Koleksi Galeri Batik Tabir Riau Rani Pilihan Mufidah Kalla hingga Putri Indonesia

Galeri-Batik-Tabir-Rani2.jpg
(instagram Rani Batik)

Laporan : Hidayatul Fitri

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Rani, sosok yang ramah dan terekesan berwibawa merupakan seorang pengusaha batik khas Riau. Ia memilik dua toko yaitu di Jalan Hangtuah No. 70 B, Pekanbaru dan Jalan Jendral Sudirman No. 171, Pekanbaru, Riau.

Rani semangat membangun usah batik karena ia mencintai batik. Ia memiliki hobi membatik dan sudah dilibatkan dengan usaha batik keluarga sejak kecil.

“Batik sudah mendarah daging bagi saya,” tegasnya.

Awalnya ia memiliki usaha keluarga berupa batik jawa. Saat pemerintah era Gubernur Rusli Zainal batik Riau mulai dikembangkan sehingga memacu Rani untuk turut berpartisipasi dalam proses mengembangkan batik Riau.

“Ibu Septina sebagai istri Gubernur pada saat itu menunjuk saya secara langsung untuk memproduksi batik Riau,” ujarnya.

Septina turut membantu mengenalkan berbagai motif khas Riau kepada Rani. Selain itu, pemerintah juga semangat mempromosikan eksistensi batik Riau.

Sejak tahun 2005 Rani mantap menjadikan toko usahanya sebagai galeri khusus batik Riau. Rani mempekerjakan 7 karyawan untuk operasi 2 toko miliknya.

Motif yang digunakan asli mengikuti motif Melayu Riau yang sudah tersedia, tetapi disain ia buat sendiri. Motif dan disain yang digunakan sangat beragam. Satu motif dapat ia sulap menjadi bermacam-macam disain sesuai kreatifitas dan inovasi yang ia inginkan.

“Motif yang saya gunakan sangat banyak, begitu pula dengan disain sudah mencapai ratusan disain,” kata Rani.

Rani lebih fokus dalam penjualan bahan kain batik Riau. Namun, jika ada yang memesan dalam skala besar dalam bentuk baju ia akan bekerjasama dengan penjahit.

Lokasi produksi batik masih berada di pulau Jawa. Ini disebabkan dengan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Riau untuk pembuatan batik. Rani tidak menjual batik print, ia hanya menjual batik yang terdapat penggunaan lilin dalam prosesnya.

“Kalau produksi batiknya disini saat ini malah lebih mahal biayanya karena saya harus membawa orang yang ahli membatik ke sini,” katanya.

Selain itu, bahan baku yang tidak tersedia di Riau menjadi alasan Rani belum bisa memiliki rumah produksi batik di Riau. Menurut Rani secara harga akan lebih rasional jika lokasi produksi di Jawa.

“Kalau pun bahan bakunya ada di sini harganya sangat mahal, sedangkan saya memproduksi dalam skala besar,” ujarnya.

Meski produksi batik Riau Rani dilakukan di Jawa tetapi ia tidak menjualnya selain di toko yang ia miliki. Ia ingin batik Riau yang ia produksi menjadi karya ekslusif khusus Riau.

Ia mengaku disain batik Riau karyanya sering ditiru atau dijiplak oknum tertentu. Disain miliknya sempat dijadikan kain textil dengan jumlah besar di sebuah toko. Namun, ia menganggap hal tersebut menjadi motivasi untuk lebih berkreasi membuat karya disain baru.

“Disain saya yang ditiru tidak saya produksi lagi. Saya produksi disain yang baru lagi,” ucapnya.

Harga batik Riau di toko Rani sangat bervariasi mulai dari Rp 175 ribu hingga Rp 6,5 juta sesuai dengan kualitas. Baginya kualitas produk adalah hal utama yang harus dijaga.

Potensi batik Riau menurut Rani masih sulit untuk bersaing dengan batik khas Jawa yang sudah terlebih dahulu dikenal Nusantara. Namun, jika pengusaha batik Riau bekerjasama dengan pemerintah secara serius Rani yakin batik Riau mampu bersaing secara nasional.

“Sebenarnya jika saya jual batik Riau di Jawa saya berani bersaing dari segi harga, hanya saja tetap perlu dukungan dari pemerintah untuk mengenalkan batik Riau kepada masyarakat di Indonesia,” ujar Rani.

Awal mula mengenalkan batik Riau kepada masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi Galeri Tabir Batik Riau Rani. Untuk masyarakat luas bisa mengenal batik Riau melalui proses dan waktu yang panjang.

Toko Batik Rani kerap dikunjungi tamu pemerintah Provinsi Riau. Istri Wakil Presiden era Yusuf Kala secara langsung berkunjung ke Galeri Batik Tabir Riau Rani untuk berbelanja kain batik khas Riau.

“Karya saya sudah banyak dikenakan para pejabat negara seperti Kapolda, DPR RI, Kapolri hingga Menteri. Selain itu, batik Rani juga sering digunakan oleh Putri Indonesia sejak tahun 2015 hingga saat ini,” ungkapnya.

Perusahaan BUMN dan Swasta juga sering memesan kain batik Riau dari toko yang Rani miliki. Pesanan biasanya dalam skala besar untuk dikenakan oleh para pegawai perusahaan.

Harapan Rani pemerintah lebih memperhatikan batik Riau sebagai kearifan lokal untuk dipromosikan ke masyarakat dan lebih mengangkat produk lokal khas Riau serta diarahkan untuk berbelanja.

Jika ingin memesan di toko Rani bisa langsung dicari tahu melalui Instagram @rani_batik.