Warga Riau Sakit Hati dengan Pernyataan Wiranto Asap tak Separah Diberitakan

Wiranto.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/BNPB)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Warga Riau berjumlah 6 juta lebih korban terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), sakit hati dengan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, menyatakan asap Riau, tidaklah separah diberitakan.

Halimi, warga Pekanbaru kepada RIAUONLINE.CO.ID, Kamis, 19 September 2019, mengatakan pernyataan Wiranto tak berdasar. Kunjungan Wiranto selama dua hari di Riau dan sebatas berada di Pekanbaru dan lokasi lahan padam bekas terbakar tak seharusnya menyimpulkan kalimat tersebut.

"Sebagai pejabat negara, saya rasa kurang pas beliau mengatakan hal itu. Dua pekan siswa diliburkan. Setiap hari kami menghirup udara berbahaya. Pernyataan beliau menyakitkan hati kami," katanya.

Baca Juga: Bayi 3 Hari Di Pekanbaru Tewas Akibat Hirup Asap Berbahaya

Hal serupa juga disampaikan Fitri, ibu rumah tangga hingga kini terus khawatir dengan asap pekat. Bagi seorang ibu dengan bayi di  bawah balita, meminta pemerintah sebaiknya berusaha maksimal melakukan penanggulangan dibanding meluncurkan komentar seperti itu.

"Saya sudah mengungsikan anak ke pos kesehatan karena tak lagi memungkinkan bertahan di rumah. Sebaiknya fokus saja dengan upaya penanggulangan maksimal, jangan komentar yang justru memperburuk keadaan," ujarnya.

 

Hingga hari ini, kualitas udara di Riau masih pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya. BMKG Stasiun Pekanbaru menginformasikan, jarak pandang di Kota Pekanbaru hanya 700 meter.

"Jarak pandang di Pekanbaru 700 meter, Pelalawan 400 meter, Indragiri Hulu 500 meter, Kota Pekanbaru 700 meter dan Dumai 1,2 kilometer," ujar Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Marzuki.

Marzuki menjelaskan, terbatasnya jarak pandang tersebut dikarenakan kabut asap yang sangat pekat di 4 kabupaten se Provinsi Riau.

"Empat wilayah diselimuti kabut asap yakni Pekanbaru, Indragiri Hulu, Dumai dan Pelalawan," kata Marzuki.

Kami ini, titik panas di Riau mencapai 141 titik. Dari jumlah itu, ada 94 titik yang dipastikan akibat dari kebakaran hutan dan lahan.

Titik panas paling banyak di Indragiri Hilir 45 titik, disusul Indragiri Hulu 34 titik, Pelalawan 28, Kampar 12 titik, Rokan Hilir 11 titik, Kuansing 6 titik, Rokan Hulu 3 titik, Bengkalis 2 titik. 

Klik Juga: Tolak Bantuan Gubernur Anies, Pemprov Riau Dinilai Kekanak-Kanakan

Sedangkan titik api yang berjumlah 94 titik itu paling banyak ditemukan di Indragiri Hilir yakni 24 titik, Indragiri Hulu juga 24 titik. Lalu disusul Pelalawan 22 titik. Kampar 9 titik, Rokan Hilir 6 titik, Kuansing 4 titik, Rokan Hulu 3 titik, dan Bengkalis 2 titik. 

Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat jumlah kasus kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan terkait dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang merupakan dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2019 mencapai 304.900 kasus.

"Jumlah kasus kunjungan per Januari hingga September 2019 terdapat 304.900 kasus kunjungan," kata Kepala Dinas Kesehatan Riau Mimi Yuliani Nazir.

Mimi mengakui jika berdasarkan data statistik yang dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Riau, jumlah kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan untuk memeriksakan diri akibat terdampak ISPA terus meningkat.

Bahkan, sepanjang September 2019 ini saja, masyarakat yang mengunjungi layanan kesehatan akibat ISPA se Riau mencapai 24.589 kunjungan.

Angka ini berpotensi terus meningkat mengingat kualitas udara di sejumlah wilayah di Riau berada pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya akibat Jerebu Karhutla.

"Dilihat dari data statistik hari perhari terjadi peningkatan masyarakat ke pelayanan kesehatan untuk memeriksa kesehatan terkait ISPA," ujarnya.