RW Soal Kebijakan Firdaus: Burung di Dalam Sangkar Saja Dikasih Makan

psbb-firudasu.jpg
(riauonline)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ketua RW 23, Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tampan, Azwar meminta Walikota Pekanbaru Firdaus agar tidak menganiaya RT dan RW hingga masyarakat dalam membuat kebijakan penyaluran Sembako.

 
Hal tersebut disampaikan Azwar menyikapi persoalan pembagian Sembako oleh Pemko Pekanbarh yang hanya diberikan sebanyak 15.620 paket saja, sangat tidak masuk akal untuk ukuran Pekanbaru.
 
"15.620 dibagikan ke 12 kecamatan se Pekanbaru, berarti satu kecamatan dapat jatah 1300. Kecamatan Tampan ini ada 9 kelurahan berarti satu kelurahan di Tampan hanya dapat 144 sembako, dibagi lagi ke puluhan RW, mau dikasih berapa ?" katanya, Minggu, 26 April 2020.
 
Diakui Azwar, untuk kelurahan Sialang Munggu saja ada sekitar 6000 masyarakat yang sudah didata karena terdampak Covid-19, ini merupakan hasil pendataan RT dan RW sejak seminggu belakangan.
 
Namun, sekarang Pemko memberi aturan baru dimana penerima sembako diprioritaskan mempunyai penghasilan Rp 500 ribu, padahal yang mempunyai penghasilan segitu sudah mendapatkan bantuan dari Kemensos melalui Program Keluarga Harapan (PKH).
 
"Kami berat membagikan kalau gitu, cari ajalah sendiri sama Pemko orang yang gajinya Rp 500 ribu. Sepertinya ada upaya agar bantuan ini tidak banyak berharap," tuturnya.
 
Azwar bahkan menyebut Pemko Pekanbaru tidak memiliki kepedulian kepada warganya, karena sudah disuruh melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak tanggal 17 April tapi sampai hari ini belum ada diberi sembako.
 
"Warga disuruh di rumah, tapi tidak dikasih makan, burung di dalam sangkar saja dikasih makan. Pemko katanya janji akan menyalurkan 40 ribu bantuan asalkan dia orang Indonesia dan tinggal di Pekanbaru dapat bantuan. Mana bantuannya," keluhnya.
 
Azwar menerangkan, dirinya banyak menerima keluhan warga yang sudah tidak memiliki makanan untuk dimakan lagi, namun Azwar tak bisa berbuat banyak karena dirinya pun tidak tahu kapan bantuan dari Pemko bisa diterima.
 
"Selama ini kami tak pernah minta bantu, kalau bisa berusaha di luar, kami tak butuh pemerintah. Cuma sekarang kondisinya wwrga sangat membutuhkan. Apa mereka harus mencuri, merampok dan yang lainnya untuk makan. Ini masalah perut yang lapar, anak yang tidak makan, banyak nanti masalah yang timbul kalau begini terus," tutupnya.