Siasati Larangan Merun, Warga gunakan Teknologi untuk maksimalkan lahan

mesin-pencacah.jpg
(sigit)

Laporan: Sigit Eka Yunanda

RIAUONLINE, PEKANBARU - Sejak lama tradisi merun atau membakar sisa-sisa dedaunan di ladang telah dilakukan oleh warga desa di Siak. Misalnya saja pada desa Lalang, kecamatan Sungai Apit yang telah menjadikan merun sebagai sebuah tradisi. 
Namun berdasarkan aturan terbaru tentang pembukaan lahan tanpa bakar merun termasuk kegiatan yang dilarang.

Hal ini dikarenakan bahaya membakar lahan di daerah gambut yang sangat mudah terbakar. Baik yang merambat melalui tanah maupun ketika terbawa angin dan jatuh ke tempat lain.

Meski sempat merasa produksi menurun namun akhirnya masyarakat juga tetap harus menuruti hal tersebut mengingat adanya sanksi hukum jika ketahuan melanggar.

Sisa-sisa abu yang tertinggal usai merun merupakan pupuk alami bagi tanaman. Sehingga wajar saja jika ketiadaan pupuk alami ini membuat produktivitas tanah menjadi menurun. Menyiasati hal tersebut, warga desa melalui pendampingan konsorsium YMI menggunakan sistem smart farming untuk menggenjot produksi lahan. Teknologi ini sendiri diprakarsai oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) - Bapenas oleh Dosen Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada yang juga salah satu tenaga ahli ICCTF.

Beberapa teknologi yang digunakan antara lain yaitu sistem deteksi cuaca dan kelembaban di daerah sekitar lahan sehingga petani dapat memperkirakan seberapa banyak tanah yang dibutuhkan secara tepat. Kedua alat ini terhubung ke aplikas RiTX Bertani yang berjalan di sistem android. Kendati masih belajar hal ini dinilai sangat membantu para petani.

"Ya lumayan lah, sangat membantu dan ga terlalu capek menyiram. Biasanya bisa kebanyakan siram malah ga bagus. Tapi aplikasinya saya ga paham. Teman saya yang tau," ujar ibu Halimah Sa'diyah salah seorang petani yang mengolah demplot percontohan desa Lalang.

Selain itu, demplot percontohan ini juga menggunakan sistem organik tanpa menggunakan pupuk sintetis. Sebagai pengganti pupuk sintetis lahan ini menggunakan Pupuk F1 M-Bio untuk menetralisir PH tanah.

F1 M Bio merupakan campuran berbahan dasar sisa buah atau kulit nenas, tomat busuk, kemudian dicampur tepung tapioka, terasi, dan gula pasir dan kotoran ayam. Yang dimasak dimasak selama 30 menit dan didiamkan 18 Dengan harga berkisar 40 ribu per satu liter, pupuk ini dapat dicampur dengan 60 liter air, dan bisa digunakan untuk satu hektare lahan," ujar Doni, salah seorang ketua kelompok tani desa Lalang.

Meski demikian Doni mengakui bahwa menanam tanpa merun ini menurunkan kualitas tanaman yang terlihat kurang hijau dan kecil jika dibandingkan dengan tanaman dengan merun. Meski demikian ia mengatakan bahwa tanaman ini jelas lebih sehat karena tanpa unsur kimia.

Oleh karena itu ia berharap pendampingan dengan YMI dapat mencari dan mengolah pasar hasil kebun organik sehingga harga bisa lebih mahal.

Hal ini diaminkan oleh YMI yang menyebutkan bahwa akan didatangkan alat berupa mesin pencacah untuk mengolah hasil pertanian tersebut.