Razia Zebra Membawa Berkah, Aritonang Kini Jadi Marbot Mushalla Satlantas Bengkalis

aritonang.jpg
(Andrias)

Laporan: ANDRIAS

RIAU ONLINE, BENGKALIS - Musibah membawa berkah. Kata inilah terucap dari mulut Saut Manulitua Aritonang (28), warga Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Ia tidak menyangka setelah musibah didapat mampu mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.

Awalnya, Aritonang berboncengan bersama istrinya melintasi Jalan Hang Tuah menuju Simpang Geroga, Duri, dengan niat hendak mencari pekerjaan sebagai pelayan toko.

Namun, roda motor mereka tumpangi terhenti karena terjaring razia Operasi Zebra 2019. Mereka bingung, surat kendaraan bermotor tidak lengkap, dan ditambah lagi, pajak sepeda motor sudah lima tahun mati, tidak dibayar. Polantas kemudian menilang dan menahan kendaraannya.

Dari peristiwa itu tersebut, ada hikmahnya. Saut didapuk dan dipercaya sebagai petugas kebersihan atau marbot Mushalla Zikrullah, di Satlantas Polres Bengkalis, Jalan Antara.

Ditemui RIAUONLINE.CO.ID, Sabtu sore, 9 November 2019, Aritonang sedang mengepel dan membersihkan tempat wuduk mushalla terletak di sisi kanan kantor Satlantas Polres Bengkalis, Jalan Antara.

Lantai berkeramik tersebut ia gosok menggunakan sikat, kemudian disiram pakai air sehingga lantai menjadi bersih.

Berselang 20 menit, laki-laki berkulit sawo matang dan berbadan kecil itu, akhirnya berkenan diwawancarai dan berbagi pengalaman hingga ia dipercaya Kasat Lantas Polres Bengkalis, diajak hijrah ke Bengkalis.

"Sebelumnya, saya hanya bekerja serabutan. Apa sajalah saya kerjakan, buat dapat untuk bertahan hidup bersama istri," cerita Aritonang.

Ia menikahi Neta Hutauruk dan kemudian jadi mualaf, pindah agama menjadi agama Islam sejak nikah dua tahun silam. Ia bertekad kuat memang tidak gampang membawa istri jadi mualaf, namun niat sebagai kepala rumah tangga akan membawa istrinya dan membina bahtera rumah tangga sesuai ajaran agama Islam.

"Memang tidak mudah, membawa istri kita sebagai mualaf. Tentu banyak liku-liku dan rintangan selama ini kami hadapi. Namun, saya tetap yakin setelah malam pasti ada siang. Setelah kesusahan pasti ada kemudahan," ujarnya.

Sebagai seorang suami beristrikan seorang mualaf, Aritonang tetap terus menghidupi keluarga kecilnya, walaupun menjadi kuli bangunan sudah pernah dilakukan.

"Persisnya, Minggu pagi, 27 Oktober 2019, saya terpikir mencari pekerjaan. Berboncengan istri, melewati Jalan Hang Tuah mengarah Simpang Garoga. Ternyata saat itu sedang digelar Operasi Zebra dan kitapun terjaring," ceritanya.

Aritonang mengakui, sepeda motor dimilikinya dibeli saat ia masih lajang, dan baru sekali membayar pajak kendaraannya. 

"Motor saya mati pajaknya sudah 4 tahun. Sejak 2013 saya beli motor itu memang baru sekali sekali bayar pajak. Dulu saat masih lajang kadang kerja, kadang tidak," kilahnya.

Polantas kemudian menyampaikan, sepeda motornya akan ditahan, sehingga ia diharuskan melengkapi surat kendaraan dan membayar pajak sudah lima tahun tidak bayar.

"Sementara saya lagi nganggur dan sedang mencari kerja, kalau motor saya ditahan bagaimana saya mau mencari kerja," tuturnya kepada Polantas yang menangkap motornya. 

Merasa terjepit ekonomi dan tidak akan sanggup membayar pajak sepeda motonya, pasangan suami istri spontan kaget karena tidak pernah terpikir dibenak mereka harus berurusan dengan aparat baju coklat.

"Kita ceritakan apa adanya kepada petugas saat itu, tetapi petugasnya tetap akan menahan motor saya," ceritanya lagi.

Suami dari Neta inipun menemui Perwira bertanggung jawab dalam Operasi Zebra saat itu, Kasat Lantas Polres Bengkalis, AKP Hairul Hidayat.

