Pengunjung di Bandara SSK Kayak Masuk Bubu Ikan, Mudah Masuk Payah Keluar

jalan-ke-bandara-macet-total.jpg
(Riau pos)
RIAU ONLINE, PEKANBARU-Pengamat Ekonomi Universitas Riau, Dahlan Tampubolon menyoroti penerapan sistem pembayaran non-tunai yang menyultkan sejumlah masyarakat ketika berada di bandara Sultan Syarif Kasim.
 
Sejak diberlakukannya sistem e-money per 1 Februari 2020 lalu, pintu keluar bandara selalu terjadi kemacetan panjang karena banyaknya masyarakat yang belum mengetahui informasi tersebut.
 
Menurut Dahlan, hal tersebut dikarenakan belum terintegrasinya stakeholder yang terlibat dalam penerapan sistem baru tersebut, sehingga terkesan Bank Indonesia bekerja sendiri tanpa ada teamwork dengan stakeholder lainnya.
 
"Saya sendiri saja pernah kena macet panjang dua minggu lalu saat menjemput tamu, karena masih banyak pengunjung yang membeli kartu di pintu ke luar," kata Dahlan Tampubolon, Selasa, 25 Februari 2020.
 
Dahlan Tampubolon
 
Pengamat Ekonomi Universitas Riau, Dahlan Tampubolon/Hasbullah Tanjung
 
Harusnya, sambung Dahlan, Bank Indonesia mempersiapkan berbagai fasilitas untuk memudahkan pengunjung, terutama penjualan kartu e-money di retail modern hingga ATM.
 
Dengan begitu, pengunjung tidak menumpuk di bandara saja. Apalagi, posisi stand penjualan kartu perdana non tunai ini berada di pinntu keluar, sehingga pengunjung yang akan keluar menjadi terganggu dan berdampak kemacetan panjang.
 
"Harusnya penjualan di pintu hendak masuk bandara, tidak seperti sekarang seperti bubu ikan, masuk mudah keluar susah. Atau kalau orang terburu-buru, kartu dijual di sekitar parkiran bandara bukan di exit point," katanya.
 
Dilanjutkan Dahlan, pihak Bank Indonesia maupun Bandara harusnya melakukan peralihan dari pembayaran tunai ke non tunai secara bertahap. Misalnya, dengan membuka dua pintu keluar.
 
"Harusnya ada satu yang bisa menggunakan uang tunai dan pintu yang lain untuk non-tunai, dengan begitu masyarakat akan belajar memilih mana yang lebih cepat dan mudah maka mereka secara perlahan  akan beralih dengan sendirinya," tuturnya.
 
Tak hanya itu, masyarakat yang berada di luar Kota Pekanbaru akan merasa rugi dengan kebijakan ini. Sebab, mereka jarang sekali menggunakan fasilitas tersebut.
 
Jika kartu ini sudah terintegrasi dengan retail modern, masyarakat di luar Pekanbaru masih bisa menggunakan kartu tersebut  di retail tersebut.
 
Tak hanya itu, untuk top up sendiri, perbankan juga harus memudahkan pengisian. Di sini butuh lagi integrasi dengan fasilitas bank dan ritel besar sehingga keberadaan kartu mudah didapat tidak perlu meski antri.
 
"Pemanfatan non-tunai ini juga perlu diperluas fungsinya tidak hanya membayar parkir akan tetapi bisa digunakan untuk pembayaran lainnya semisal trans metro, parkil di mall dan belanja serta sebagainya," pungkasnya.
 
Seperti diketahui, pasca pemberlakuan kartu e-money (non tunai) pada pada parkiran Bandara Pekanbaru Sultan Syarif Kasim II, 1 Februari lalu hingga hampir akhir bulan, masih terlihat kemacetan di pintu keluar bandara.
 
Hal ini dikarenakan masyarakat yang baru pertama kali masuk bandara terjebak di antara kendaraan yang sudah miliki kartu. Sehingga untuk proses pemilihan butuh waktu transaksi di pintu keluar. 
 
Sementara itu, Kepala Divisi Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah (SP PUR) Layanan Administrasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Asral Mashuri, mengingatkan masyarakat agar menyiapkan uang elektronik untuk membayar parkir jika pergi ke Bandara SSK II.
 
"Jangan sampai tidak bisa keluar bandara karena gate parkir hanya bisa terbuka dengan uang elektronik," ujar Asral.
 
Asral menjelaskan, masyarakat dapat memilih berbagai jenis uang elektronik. Seperti flazz dari BCA, emoney dari Bank Mandiri dan Bank Riau Kepri, tapcash dari BNI dan brizzi dari BRI.
 
"Siapkan uang elektronik dari sekarang, yang bisa didapatkan di counter atau loket bank dimana saja yang terdekat," katanya.
 
Asral menjelaskan elektronifikasi ini merupakan upaya untuk merubah metode pembayaran dari tunai ke non tunai. Hal ini dilakukan guna menciptakan cashless society. Ia menuturkan, pembayaran non tunai untuk biaya parkir ini dapat mengurangi peredaran uang pecahan kecil.
 
Menurutnya lagi, sumber daya atau biaya untuk mencetak uang mulai dari perencanaan, pengadaan bahan, pencetakan, distribusi hingga pengolahan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
 
"Dengan pembayaran non tunai ini juga akan menghemat waktu," tukasnya.