Kisah Selembar Kertas yang Antarkan Raihan Kuliah di Universitas Islam Madinah

Raihan-Al-Maududi.jpg
(Riau Online)

Laporan: Muthi Haura

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Jangan pernah ragukan impianmu. Tulislah diselembar kertas, lalu hidup akan menjadikan impian itu menjadi nyata.

Namanya Raihan Al Maududi, lelaki yang biasa disapa Raihan ini tersenyum ramah sambil sesekali memainkan handphonenya.

Lelaki yang berkuliah di Universitas Islam Madinah (UIM) ini bercerita dengan semangat terkait kampusnya. UIM sendiri merupakan sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Arab Saudi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi.

Kampus ini berdiri sudah sejak 29 Rabiul Awal 1381 Hijriyah atau 6 September 1961 dan terletak di kota Madinah.

Adapun misi universitas ini adalah menjadi lembaga pendidikan Arab Saudi yang memberikan pengajaran syariat, Bahasa Arab, dan pengetahuan-pengetahuan islam bagi para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia. 

“Setiap tahunnya, UIM menerima kurang lebih 5000 mahasiswa dari berbagai negara dan semuanya full beasiswa,” ujar Raihan yang saat ini duduk di semester empat dengan mengambil Jurusan Ushluddin.

Sembari menerawang, lelaki berhidung mancung itu berujar bahwa memang sejak putih abu-abu, ia ingin berkuliah ke luar negeri, terutama Madinah.

Raihan menuliskan mimpi-mimpinya di selembar kertas yang ia tempelkan di dinding kamarnya didekat tempat tidur.

Hampir setiap hari, Raihan menatap tulisan impian-impian itu, lalu meyakinkan dirinya bahwa suatu hari nanti, ia bisa berkuliah ke luar negeri tanpa membebankan biaya kepada keluarga.

“Bukan dari keluarga kaya, apalagi kedua orang tua juga sudah meninggal,” ujarnya dengan mata berbinar.

Tak hanya menuliskan impiannya diselembar kertas, Raihan juga berusaha semakin giat dalam belajar dan menjalankan bisnisnya.

Lelaki itu yakin bahwa usaha tak akan pernah mengkhianati hasil.

Selepas lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Satu Pekanbaru, impian berkuliah keluar negeri itu tentu saja tak langsung terwujud, tetapi bukan berarti membuat lelaki yang memiliki empat orang adik dan satu kakak ini patah arang.

Raihan kemudian memutuskan untuk mengambil Pelatihan Bahasa Arab di Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir.

“Tiga tahun belajar Bahasa Arab dipondok sembari ngapal Qur’an,” ujar lelaki yang lahir pada 4 September 1996. 

Saat tahun kedua berada di Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir, Raihan mendapatkan informasi terkait beasiswa ke Madinah.

Adapun  syarat-syarat yang diperlukan adalah ijazah, SKHUN, SKCK dari kepolisian, akte kelahiran, surat keterangan sehat, enam lembar pas photo ukuran 4 x 6, rekomendasi dari dua lembaga islam atau minimal dua ustadz lulusan UIM, dan semua berkas diterjemahkan ke Bahasa Arab melalui penerjemah resmi. 

Setelah itu, berkas-berkas dikirim ke website http://admission.iu.edu.sa. “Saat menunggu berkas ini, membutuhkan waktu yang lama juga,” terang Raihan.

Raihan juga berujar bahwa tentu saja dalam proses menunggu, ia merasa was-was, tapi lelaki itu tetap berusaha optimis sambil terus berdoa.

“Jangan lupa minta doa orang tua kalau masih hidup. Itu doa yang mujarab.”

Setelah berkas-berkas Raihan dinyatakan lulus, tahap selanjutnya adalah wawancara. Wawancara sendiri bisa dilakukan langsung di Madinah atau via online.

Raihan sendiri saat itu memutuskan untuk wawancara langsung ke Madinah bersama ayahnya yang ia panggil aba. “Kebetulan waktu itu aba masih hidup, jadi sekalian umroh.” 

Raihan mengenang bahwa untuk berangkat ke Madinah itu, almarhum ayahnya harus menjual tanah dan meminta bantuan biaya kepada beberapa keluarga. “Apalagi aba waktu itu sakit-sakitan. Di Madinah saja, beliau sempat dirawat dirumah sakit,” kata Raihan dengan mata berbinar. 

Setahun setelah wawancara, tepatnya saat ia selesai pelatihan Bahasa Arab di Pondok Imam Ibnu Katsir, Raihan dinyatakan lulus.

Ia sama sekali tak menyangka. Semua usaha, kerja keras, air matanya, diganti Allah dengan terwujudnya salah satu impian terbesarnya.

“Alhamdulillah. Allah nggak tidur. Allah ngasih apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita ingin kan.”

Tahun 2017, Raihan berangkat ke Madinah dengan impian-impian baru dan semangat baru. Hidup di negeri orang bukan hal yang mudah baginya, apalagi di Madinah yang memiliki dua musim, panas dan dingin. Tapi terlepas dari itu, Raihan merasa sena sangatng. 

Adapun fasilitas yang ia dapat sebagai mahasiswa dengan beasiswa penuh adalah tiket pesawat pulang pergi, uang tunjangan setiap bulan, asrama gratis dan perabotannya, pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas, fasilitas olahraga, sarana transportasi untuk shalat di Masjid Nabawi. 

“Bisa umroh setiap pekan. Jika ingin hajipun di permudah, bahkan bisa gratis.”

Sembari memperbaiki duduknya, Raihan berujar bahwa kuliah di Madinah membuatnya belajar banyak hal. Mulai dari harus kembali belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, teman-teman dari berbagai belahan dunia dengan bahasa yang berbeda-beda, cara belajar yang berbeda, dan lain sebagainya.

Raihan mengaku lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. Sukanya bisa menuntut ilmu dari ulama-ulama yang memang kredibel dibidangnya dan lain sebagainya.

 

Dukanya, harus jauh dari keluarga. Raihan juga welcome jika ada generasi muda yang ingin bertanya terkait UIM kepada dirinya. “Bisa dm di instagram @haansrey,” katanya. 

Selain itu, Raihan mengatakan bahwa generasi muda harus mempercayai impiannya, apapun impian tersebut selagi itu positif.

Pasti ada jalan untuk semua impian-impian yang diinginkan. “Jika satu jalan tertutup, masih ada jalan lain yang terbuka lebar,” tutupnya.