"Saya mengaku salah. Saya siap ditilang, tapi dalam waktu dekat ataupun lama, saya tidak akan bisa membayar pajak (STNK) dan SIM, (bagaimana mau membayar) karena saya tidak bekerja," lanjut Aritonang.

Tanpa ia ketahui, istrinya, Neta menjumpai Kasat Lantas AKP Hairul Hidayat. 

"Istri saya bilang ke Pak Kasat. Percuma Pak, kalau ditahan motor suami saya, suami saya tidak akan bisa menebus karena suami saya tidak bekerja, kami ini tidak punya duit," jelasnya. 

Istrinya, saat berjumpa Kasat Lantas, secara jujur menceritakan kondisinya saat ini, sedang hamil menanti kelahiran anak meminta tolong agar sepeda motor suaminya tidak ditahan.

Sebagai seorang suami melihat istrinya menangis di depan Polisi, tidak terima dan sempat naik pitam. Lalu Aritonang mendekati Polisi tersebut dengan emosi tinggi.

"Ternyata istri saya menangis karena terharu, Pak kasat mau membantu dan membayarkan pajak kendaraan kami," ujarnya.

Sebelum ditawari pekerjaan, usai mendengar cerita susahnya hidup Saut Aritonang dan Neta Hutauruk, Kasat Lantas AKP Hairul, kemudian membayar lunas pajak motor yang menunggak 5 tahun tersebut. 

"Bahkan, (tak hanya membayar pajak motor), malahan saya diberikan kepercayaan oleh Pak Kasat menjaga serta merawat Mushalla ini," ujarnya sambil menunjuk bangunan mushalla tempat ia bersihkan sekarang. 

Selanjutnya, kata Aritonang, dengan kemurahan hati perwira lantas tersebut menawarakan dirinya pekerjaan.

"Boleh saya membantu kamu, Pak Kasat bilang seperti itu di depan istri saya yang menangis terharu mendapat bantuan dari Pak Kasat," katanya menirukan ucapan AKP Hairul.

Mendengar cerita tersebut, kenang Saut, Kasat Lantas kemudian bertanya. "Benar mau kerja? Boleh saya bantu carikan kerja? Jika iya, jumpai saya di kantor sebelum pukul 13.00 WIB. Saya mau ke Pulau Bengkalis (ibukota kabupaten)," kata Saut. 

Mendengar tawaran tersebut, Aritonang malah menjawab "Yang namanya membantu silahkan, tapi saya tidak mau terima uang dari Bapak, sedangkan saya tidak bekerja sama Bapak. Saya hanya mau motor saya tidak ditahan, karena motor itulah kaki saya mencari kerja," ujarnya.

Namun, AKP Hairul tetap bersikukuh mau membayar pajak motornya bilang mau sedekah, boleh tidak? "Saya jawab boleh," singkat Haritonang kala itu semberi meminta saya datang ke kantornya jam satu.

"Kalau kamu tidak datang jam satu siang (pukul 13.00 WIB), khawatirnya tidak jumpa saya, karena saya akan berangkat ke Bengkalis," kata Kasat dan Aritonang pun menyanggupinya.

Setelah ketemu Kasat Lantas di ruangannya, pekerja serabutan dan istrinya itu sama sekali tidak menyangka disambut penuh kekeluargaan.

"Setiba di kantor Pak Kasat, kita disambut dan dibawa ke ruangannya. Kita hanya bercerita secara kekeluargaan saja, tidak ada cerita razia. Bahkan saat itu, Pak Kasat bilang ke saya, tadi istri kamu sudah cerita, saya merasa terharu," sebutnya menirukan ucapan Kasat Lantas.

"Alhamdulillah, Kita jumpa dan bicara, ternyata STNK saya sudah diurus Pak Kasat, semua dibayarkan dan aktif hingga 2024 distempel lunas semuanya," katanya dengan rona wajah bahagia.

Aritonang mengakui, baru kali ini ia berurusan dengan polisi. Baru kali ini juga Polantas bisa mengerti dengan tugasnya. Artinya, bukan melihat kondisi lalulintas saja, akan tetapi mengetahui kondisi orang tidak mampu.

Kembali ke Kasat Lantas, AKP Hairul Hidayat masih terus menawarkan bantuanya kepada Aritonang.

"Apakah kamu betul-betul mau kerja. Saya punya mushalla di Bengkalis, kurang aktif. Apakah kamu bisa memakmurkan tempat itu?," kata AKP Hairul menawarkan pekerjaan.

