Ketika Bulan Menulis Puisi untuk Presiden Jokowi soal Asap

Bulan-terima-kursi-roda-Jokowi.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Meski sudah berpuluh-puluh tahun berteman akrab dengan kabut asap, namun baik Pemprov Riau maupun Pemerintah Pusat ternyata belum bisa menjinakkan gas beracun ini.
 
Walau kebakaran hutan dan lahan selalu menjadi "dagangan" para politisi dalam mencuri hati masyarakat di setiap pemilihan, baik saat Pilkada maupun Pilpres namun rakyat Riau lagi-lagi dikecewakan oleh para pemenang Pemilu.
 
Bagai "dagangan" politik setiap perhelatan Pemilu, bencana kabut asap terus saja dilestarikan.
 
Kebakaran hutan bahkan seolah membedakan Riau dengan provinsi lain yang ada di Indonesia. Pembedanya, Riau memiliki musim yang tak dimiliki semua provinsi, yakni musim asap.
 
Ketika tenggorokan dipenuhi asap dan lisan mulai berangsur berkurang, mungkin tulisan lah solusi menyampaikan keluhan pada yang berwenang.
 
Bulan Karunia Rudianti, bocah perempuan usia 12 tahun di Pekanbaru turut serta menyumbangkan puisinya dalam upaya menyuarakan kondisi Riau kepada masyarakat Indonesia.
 
Sebelumnya bocah difabel ini juga pernah menulis, bahkan suratnya langsung ditanggapi oleh Presiden RI Joko Widodo hingga diundang ke Istana.
 
Saat itu, Bulan meminta kepada mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut untuk diberikan hadiah, karena saat itu Jokowi gencar memberikan hadiah sepeda kepada anak-anak yang dijumpainya.
 
Berbeda dengan anak-anak lainnya, Bulan yang memiliki kekurangan fisik hanya meminta kursi roda saja agar bisa beraktivitas seperti anak-anak.
 
Semoga saja puisi yang diciptakan Bulan kembali ditanggapi oleh Presiden Jokowi, dan kabut asap di Riau serta beberapa provinsi lainnya segera teratasi
 
 
Berikut puisi Bulan diterima RIAUONLINE.CO.ID Jumat malam, 13 September 2019, berjudul "Direnggut Asap" : 
 
 
Kini kotaku mulai berkabut, bukan embun ataupun halimun
 
Pandanganku yang dulu terang
 
Kini berubah menjadi buram
 
 
Kabut asap merajalela
 
Kepung negeri mengancam jiwa
 
Jatuhkan korban dimana mana
 
 
Napas kami menjadi sesak
 
Mata kami menjadi perih
 
Pandangan kami menjadi kabur
 
Serasa kami rabun senja
 
 
Tuhan, aku berharap kau turunkan hujanmu
 
Basahi bumi kami
 
Agar kami bisa menghirup udara bersih
 
 
Tuhan, bantu kami
 
Kami ingin asap ini segera pergi
 
Agar kami bisa mewujudkan mimpi