Industri Media Harus Bertahan di Tengah Pandemi

gobrol-online.jpg
(istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Industri Pers menjadi salah satu industri yang tengah mengalami krisis akibat hantaman Covid-19. Hal itu terjadi karena berkurangnya pendapatan media dari beberapa sumber yang selama ini menopang operasional perusahaan.

Direktur Bisnis Indonesia, Hery Trianto mengatakan saat ini perusahaan pers diharuskan mampu bertahan agar bisa kembali menjalan tugasnya sebagai pilar keempat demokrasi.

Sebab, tiga pilar demokrasi lainnya didanai oleh negara sementara pers tidak dibiayai oleh pemerintah.

Tugas pers sebagai pilar keempat bahkan harus mampu menahan goncangan yang ditimbulkan oleh pilar kelima demokrasi yaitu, media sosial.

"Di saat kondisi begini, kita juga sedang menghadapi pilar kelima, media sosial yang kredibilitasnya kita sangat ragukan, banyak menyampaikan berita tidak kredibel bahkan cenderung menuduh," kata Hery, Kamis, 14 Mei 2020 dalam seminar online "Model Bisnis Baru Pasca Covid-19, Seperti Apa?".

Apalagi, saat ini kepercayaan masyarakat mulai kembali ke media mainstream dibanding media sosial, karena banyaknya berita-berita hoax yang menjadi media sosial sebagai medianya.

"Kepercayaan terhadap media mainstream kembali karena konsisten menjalankan jurnalisme dengan benar. Kondisi sekarang, kita harus bertahap karena kalau kita mati di tengah krisis, kita melewatkan kesempatan recovery di masa pasca Covid-19," jelas Hery.

Besarnya pengaruh media sosial membuat banyak orang melakukan sesuatu yang tidak berguna, salah satunya prank. Apalagi dengan adanya profit dari media sosial orang menghalalkan segala cara.

"Karena adanya mereka-mereka (prank) itu, informasi dari media mainstream jadi tergusur. Fungsi media mainstream menjadi berkurang, informasi tak sampai ke masyarakat. Masyarakat malah banyak menampung entertain dari prank yang hanya membuat senyum sebentar saja," tuturnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono mengungkapkan saat ini memang mayoritas perusahaan mengalami krisis finansial, meskipun traffic atau audience media bertambah karena banyak orang yang tak beraktivitas di luar.

Sebab, saat ini banyak event-event yang terpaksa ditunda bahkan dibatalkan, pengiklan menarik diri, hingga berkurangnya masyarakat yang selama ini berlangganan.

Kemudian, lanjut Suwarjono, Masyarakat Indonesia belum bisa seperti masyarakat Eropa yang maju, di mana mereka sangat menghargai informasi, bahkan mereka bersedia membayar demi informasi.

"Media di Indonesia sebagian sudah memberikan tarif langganan yang tak mahal, sebut saja kompas dan tempo. Dua media besar ini memberi tarif langganan yang tak lebih mahal dari segelas kopi Starbuck. Tapi banyak yang memilih kopi Starbuck daripada berita satu bulan," jelasnya.

Dicontohkan Suwarjono, di Jerman ada 2-3 perusahaan besar yang dihidupi oleh koperasi yang beranggotakan 18 ribu orang. Disamping ada juga yang memakai biaya komunitas dan yayasan.

Lebih jauh, menurutnya, media mainstream adalah sumber informasi terpercaya karena menerapkan praktik cek and ricek terhadap suatu isu, termasuk isu di media sosial.

Saat ini, media sosial jelas Suwarjono, sangat minim informasi bermanfaat, karena media sosial hanya mementingkan traffic bukan kualitas. Makanya saat ini banyak konten-konten prank hingga hantu-hantuan.

"Kedepan media mainstream sangat dibutuhkan, ketika kita ingin media mainstream tetap hidup kita juga harus ikut mendonasikan. Media memegang kepercayaan warga. Media juga tidak bisa bergerak sendiri, harus kolaborasi dengan media komunitas, nasional, daerah, dan media sosial demi jurnalisme yang lebih baik," tutupnya.

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Suska Muhammad Badri, mengakui saat ini mulai terjadi peningkatan kepercayaan masyarakat kepada media mainstream karena masyarakat sudah jenuh dengan infromasi hoax.

"Kepercayaan terhadap media mainstream mulai meningkat, mereka sudah kembali ke media mainstream. Itu hal yang luar biasa. Sekarang di media sosial itu ketika ada yang meng-share berita hoax yang tak jelas sumbernya, sudah banyak yang mengingatkan," kata Badri.