Aritonang menyanggupi dan mengatakan beruntung bisa bekerja di rumah ibadah.

"Pada intinya, saya juga baru hijrah. Disamping itu, saya juga memualafkan istri saya. Sangat terharu mendapat tawaran tersebut," ujarnya dengan rasa bangga.

Ia kemudian berangkat dan diberi tempat tinggal serta gaji bulanan oleh Kasat Lantas, Rabu, 6 November 2019 lalu.

"Betul-betul atasan, menurut saya sebagai atasan Bapak itu (Kasat Lantas) termasuk orang murah hati. Bapak itu orangnya pengiba. Jarang, dan sebagai pimpinan orang tidak akan lakukan seperti itu. Kemungkinan kalau orang seperti itu ia punya hati," pungkasnya.

Bangganya Aritonang lagi Kalau kasat seperti seperti itu, dipastikan anggotanya juga akan memiliki hati kepada masyarakat yang benar-benar tidak mampu.

"Kalau saya, yakin Kasat itu kuat ibadahnya. Siapapun orangnya, kalau ibadahnya kuat, dunia ini nggak akan dipandang buat dirinya sendiri. Selalu, ia akan melihat kesusahan orang lain," tuturnya.

Ia berpikir, kalau tidak terjaring razia, tak akan mendapat nikmat seperti saat ini. Ia kemudian bersyukur. Terkadang manusia, jelasnya, tidak bisa menebak dari mana mendapat rezeki di dunia ini.

"Mungkin rezeki saya digantungkan di Bengkalis, maka saya harus kejar sampai ke sini. Itu keyakinan saya, sehingga saya menerima tawaran Pak Kasat. Pak Kasat pun yakin bulat membantu saya dan membawa saya sampai ke sini," ujarnya. 

Kasat Lantas Terharu

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Bengkalis, AKP Hairul Hidayat, Minggu, 10 November 2019, merasa terharu dengan kondisi pasangan suami istri, Saut Manulitua Aritonang (28), Neta Hutauruk (28).

Pasutri tersebut dinilainya sangat layak diberikan bantuan. Cerita Kasat Lantas, saat terjaring Operasi Zebra, istri Saut, Nita menghampirinya mengeluh agar sepeda motor suaminya tidak ditahan. Alasannya, tidak akan mampu membayar pajak karena suaminya tidak bekerja.

"Katanya saat itu, jangankan membayar pajak, dapat bertahan hidup saja kami sudah bersyukur Pak," cerita AKP Hairul menirukan perkataan Nita, istri Aritonang.

Selain itu, Nita sedang hamil. Ia melihat kejujuran istri Aritonang, sedang hamil, tetap gigih mendukung suaminya mendapatkan pekerjaan.

"Terharu saja, apalagi kondisinya sedang hamil. Saya teringat istri saya yang baru saja melahirkan anak kedua. Saya pikir mereka memang layak dibantu," kata AKP Hairul.

Terkait pekerjaan, sesuai arahan Kapolres Bengkalis, AKBP Adiwuryanto, mengintruksikan kepada polisi Polres Bengkalis agar mensejahterakan Mesjid dan Mushalla di kepolisian.

"Tentunya, seizin dari Kapolres. Saya pikir tidak ada salahnya kita menawarkan pekerjaan di Mushalla yang ada di Satlantas ini," ujar AKP Hairul.

Sedangkan, segala keperluan selama bekerja sebagai Marbot Mushalla di Satlantas Polres Bengkalis, AKP Hairul sudah mempersiapkan kebutuhan mereka.

Dari penginapan, sebuah rumah berada di belakang kantor Satlantas Bengkalis, Jalan Antara, hingga kebutuhan pokok akan diterima selama bekerja membersihkan Mushalla Satlantas.

"Nama dia sudah kita masukan sebagai pekerja di kantor ini. Artinya, segala kebutuhan baik kesehatan mereka di tanggung juga oleh Satlantas Polres Bengkalis," tuturnya.

Ditanya, berapa jumlah tunggakan pajak sepeda motor milik Aritonang selama 4 tahun, dan besumber dana dari mana, AKP Hairul Hidayat dengan nada bercanda menyebutkan, dari Hamba Allah.

"Sebagai manusia, kita kan sudah seharusnya saling membantu kepada saudara kita yang benar-benar membutuhkan. Kebetulan kita juga butuh seseorang yang bisa mengaktifkan kembali Mushalla kita ini," pungkasnya.