Pulau yang Hilang dalam Gempa dan Tsunami Donggala

Gempa-Donggala-dan-Pau.jpg
(AFP)


RIAU ONLINE - Donggala, Sulawesi Tengah diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,4, yang sebelumnya di awali gempa magnitudo 6. Tsunami 1,5–2 meter kemudian menerjang Palu dan Donggala.

Gempa dan tsunami besar sebelumnya pernah terjadi pada 1938 dan 1968. “Pada 1938 terjadi gempa yang hebat menyebabkan air laut naik menyapu rumah-rumah dan pohon kelapa rakyat di sepanjang pantai Kampung Mamboro, di tepi pantai Barat Kabupaten Donggala,” tulis Masyhuddin dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Sulawesi Tengah, melansir Historia.id, Minggu, 30 September 2018.

Newsletter, Vol. I No. 3 (5 September 1968) yang diterbitkan International Tsunami Information Center di Hawaii mencatat, dua gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 1968.

Pada 10 Agustus 1968, gempa bermagnitudo 7,3 terjadi dengan pusat gempa di Laut Sulawesi. Badan Penanggulangan Bencana Alam Indonesia mengumumkan bahwa gelombang tsunami besar menyapu kawasan pantai di Donggala. Peristiwa itu menelakan korban dua ratus orang tewas dan banyak rumah hancur terutama di desa pesisir Tambu.

Tsunami bahkan menghantam Pulau Tuguan di lepas pantai Sulawesi Utara yang berpenduduk beberapa ratus orang. Diberitakan Majalah Tempo, tsunami setinggi 8-10 meter menghantam Pantai Donggal, Teluk Mapaga, dan Pulau Tuguan hingga melabrak pantai sejauh 300 meter.

Akibatnya 800 rumah hancur dan 200 orang meninggal dunia.

“Pada bulan Agustus 1968 sebuah kampung bernama Mapaga, terletak di pantai Barat Kabupaten Donggala lenyap ke dalam laut sebagai akibat gempa bumi yang cukup kuat,” tulis Masyhuddin.

Gempa kedua terjadi pada 14 Agustus 1968 bermagnitudo 7,4 dengan pusat gempa di Laut Sulawesi. Kantor berita Antara memberitakan gempa ini hasil gelombang tsunami besar yang mengakibatkan Pulau Tuguan tenggelam sepenuhnya dan menghilang.

Petugas polisi yang dikirim dari mercusuar Mangalihat di Pulau Borneo tidak menemukan jejak Tuguan atau penduduknya. Gempa bumi juga mengakibatkan gunung berapi di Pulau Sangihe dan Talaud di ujung utara Pulau Sulawesi mulai bergemuruh dan mengeluarkan asap.

Tiga minggu kemudian, gempa kecil masih terus terjadi dan aktivitas gunung berapi di Talaud dan Sangihe mengancam 200.000 orang yang tinggal di pulau itu. Pihak berwenang pun meminta kapal untuk membantu evakuasi warga.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id