah nya itu aja, harusnya dievaluasi," ujarnya.

Manan menyarankan agar pihak PU harusnya lebih bisa memahami keluhan dari masyarakat. Selanjutnya, membuat rambu-rambu lalu lintas yang memadai sebagai penanda di jalan sekitar proyek galian.