Jangan Lewatkan Rahasia Bertani Melon di ROL Cast Pukul 11.00 WIB

Suprianto-dan-melon.jpg
(Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Anak muda saat ini sudah malas bertani. Padalah bertani menjanjikan penghasilan yang tidak sedikit.

Suprianto menunjukkan bahwa bertani bukan pekerjaan kelas dua. Buktinya, dia mampu meraup Rp 80 juta per 60 hari atau mengahasilkan Rp 40 Per Bulan dari melon.

Besaran penghasilan itu bahkan setara gaji seorang manager. Masih mau angap remeh profesi petani?

Suprianto, yang akrab dipanggil Anto mulai bercocok tanam sejak tahun 2000. Sebelumnya ia menanam berbagai macam sayuran hortikultura seperti bayam, kangkung, selada dan lain sebagainya.

Pada tahun 2005 ia mencoba membudidayakan cabai, akan tetapi karena kurangnya ilmu ia mengalami kerugian dan akhirnya beralih ke tanaman melon.

Sebelum teknologi informasi secanggih saat ini, Anto biasanya belajar dan mencari informasi seputar budidaya melon dengan menumpang membaca majalah pertanian di toko buku.

“Saya tidak tahu ilmu atau teori yang tepat untuk budidaya melon, tetapi dulu belum ada google. Sehingga hampir setiap hari minggu saya luangkan waktu untuk numpang baca buku di Gramedia karena kalau mau beli bukunya kan mahal dan banyak,” cerita Suprianto.

Agar lebih memahami cara bertani Melon yang baik, Riau Online Podcast (ROL Cast) akan berbincang dengan Anto. 

ROL Cast akan mengupas cari bertani yang baik sehingga mampu menghasilkan melon yang baik sehingga menghasilkan pundi-pundi rupiha.

Ada satu rahasia yang juga akan dia bagikan kepada Sobat Riau Online tentang pertanian organik.

Sejak tahun 2018 Anto mulai berkomitmen untuk menjalankan pertanian organik. Dahulu ia mengandalkan berbagai macam bahan kimia sebagai pupuk dan pestisida.

Alasan utamanya untuk kesehatan, menjaga keseimbangan ekosistem, menjaga kualitas kesuburan tanah dan biaya yang lebih irit.

Pupuk kimia yang digunakan terus-menerus akan membuat tanah menjadib keras. Pupuk organik cenderung memperkaya biota (makluk kecil) tanah.

Pestisida kimia akan mempengaruhi kesehatan konsumen dan merusak keseimbangan ekosistem karena pestisida kimia cenderung memberantas populasi hama. Pestisida organik cenderung mengusir dan mengurangi intensitas penyerangan.

Hasil panen melon biasanya dipasarkan ke para pengepul di pekanbaru, padang, medan dan batam. Saat ini ia sudah bekerjasama dengan Indomaret. Jenis Melon yang dibudidayakan yaitu melon putih (sky), kuning (rock) dan golden (kinanty).

Melon putih dan kuning memiliki harga Rp 4.500 – 6.500. Melon golden Rp 10.000 - 12.000. Produksi melon yang dihasilkan sekitar 16 ton per hektar.

“Jika saya tanam setengah hektar melon golden saja, saya bisa menghasilkan 8 ton maka penghasilan yang didapat sekitar Rp 80 juta,” ungkap Anton.

 Harapannya ia ingin memiliki lahan sendiri karena saat ini hanya menumpang dan sewa lahan sehingga ia bebas bisa terus menjalankan pekerjaannya sebagai seorang petani.

Selain itu, ia juga berharap pemerintah untuk lebih peka kepada petani.

Ia ingin ada sosialisasi, pelatihan dan bantuan untuk para petani konvensional agar pertanian di Indonesia bisa maju mengikuti perkembangan zaman.

 

“Selagi dunia ini belum berakhir maka manusia masih butuh makan, mungkin saat ini banyak generasi muda yang memandang sebelah mata pertanian, tapi nyatanya jika tidak ada pertanian tidak ada kehidupan,” ujarnya. Ia menganggap petani adalah profesi yang mulia sehingga ia bangga menjadi seorang petani.