Janda 9 Anak, Begini Cerita Ibunda Laila Musfidatul Kuliahkan Anaknya di UIN Suska

thayybah-dan-anaknya-laila.jpg
(istimewa)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Thayyibah (48) menangis terisak-isak saat menceritakan kronologi dirinya bersama anaknya Laila Musfidatul yang dibebankan biaya uang kuliah 4 juta lebih setiap semesternya.

Akibatnya, Laila harus mengurungkan niatnya untuk menjadi mahasiswa di kampus UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru sebelum beberapa donatur datang menolong.

Kepada Riau Online, Thayyibah bercerita kala ia datang ke Pekanbaru dari Rokan Hulu guna mengikuti prosesi wawancara Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada calon mahasiswa baru.

Saat diwawancarai, pihak kampus menyatakan bahwa Laila harus membayarkan uang sebesar Rp. 4,14 juta setiap semesternya karena masuk dalam kategori UKT V meski akhirnya diturunkan menjadi UKT IV Rp. 3,6 juta.

Padahal, Laila saat itu sudah bercerita kalau dirinya merupakan anak ke 6 dari 9 bersaudara dan ia sudah menjadi anak yatim sejak 11 tahun yang lalu.

"Ayahnya meninggal 11 tahun lalu, anak saya yang pertama waktu itu masih kelas 2 SMA, adik-adiknya masih sangat kecil," ujar Thayyibah.

Tak hanya itu, Thayyibah juga harus menghidupi keluarganya sendiri tanpa bantuan keluarga sebab ia selalu disisihkan oleh keluarganya karena selain miskin ia juga punya banyak anak.

Selain itu, karena sudah merasa disisihkan Thayyibah juga mengaku minder untuk berkomunikasi dengan keluarga besarnya.

Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, Laila menjalankan rutinitasnya sebagai guru pesantren, sebab ia tidak bisa mengajar di sekolah karena hanya lulusan Mts.

"Mau kerja di mana lagi, saya cuma tamat MTs, tapi saya sudah kuasai kitab kuning, makanya bisa jadi pengajar di sana," ceritanya sambil tersedu-sedu.

Selain mengajar, Thayyibah juga terkadang mengisi ceramah di beberap masjid dan itu cukup membantu perekonomian ia dan anaknya. Namun tak jarang ia tidak mendapatkan honor dari masjid ataupun mushalla.

Saat ini, Thayyibah hidup bersama sejumlah anak yatim di panti asuhan yang ia kelola berkat hibah rumah dan tanah pemberian jemaah di tempat ia kerap berceramah.

Panti asuhan ini, kata Thayyibah, cukup jauh dari perkotaan sehingga minim bantuan dari pemerintah namun berkat kerja kerasnya hingga hari ini sudah ada 6 donatur yang bersedia membantu panti asuhan ini.

Di panti asuhan ini, Thayyibah hidup bersama dua orang anaknya, dan tujuh orang lainnya sudah hidup pisah dengan dia termasuk Laila.

Dua orang di Jakarta, satu orang di Medan, dua orang di Ujung Batu, satu orang adiknya masih Sama di Pasir Pangaraian dan dua orang adik Laila tinggal bersama Thayyibah di kampungnya. Semua anak Thayyibah belum ada yang berkeluarga.

"Di panti asuhan ini ada beberapa anak yatim dan anak terlantar. Sepedih-pedihnya kami masih bisa hidup, saya malah pernah tiga hari tidak makan," ceritanya.

Kini, Thayyibah menghadapkan adanya bantuan kepada anaknya Laila, karena saat ini salah satu anaknya juga berkuliah di Medan berkat bantuan salah seorang donatur walau meskipun sesekali ia harus menumbok ketika bantuan macet.

"Kemarin saya malah membayar 6 juta rupiah, itu pun hasil pinjam sana sini," tandasnya.

Untuk semester pertama, Laila sudah bisa membayarkan uang kuliah berkat bantuan dari salah seorang penulis di Jakarta dan hal tersebut sangat disyukuri oleh Thayyibah karena Laila sempat sedih karena terancam tak bisa kuliah.

"Saya bilang ke dia, sekarang kuliah saja dulu, mudah-mudahan nanti ada rezeki lagi," tutupnya.