Sempat Khawatir, Catherine Jadikan Rasa Takut Jadi Modal untuk Waspada

Relawan-Covid-193.jpg
(Riau Online)
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kelompok mahasiswa relawan Covid-19 dari Universitas Riau terus melakukan aksi sosial dari berbagai kabupaten kota se-provinsi Riau, salah satunya Kota Pekanbaru, tepatnya Kecamatan Marpoyan Damai.
 
Tim yang beranggotakan 10 orang ini ikut serta membantu Pemko Pekanbaru dalam melakukan rapid test massal di kecamatan Marpoyan Damai, meski ada perasaan sedikit takut.
 
Pada tanggal 4 Juni 2020 lalu, sebagai mahasiswa relawan, mereka ambil bagian dalam pelaksanaan rapid test massal sebanyak 400 alat dan juga berpartisipasi dalam menyemprot disinfektan ke sekitar pemukiman padat penduduk.
 
Salah seorang anggota tim, Catherine Panggabean mengaku awalnya ia takut, apalagi Marpoyan Damai merupakan zona merah, namun ketakutannya tak berlangsung lama.
 
"Takut iya, tapi ga takut-takut banget. Masih dalam kadar normal lah," kata Catherine, Jumat, 5 Juni 2020.
 
Karena rasa takut tadi, Catherine bersama teman-temannya menjadi lebih waspada dan memastikan setiap pergerakan mereka sesuai dengan protokoler Covid-19 memakai masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan.
 
Diceritakan Catherine, ia dan teman-temannya yang berkuliah di UR ada beberapa orang yang memilih tetap tinggal di Pekanbaru. Mereka lalu berinsiatif membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
 
Kemudian, tim ini mencari daerah yang membutuhkan relawan covid-19, hingga akhirnya mereka mendaftar ke daerah Kecamatan Marpoyan Damai, tepatnya di Kelurahan Tangkerang Barat. 
 
Tim membantu Pemko Pekanbaru yang turun melalui dinas terkait bersinergi dengan Polri dan TNI.  Adapun, peran mahasiswa ialah membantu petugas mulai dari pendataan, pembimbingan, hingga test selesai dilakukan. 
 
"Kan pada saat registrasi, pasien dimintai KTP-nya untuk melihat NIK-nha saat mengisi form pendaftaran, lalu ditanyai berbagai macam keluhan, apakah ada kontak dengan PDP maupun pasien positif, riwayat perjalanan keluar kota," kata Catherine menjelaskan.
 
Warga yang mengikuti test massal juga ditanyai apakah setelah rapid test mereka bersedia dilakukan test swab apa tidak.  Setelah semua dilalui, baru pasien diarahkan ke meja rapid test untuk memulai test-nya.
 
Sebagai mahasiswa, Catherine berharap agar kegiatan ini terus dilakukan oleh pemerintah, agar bisa diketahui mana orang yang terinfeksi mana yang tidak, sehingga penyebarannya bisa dicegah.
 
"Saya sangat mengapresiasi perhatian pemerintah yang telah melakukan kegiatan ini di Kecamatan Marpoyan Damai. Harapan saya kedepannya pemerintah tetap melaksanakan kegiatan ini dan juga lebih gencar dalam menginformasikannya kepada masyarakat, meskipun kita akan memasuki masa new normal," tutup mahasiswa Fisipol ini.