Rumbai, Dumai, dan Sandiaga Salahuddin Uno

Miftah-Sandiaga-dan-Chandra.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

RIAU ONLINESandiaga Salahuddin Uno. Nama ini sejak sepekan menjadi huah bibir di pentas perpolitikan nasional, apalagi ia kemudian digandeng Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres), berpasangan dengan 08, sapaan Prabowo. 

Bagi tanah Melayu, Riau, di bumi Lancang Kuning inilah kali pertama darahnya tertumpah. RIAUONLINE.CO.ID, mulai hari ini, Rabu, 15 Agustus 2018, menyajikan cerita atau sebuah Catatan dari sahabatnya, anak Riau juga, bernama Miftah Nur Sabri, dalam bingkai Catatan Miftah Nur Sabri.

Berikut isi catatan Miftah Nur Sabri: 

Beginilah bentuk akta lahir doi (Sandiaga Salahuddin Uno). 

Dari daftar kelahiran Untuk Bangsa Indonesia di Dumai kenjataan bahwa di Rumbai pada tanggal duapuluhdelapan Djuni seribusembilanratusenampuluhsembilan telah lahir

SANDIAGA SALAHUDDIN UNO

Anak laki laki dari suami istri insinjur RAZIF HALIK UNO dan Doktoranda RACHMINI kedua duanya tinggal di Dumai

Petikan ini sesuai dengan kenjataan hari ini.

Demikian kira-kira bunyi kutipan akta lahir Bang Sandi yang lagi ngehit di kalangan Mak Mak satu dua hari ini. Karena pencatatan kelahiran anak menganut azas domisili, bukan peristiwa. 

Lahir di Rumbai, dicatatkan di Dumai. Saat itu jangan dibayangkan Dumai, Rumbai, Duri sudah seperti sekarang ini. Kala itu masih belantara.

Petikan Akte Lahir Sandiaga Uno

 

 

Maklum saja ini terjadi di tahun 1969 dan 1970, tentu secara administratif Pekanbaru dan Dumai belum serapi sekarang. Dumai masih bagian dari Kabupaten Bengkalis.

Seiring dengan ditemukannya Blok Rokan yang membentang sepanjang pesisir Provinsi Riau dikelola Caltex Pacific Indonesia kemudian menjadi Chevron Indonesia (sekarang), maka datanglah insinyur-insinyur muda Indonesia ke belantara Sumatera ini.

Om Henk dan Bu Mien termasuk pasangan muda memulai mimpi keluarga muda di rimba Sumatera ini. Minyak-minyak dari Rumbai, Minas, dan Duri disuling di kilang minyak Pertamina di Dumai.

Pekerja minyak di Rumbai, Minas, Duri, Dumai, awal-awal pasti kenal dengan "Pak Uno, Pak Uno". Demikian mereka menyebut Ayahnda dari Bang Sandi.

Siapa yang tinggal di komplek Bukit Jin dan Komplek Sebanga Duri, Pak Uno, turut membangunnya. Di Riau lah, di Bumi Melayu, tanah tumpah darah Bang Sandi. Tanah tempat darahnya pertama kali tertumpah lewat terburainya tali pusar Sandi kecil dari Ibunda Mien.

Bang Sandi banyak cerita bagamana suka dukanya tumbuh di Riau. Bermain dengan anak anak baik di komplek dan bermain dengan anak anak kampung di luar komplek. Suatu hari Sandi kecil terdengar bercarut oleh Ibu Mien.

Ya, kami anak-anak laki-laki tumbuh di Dumai, biasalah kalau sedang main dengan teman sebaya, mengumpat dengan bercarut. Sebagai bagian hidup berkembang sebagai laki-laki di Melayu yang beriteraksi dengan berbagai suku bangsa datang ke sana misal dari Jawa, Minang, Batak, Ambon, dan suku bangsa lainnya se-nusantara.

Mendengar Sandi kecil bercarut. Menyebut angka empat. Bu Mien langsung mengamuk. Bang Sandi langsung diseret ke rumah. Bilang apa tadi.

Dia dengan lugu menyebut kembali carutan tersebut. Empat. Bu Mien langsung dengan sigap ke dapur mengambil cabe giling dan mengolesnya ke bibir dan memasukkannya ke dalam mulut bang Sandi. "Sejak saat itu saya kapok dan tidak lagi berani bercarut" cerita Sandiaga, suatu kali kepada saya.

Mendengar cerita tumbuh dan besar di Riau ini, saya suka ketawa. Main ke sungai dengan airnya yang coklat. Nonton tinju dengan satu-satunya tv di komplek.

Masuk ke hutan ngejar biawak juga hal yang dilewati Bang Sandi di Dumai, Duri, dan Rumbai. Maklum Bang Sandi terus pindah pindah sesuai tugas Om Henk.

Bagian bercarut ini bagian paling favorit. Karena menorehkan luka dan trauma masa kecil. Tentunya kita sesama anak laki-laki tumbuh di Sumatera punya pengalaman serupa.

Saya juga begitu. Ketahuan bercarut oleh Bunda saya. Maka habislah saya "kanai lado". Diolesi cabe oleh Bunda saya di Dumai.

Sekarang Budak kecil yang pernah bercarut dan "Kanai Lado" itu dijemput takdir menjadi Calon Wakil Presiden Republik Indonesia, mendampingi Pak Prabowo Subianto. Budak yang darahnya tertumpah kali pertama di Bumi Melayu. Bumi lancang kuning.

Semoga Allah meridhai perjuangan dan ikhtiar beliau.

Untuk perihal ini saya tanya. "Gimana perasaan?"

"Semua sudah tertulis di lauhul mahfudz siapa yang akan jadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2019, tugas kita hanya ikhtiar. Lakukan yang terbaik, hasil kita serahkan pada kuasa Allah"

Itu jawaban Bang Sandi.

Selamat berikhtiar my brother Uno. Run Uno. Run!