Kapolda Riau: Tidak Ada Lagi Sekolah Marjinal, Tapi Sekolah Harapan

kaplda-dan-murid-sd.jpg
(sigit)

Laporan: Sigit Eka Yunanda

RIAUONLINE, KAMPAR - Dua belas orang murid, dua kelas bangunan reot yang tidak layak, akses menuju sekolah yang sulit serta semangat belajar yang pantang surut ditimpa keadaan yang serba kurang. Tak ayal masyarakat dan pemerintah sering menyebutnya SD Marjinal.

Bukan, ini bukanlah review singkat film Laskar Pelangi. Namun kondisi ini benar-benar ada di Provinsi Riau, tepatnya di dusun tiga, desa Batu Sasak, Kampar Kiri. Sekolah ini sejatinya telah berdiri sejak 2006 sebagai sekolah cabang . Namun demikian tidak pernah mendapat dukungan pemerintah.

Faktor jumlah murid menjadi kendala sekolah ini tidak kunjung diperbaiki. Namun berkat semangat para pengajar serta para murid-muridnya sekolah ini tetap bertahan meski dalam keadaan serba kurang.

Akhirnya bantuan datang dari salah seorang anggota Kepolisian Polda Riau, yakni Rolan Manurung yang lantas membangun gedung sekolah menjadi gedung permanen menggunakan uang tabungan bahkan sampai harus menjual perhiasan sang istri.

Tidak percuma, bak pembuka pintu rezeki, berkat viralnya berita tersebut bantuan lain pun mulai datang. Terkini Kapolda Riau,Irjen Agung Setia Imam Efendi datang berkunjung dan meninjau langsung lokasi tersebut.

Tepat Kamis 31 Januari 2019, pukul 10.30 Kapolda tiba menggunakan helikopter. Tidak hanya datang berkunjung, Kapolda bahkan sempat mengajarkan matematika sederhana kepada anak-anak tersebut. Dengan penuh semangat anak-anak SD ini pun maju ketika Bapak Kapolda mengajak mereka ke depan.

Tidak tanggung-tanggung, empat orang langsung maju dan menjawab pertanyaan bapak Kapolda. Tidak hanya itu ketika ditanya apa cita-citanya, dua orang anak menyebutkan bahwa mereka ingin menjadi polisi. Hal ini disambut dengan doa dari bapak Kapolda, bahkan mereka diberi kesempatan mencoba baret serta memegang tongkat komando.

"Suatu hari semoga bisa menggantikan Kapolda" ujarnya berkelakar.

Momen mengharukan terjadi ketika seorang anak membacakan puisinya bahwa mereka tidak akan lagi mengeluh dan terus bersemangat. Terlihat mata Kapolda yang baru saja dilantik ini berkaca-kaca.

Kapolda juga menyebutkan bahwa sebutan sekolah Marjinal hendaknya tidak lagi digunakan merujuk pada artian kata tersebut yang berarti terpinggirkan, ia menegaskan bahwa sekolah ini adalah sekolah harapan.

"Sekolah ini tidak boleh disebut sekolah marjinal, tapi sekolah harapan. Tidak hanya harapan desa dan adik-adik namun juga harapan Indonesia."

Kapolda juga tidak luput berterimakasih dan memuji sang penolong yakni Rolan Manurung.

"Ini adalah aksi natural dan nyata dari salah satu Bintara kita yang membangun sekolah ini menggunakan uang tabungannya, Rolan Manurung. Ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa, ini lah nilai kita untuk saling membantu ketika saudara kita kesusahan."

Lebih jauh Kapolda ingin hal ini dapat berdampak lebih luas kepada masyarakat di Riau. "Kami ingin melihat ke lapangan secara nyata, hal-hal apa yang ada. Kami ingin bekerja sama dengan guru, dengan dinas pendidikan, dengan dinas-dinas lain untuk bersama-sama membangun mewujudkan Indonesia maju," ujarnya.

Tidak hanya murid-murid antusiasme pun luar biasa menanti kehadiran bapak Kapolda. Orangtua murid san sejumlah masyarakat bahkan sudah menanti sejak pagi. Meski tidak bisa berlama-lama sebab ada agenda lain yang harus ditunaikan Kapolda sempat berdialog dengan warga sekitar yang menyampaikan keluhannya.

Akhirnya Kapolda pun berangkat sekitar pukul 12.00 dengan diiringi warga yang menyesaki lapangan terbang.