Berawal dari Menumpang Baca, Anto Raup Rp 80 Juta Per 60 Hari dari Melon

Suprianto-dan-melon.jpg
(Riau Online)

Laporan : Hidayatul Fitri

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Di tengah ramainya hiruk pikuk kota Pekanbaru terdapat suatu lokasi yang dijadikan lahan untuk bercocok tanam, tepatnya di Jalan Kartama, kelurahan Maharatu, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau.

Di sana terdapat berbagai macam tanaman seperti komoditas pangan dan hortikultura.

Namun, komoditas buah-buahan jarang ditemui. Uniknya, ternyata ada yang menanam buah melon di lokasi tersebut.

Pasalnya melon tergolong tanaman yang cukup menantang untuk dibudidayakan karena resiko gagal yang cukup tinggi. 

Suprianto, yang akrab dipanggil Anto mulai bercocok tanam sejak tahun 2000. Sebelumnya ia menanam berbagai macam sayuran hortikultura seperti bayam, kangkung, selada dan lain sebagainya.

Pada tahun 2005 ia mencoba membudidayakan cabai, akan tetapi karena kurangnya ilmu ia mengalami kerugian dan akhirnya beralih ke tanaman melon. 

Sebelum teknologi informasi secanggih saat ini, Anto biasanya belajar dan mencari informasi seputar budidaya melon dengan menumpang membaca majalah pertanian di toko buku.

“Saya tidak tahu ilmu atau teori yang tepat untuk budidaya melon, tetapi dulu belum ada google. Sehingga hampir setiap hari minggu saya luangkan waktu untuk numpang baca buku di Gramedia karena kalau mau beli bukunya kan mahal dan banyak,” cerita Suprianto.

Ia mulai serius membudidayakan tanaman melon sejak tahun 2015 karena ia mulai merasakan prospek budidaya tanaman melon yang menjanjkan.

Zaman yang sudah modern saat ini sangat memudahkan petani yang mau belajar untuk budidaya tanaman melon. Lahan yang digunakan saat ini kurang lebih 1,5 hektar. 

Proses budidaya melon sama seperti tanaman lainya. Mulanya dilakukan pembukaan lahan untuk pesiapan tanam.

Setelah penanaman, perawatan dilakukan dengan memberikan pupuk, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, disiram dan dilakukan pengamatan untuk seleksi buah.

Seleksi buah dilakukan agar buah yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. 

Melon

Tanaman Melon Suprianto

Buah yang dipertahankan idealnya berada di cabang ke 8 hingga 13. Buah pada cabang tersebut menghasilkan buah yang lebih manis, memiliki rongga lebih sempit dan buah tidak akan menyentuh tanah atau mulsa sehingga mengurangi resiko busuk. Satu tanaman maksimal dua buah yang dipertahankan.

Setelah seleksi buah dengan ukuran sebesar telor ayam maka perawatan akan fokus ke pemupukan buah. Seperti untuk pembesaran buah, daya tahan buah dan memaniskan buah.

Pekanbaru memiliki daerah dataran rendah dengan iklim yang cukup panas sehingga umur panen melon yang seharusnya 70-75 hari bisa dipanen umur 60-70 hari setelah tanam.

Para pedagang biasanya tidak mau buah yang masak di batang karena akan mempersingkat masa simpan. 

Hama yang paling meresahkan adalah lalat buah. Sedangkan penyakit yang sering menyerang yaitu bercak kuning. Kendala yang paling berpengaruh selain hama dan penyakit adalah iklim cuaca.

Tanaman melon lebih bagus hasilnya saat musim kemarau karena kebutuhan air bisa diatur meski butuh tenaga dan waktu yang lebih. 

Kelebihan air ketika musim hujan dapat mengakibatkan tanaman tergenang, menyebabkan akar membusuk dan buah pecah sehingga menurunkan kulitas dan kuantitas hasil panen.

Selain itu, musim hujan juga mengundang bakteri dan jamur penyebab berbagai macam penyakit tanaman.

“Saya pernah mengalami gagal panen 50% karena hujan lebat seminggu sebelum panen,” keluhnya. 

Musim tanam harus diselingi tanaman lain di lahan yang sama setelah panen sebagai upaya memutus rantai hidup hama dan penyakit tanaman melon.

“Lahan tanaman melon tidak boleh ditanaman berturut-terut, setelah panen lahan harus ditanam komoditi tanaman lainnya seperti jagung,” jelasnya. 

Suprianto dan melon

Suprianto dan melon hasil panennya

Sejak tahun 2018 Anto mulai berkomitmen untuk menjalankan pertanian organik. Dahulu ia mengandalkan berbagai macam bahan kimia sebagai pupuk dan pestisida. Alasan utamanya untuk kesehatan, menjaga keseimbangan ekosistem, menjaga kualitas kesuburan tanah dan biaya yang lebih irit. 

Pupuk kimia yang digunakan terus-menerus akan membuat tanah menjadib keras. Pupuk organik cenderung memperkaya biota (makluk kecil) tanah.

Pestisida kimia akan mempengaruhi kesehatan konsumen dan merusak keseimbangan ekosistem karena pestisida kimia cenderung memberantas populasi hama. Pestisida organik cenderung mengusir dan mengurangi intensitas penyerangan.

Hasil panen melon biasanya dipasarkan ke para pengepul di pekanbaru, padang, medan dan batam. Saat ini ia sudah bekerjasama dengan Indomaret. Jenis Melon yang dibudidayakan yaitu melon putih (sky), kuning (rock) dan golden (kinanty).

Melon putih dan kuning memiliki harga Rp 4.500 – 6.500. Melon golden Rp 10.000 - 12.000. Produksi melon yang dihasilkan sekitar 16 ton per hektar.

“Jika saya tanam setengah hektar melon golden saja, saya bisa menghasilkan 8 ton maka penghasilan yang didapat sekitar Rp 80 juta,” ungkap Anton. 

Harapannya ia ingin memiliki lahan sendiri karena saat ini hanya menumpang dan sewa lahan sehingga ia bebas bisa terus menjalankan pekerjaannya sebagai seorang petani.

Selain itu, ia juga berharap pemerintah untuk lebih peka kepada petani.

Ia ingin ada sosialisasi, pelatihan dan bantuan untuk para petani konvensional agar pertanian di Indonesia bisa maju mengikuti perkembangan zaman. 

“Selagi dunia ini belum berakhir maka manusia masih butuh makan, mungkin saat ini banyak generasi muda yang memandang sebelah mata pertanian, tapi nyatanya jika tidak ada pertanian tidak ada kehidupan,” ujarnya. Ia menganggap petani adalah profesi yang mulia sehingga ia bangga menjadi seorang petani.