Tanggul Jebol, 700 Hektar Sawah Gagal Panen, Markarius Anwar Perjuangkan Pembangunan

Anggota-DPRD-Riau-dari-fraksi-PKS-Markarius-Anwar-saat-reses-di-Kuala-Kampar.jpg
(Riau Online)

RIAU ONLINE, PELALAWAN – Sekitar 700 hektar lahan sawah masyarakat di Kecamatan Kuala Kampar mengalami gagal panen akibat jebolnya tanggul yang menahan air laut.

 

Hal tersebut disampaikan masyarakat dalam reses anggota DPRD Riau fraksi PKS, Markarius Anwar. Dikatakan politisi yang kerap disapa Eka ini, di kecamatan ini ada tiga desa yang menjadi sentra pertanian padi Pelalawan yang memiliki luas total 3000 ha lebih.

 

Tiga desa ini ialah, Desa Sungai Upih, Desa Sungai Solok, dan Desa Teluk Bakau.

 

Dilanjutkan Eka, 700 ha dari total 3000an ha inilah yang mengalami gagal panen akibat tanggul yang jebol, sehingga masyarakat meminta supaya pemerintah membangunkan tanggul baru.

 

“Masyarakat minta dibangun tanggul permanen, tanggul yang ada saat ini tidak kuat menahan gelombang laut. Kami sempat meninjau lahan pesawahan masyarakat yang sedang panen dan lahan sawah yang gagal panen tersebut,” ujar Eka, Jumat, 28 Februari 2020.

 

Dirinya, sambung Eka, akan membantu memperjuangkan untuk dibangunnya tanggul permanen dari anggaran Provinsi dan pusat, sebab dengan luas lahan 3.000 Ha ini, tentu pembangunan tanggul akan memakan anggaran cukup besar. 

 

"Saya juga mendorong pemerintah supaya meningkatkan usaha teknologi pertanian agar hasil panen masyarakat juga meningkat. Saat ini masih kisaran 1 sampai 2 ton per hektar, sementara di tempat lain seperti di Bunga Raya hasil panennya kisaran 7 sampai 12 ton per Ha,”  harapnya.

 

Selain masalah di sektor pertanian, masyarakat juga mengeluhkan permasalahan infrastruktur jalan, dikatakannya kondisi saat ini masih banyak yang belum disemenisasi. Salah satunya adalah jalan lingkar Pulau Mendol.

 

“Kalaupun sudah disemen sebelumnya, lebarnya hanya 1 meter, itupun sebagian besar sudah rusak. Kami naik motor selama 1,5 jam dengan kondisi jalan yang cukup rawan. Jadi ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah,” tuturnya.  

 

Aspirasi yang ketiga yaitu kebutuhan sarana dan prasarana pendidikaan yang masih minim jika dibandingkan sekolah di kecamatan yang lain. 

 

“Salah satu guru SMP N di desa Sungai Upih menyampaikan aspirasinya kepada kami, ia mengeluhkan minimnya sarana belajar mengajar, seperti laboratoriun komputer untuk UN (Ujian Nasional), alat-alat labor, rumah dinas guru, pagar dan lainnya. Tentu ini juga hal utama yang harus menjadi evaluasi pemerintah, karena berhubungan dengan dunia pendidikan generasi penerus bangsa,” tandasnya.

 

 

Reses masa sidang II (Januari -  April) yang dilakukan Anggota DPRD Provinsi Riau, dimulai sejak tanggal 21 sampai 29 Februari 2020 dimanfaatkan dengan maksimal oleh Anggota Dewan untuk menampung aspirasi masyarakat sesuai dengan Dapilnya hingga ke pelosok daerah.  

 

Salah satunya adalah Markarius Anwar, Anggota DPRD Riau dari fraksi PKS. Salah satu daerah yang ia kunjungi di Reses masa sidang II ini adalah Kecamatan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan. Mantan dosen Universitas Lancang Kuning ini mengungkapkan bahwa untuk menuju lokasi tersebut dibutuhkan waktu lebih kurang 7 jam perjalanan. 

 

“Perjalanan darat melalui jalan lintas bono 3,5 jam, naik pompong dari pulau mudo 2 jam, lanjut naik sepeda motor 1,5 jam. Memang sedikit melelahkan, namun terbayar tuntas dengan senyum penuh keakraban dari warga yang menyambut kami,” tuturnya