Pedagang Kuliner Bunker Ogah Pindah ke Labuay: Rawan Pencurian dan Pemalak

Bunderan-Keris2.jpg
(istimewa)

Laporan: Laras Olivia

RIAU ONLINE, PEKANBARU-

Pemerintah Kota Pekanbaru sudah merencanakan wisata kuliner malam dekat Bundaran Keris bakal ditutup tanggal 6 September.

Ini tentu saja menjadi perbincangan berbagai pihak. Baik pedagang maupun pengunjung yang sering nongkrong di sana.

"Saya senang nongkrong di sini karena ramai anak muda, disayangkan yaa kalau mau ditutup, tempatnya sudah ramai dan hidup, kalau misalkan memang dipindah sepertinya gak bakal sehidup ini lagi," ujar Sigit, salah satu pengunjung kepada Riau Online, Rabu 2 Agustus 2020.

Dari keterangan pedagang, mereka dikumpulkan untuk melakukan pendataan. Mereka dicatat nama lapak dan nama pemilik.

"Kami dikumpulin di satu tempat, masih di Bundaran Keris (BK) juga. Sebelum corona, ada sekitar 109 pedagang di BK, stelah PSBB tambah jadi sekitar 130," terang Yogi, salah satu pedagang yang ikut pendataan.

Sebagian pedagang setuju karena kabarnya, bakal bekerja sama dengan Dinas Pasar dan Dinas Pariwisata. Mereka setuju karena lebih tertata.

Kelompok yang tidak setuju karena sudah merasa nyaman dengan lokasi yang strategis. Pedagang sebut butuh kejelasan relokasi.

"Ide relokasi seperti itu bagus, asalkan penempatannya pasti dan administrasi juga jelas, yang meng-handle jelas," ucapnya.

Ada pedagang yang khawatir, karena tempat yang baru nantinya dianggap tidak aman.

"Di Taman Labuay misalnya, beberapa menganggap tempatnya kurang bagus, ada beberapa alasan, di antaranya rawan pencurian, parkir tidak sesuai peraturan Pemko, rata-rata di sana mau motor ataupun mobil diminta Rp5 ribu lebih, banyak pemalak," papar Nanda, salah satu penjual minuman.

Tempat wisata kuliner malam di Bundaran Tugu Keris memang tidak memiliki izin atau illegal. Akibatnya, sering macet karena sisi jalan dipakai untuk parkir kendaraan.

Sejak PSBB selesai diberlakukan, Bundaran Keris sudah diserbu oleh anak muda yang kembali nongkrong atau sekedar cari kuliner malam.

Kebanyakan dari mereka masih tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak.

"Sejak awal Covid-19, ada satgas yang datang mengingatkan agar pedagang pakai masker. Tapi semenjak dua bulan terakhir sepertinya sudah tak ada lagi," kata Yogi.

Sementara itu, untuk pendirian lapak ia mengaku hanya lewat kenalan saja. Untuk selanjutnya akan diurus oleh ormas kepemudaan.

"Ada dua kubu juga, ada pedagang yang 'bayar' perbulan dan ada yang bayar tiap malam minggu," ungkapnya.

Sebelumnya, Plt Kasatpol PP Kota Pekanbaru, Burhan Gurning memaparkan, bersama dengan OPD terkait, seperti Dinas pariwisata dan Disperindang akan mencari alternatif untuk mengurus legalitas.

"Apakah itu bisa dilegalkan tentu juga harus berdasarkan ketetapan provinsi. Mereka akan ditempatkan di Kawasan Pujasera Jalan Arifin Achmad, Kawasan Purna MTQ Jalan Jendral Sudirman, dan Sekitaran Pasar Bawah," pungkasnya.