Belajar dari "Loncatnya" Syamsuar ke Golkar, PAN Riau Pilih Kader di Pilkada 2020

Syamsuar-dan-Edy-Nasution.jpg
(Hasbulah Tanjung)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - "Meloncat" dari Partai Amanat Nasional (PAN) kembali ke Partai Golkar membuat DPW PAN Riau kapok dan sadar untuk tak akan mendukung serta mengusung calon bukan kader dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 ini di 9 kabupaten dan kota di bumi Lancang Kuning. 

Kasus kembalinya Syamsuar ke Partai Golkar setelah dua tahun menjadi anggota PAN dan diantarkan menjadi Gubernur Riau, menjadi pelajaran sangat berarti dan berharga bagi PAN Riau. 

"Kepindahan Syamsuar dari PAN ke Golkar sebagai pelajaran (bagi PAN) kedepannya dalam mengusung calon kepala daerah," jelas Sekretari DPW PAN Riau, Tengku Zulmizan Farinja Assagaf, Minggu, 8 Maret 2020, di sela-sela Musda Golkar, di Hotel Aryaduta, Pekanbaru. 

Zulmizan mengatakan, kepergian Syamsuar memang sangat mengecewakan. Namun, ia sadar kalau berpolitik, setiap orang harus bisa memetik hikmah dari setiap kejadian.

"Kita rugi, tapi kita berusaha ikhlas, ini politik, kita dari PAN akan ambil hikmah banyak, termasuk untuk seleksi Pilkada (serentak) kedepannya. Mmemang partai itu harus mengutamakan kader murni (di Pilkada)" kata Zulmizan selalu setia dampingi setiap kampanye Syamsuar di Pilgubri 2018 lalu.

 

Ketika ditanyakan, apakah DWP PAN Riau sudah melaporkan perilaku politik Syamsuar "kembali ke yang lama", ke DPP PAN, Zulmizan mengaku belum menyampaikan. Namun ia menduga Ketua Umum Zulkifli Hasan sudah mendapatkan keterangan dari Syamsuar.

Sebab, beberapa hari lalu, Zulhas berkunjung ke Pekanbaru guna memberikan kuliah umum di kampus Universitas Islam Riau (UIR). Dalam acara itu, Syamsuar juga hadir dan duduk di samping Zulhas.

"DPP belum kita laporkan, Ketum mungkin sudah tahu, kan pak Syam dah jumpa pak Zulhas. Saya menduganya begitu," tuturnya.

Zulmizan tak memungkiri kalau sikap Syamsuar membuat kecewa para kader PAN yang berada di akar rumput. Namun ia berharap kekecewaan ini tidak berlarut-larut.

"Artinya, kami mungkin kecewa, tapi kami tak sedih, saya saja datang ke sini, saya pakai tanjak, ini marwah kita," tambahnya.

Ia juga menghimbau kepada kader PAN untuk segera move on. Sebab, akan ada balasan dari kepergian kader ini. "Satu kader pergi, kader baru pasti akan. Datang ke partai yang menegakkan integritas ini," tutupnya.

Sebelumnya, Kamis lalu, 5 Maret 2010, Sekretaris DPW PAN Riau, Tengku Zulmizan Farinja Assagaf mengatakan, Syamsuar punya sejarah panjang dengan PAN. Tiga kali dimenangkan oleh PAN sebagai kepala daerah.

Tengku Zulmizan Assagaf

SEKRETARIS DPW PAN Riau, Tengku Zulmizan Farinja Assagaf lengkap mengenakan jas dan tanjak berlogo PAN di Musda Golkar Riau, Minggu, 8 Maret 2020.

Di antaranya, dua kali sebagai Bupati Siak 2011-2016 dan 2016-2021, terakhir 2018 silam, sebagai Pemilihan Gubernur Riau mengalahkan Andi Rachman, petahanan yang juga Ketua DPD Golkar Riau, ia gantikan sekarang ini. 
 
Tak hanya itu, Syamsuar juga sempat dipecat sebagai Ketua DPD II Golkar Siak usai nekad maju dalam Pilgub Riau 2018 silam. Ketika itu, mantan Wakil Bupati Siak 2001-2006 ini, ia diusung PAN dengan 7 kursi, PKS dan Nasdem masing-masing 3 partai.
 
Satu dari komitmen kala itu dengan Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan adalah bersedia menjadi anggota PAN dan Ketua DPW PAN Riau.  
 
Namun, hingga mengajukan pengunduran diri sebagai kader PAN, Syamsuar sama sekali tak memperlihatkan keinginannya menjadi Ketua DPW PAN, seperti komitmenya saat maju dalam Pilgubri 2018. Termasuk saat ditanyakan wartawan dalam berbagai kesempatan soal itu. 
 
"(Syamsuar) lebih dua tahun tercatat sebagai kader PAN dan pernah tercatat menjabat Gubernur Riau dari PAN, walaupun hanya sekitar setahun, sejak dilantik 20 Februari 2019 hingga ajukan pengunduran diri dari Anggota PAN 13 Februari 2020," pungkasnya. 
 

-->