Basrizal Koto, Urang Awak dari Riau yang Jadi Miliarder walau Tak Tamat SD

Basrizal-Koto.jpg
(Instagram @basrizal_koto)

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Latar belakang pendidikan ternyata tidak berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang. Keinginan kuat dan komunikasi yang baik membuat hidup Basrizal kota bisa berubah.

Basrizal Koto pengusaha sukses yang namanya mencuri perhatian publik. Bagaimana tidak, ia disebut sebagai salah satu profil orang sukses di Indonesia karena jejak perjalanan kariernya yang luar biasa.


Pria yang dikenal dengan panggilan Babe Basko ini sempat bekerja sebagai kernet angkot, penjahit, pedagang hingga makelar kendaraan bermotor. Tidak tamat pendidikan Sekolah Dasar (SD) tidak menjadi penghalang baginya.

70845859_2688950754493959_2239197507065333507_n.jpg

 

Basrizal Koto bersama koleksi mobilnya. Foto: Instagram @basrizal_koto

Pendidikan yang hanya sampai kelas 5 SD membuat Baskoro berpikir bahwa kemiskinan harus dilawan bukan untuk dinikmati. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi merantau ke Riau dengan izin sang ibunda, Djaninar.


Prinsip 3 K yang selalu digunakan pria kelahiran 1959 ini, memanfaatkan kesempatan, komunikasi yang baik dan komitmen tinggi dalam karier.

Kini namanya sudah terkenal lewat beberapa perusahaan yang didirikannya di bawah payung MBC Group, sebut saja PT Basko Minang Plaza (Basko Grand Mall), PT Cerya Riau Mandiri Printing (CRMP), PT Cerya Zico Utama, PT Bastara Jaya Muda (perusahan tambang batu bara), PT Riau Argo Mandiri, PT Riau Argo Mandiri Perkasa, PT Indonesia Mesh Network serta Premier Basko Hotel.

Pengusaha asal Padang Pariaman, Sumatera Barat ini pernah mendapat penghasilan hanya Rp 300, namun sekarang tentu berbeda, ia sudah menjadi pengoleksi mobil dan motor mewah seperti Lamborgini, Aston Martin, Jeep Rubicon hingga Harley Davidson.


Pencapaiannya tidak diraih dengan mudah, perlu perjuangan yang lebih untuk bisa seperti sekarang. Sosoknya kini menjadi inspirasi bagi semua orang, mempercayai segala sesuatu bisa dicapai dengan kerja keras, karena pada kenyataannya tidak ada usaha yang sia-sia.

Artikel ini sudah terbit di Kumparan.com