Biaya Perawatan Covid Bisa Untuk Kesejahteraan Bila Masyarakat Mencegah Penyebaran

Taufik-Arrahman.jpg
(Hasbulah Tanjung)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tokoh masyarakat Pekanbaru, Taufik Arrakhman meminta Pemerintah untuk betul-betul bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat agar masyarakat bisa betah bertahan di rumah.

Hal ini disampaikan Taufik menanggapi informasi dari Dirut RSUD dr Nuzelly tentang besaran biaya perawatan pasien Covid-19, di mana angka minimal untuk isolasi 14 hari minimal Rp 105 juta.

"Masalah biaya itu kan memang kewajiban negara. Tapi disisi lain masyarakat harus bisa bekerjasama dengan pemerintah untuk meminimalisir pengeluaran di sini," kata Anggota DPRD Riau Dapil Pekanbaru periode 2014-2019 ini, Jumat, 22 Mei 2020.

Di sisi lain, pemerintah juga harus memberikan bantuan kepada masyarakat yang tidak bisa hidup jika terus-menerus berada di dalam rumah, karena mereka tidak memiliki penghasilan tetap.

"Tidak bisa juga dibikin aturan, di rumah saja, dia harus sinkron. Ini kan untuk menghindari biaya perawatan yang besar. Kalau masyarakat patuh, biaya perawatan pasti lebih kecil," ujar Politisi Gerindra ini.

Besaran nilai sembako saat ini, menurut Taufik hanya berkisar di angka Rp 250 ribu, jika angka Rp 105 juta tadi dikonversikan ke sembako, berapa masyarakat yang bisa dipenuhi kebutuhan dasarnya.

"Kalau misalnya terus-menerus begini, kan negara juga yang rugi banyak. Meskipun angka Rp 250 ribu itu realisasinya tak sampai segitu," tuturnya.

Untuk Pekanbaru sendiri, lanjut Taufik, sudah cukup memprihatinkan karena sudah banyak sekali zona merah, artinya pemerintah harus meningkatkan pengawasan kepada para pendatang.

"Apalagi suasana lebaran ini, banyak orang dari luar yang masuk di Pekanbaru. Ini yang harus ditingkatkan," tutupnya.

Sebelumnya, terungkap biaya perawatan pasien Covid-19 ternyata menelan anggaran dengan nilai yang cukup fantastis.

Meski anggaran biaya perawatan ditanggung oleh pemerintah, namun tetap saja anggaran tersebut merupakan uang rakyat yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat jika semua masyarakat bisa mencegah penularan Covid-19 agar tidak semakin meluas.

Sebab, dengan semakin banyaknya pasien positif Covid-19 yang dirawat, maka semakin besar pula biaya perawatan yang harus dikeluarkan penerintah.

Direktur RSUD Arifin Ahmad Riau, Nuzelly, Rabu 20 Mei 2020 mengungkapkan, untuk pasien positif Covid-19 yang dirawat di ruang ICU bisa menghabiskan biaya perawatan hingga belasan juta per harinya. Banyangkan jika pasien terus bertambah dan waktu perawatan semakin lama, maka berapa banyak uang rakyat yang dihabiskan untuk pengobatan pasien Covid-19 ini.

"Iya, kalau pasien yang dirawat di ICU itu memang mahal sekali biayanya," katanya.

Sesuai SK Menteri Keuangan Nomor S-275/MK 02/2020 Tertanggal 6 April 2020 yang patokan pihak Rumah Sakit untuk mengajukan klaim ke Kementrian Kesehatan. Pemerintah akan mengganti Biaya Perawatan Covid-19 di Berbagai Rumah Sakit.

Dalam SK tersebut dirincikan, biaya perawatan Pasien Covid-19 tanpa Komplikasi yang dirawat di ruang ICU dengan Ventilator menelan biaya Rp15,5 Juta/hari. Kemudian di ruang ISOLASI tanpa Ventilator Rp12 Juta/hari. Ruang ISOLASI Tekanan Negatif dengan Ventilator Rp10,5 Juta/hari. Ruang ISOLASI Tekanan negative tanpa Ventialtor: Rp7,5 Juta/hari. Ruang ISOLASI Non Tekanan Negatif dengan Ventilator: Rp10,5 Juta/hari. Ruang ISOLASI Non Tekanan Negatif tanpa Ventilator: Rp7,5 Juta/hari

Kemudian untuk golongan Pasien Covid-19 yang Memiliki Komplikasi atau Penyakit Penyerta sebelumnya. Seperti Jantung, Ginjal, Hipertensi, Diabetes, Paru-Paru, Hepatitis B dan penyakit lainnya. Yang dirawat di ruang ICU dengan Ventilator biayanya mencapai Rp16,5 Juta/hari. Ruang ICU tanpa Ventilator: Rp12,5 Juta/hari. Ruang ISOLASI Tekanan Negatif dengan Ventilator: Rp14,5 Juta/hari. Ruang ISOLASI Tekanan Negatif tanpa Ventilator: Rp9,5 Juta/hari. Ruang ISOLASI Non Tekanan Negatif dengan Ventilator: Rp14,5 Juta/hari. Ruang ISOLASI Non Tekanan Negatif tanpa Ventilator: Rp9,5 Juta/hari

Jika dihitung, maka biaya untuk satu pasien dirawat selama (minimal) 14 hari adalah sebesar Rp105 Juta. Itu dengan grade biaya terendah.

"Jadi penyakit ini sangat serius, maka cara menghadapinya juga harus serius. Makanya kami minta masyarakat harus mengikuti anjuran dan imbauan yang disampaikan oleh pemerintah," kata Nuzelly.