Aktual, Independen dan Terpercaya


Sederet Upaya Pembunuhan Bung Karno

Presiden-Soekarno-di-Makassar.jpg
(Historia.id/geheugenvannederland.nl.)

RIAU ONLINE - Soekarno, pernah dua kali mengalami upaya pembunuhan di Makassar. Pada 1960, ia menjadi sasaran mortir sebelum terjadinya penggranatan di Jalan Cenderawsih. Insiden itu dikenal sebagai Peristiwa Mandai.

“Masih dua kali lagi upaya pembunuhan terhadapku. Keduanya di Makassar,” kata Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Setiba di lapangan terbang Mandai, rombongan Presiden Soekarno melanjutkan perjalanan ke Kota Makassar dengna pengawalan lengkap. Dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967, menurut Mangil Martowidjojo, dalam perjalanan menuju Kota Makassar inilah, rombongan Presiden Soekarno ditembaki gerombolan dengan mortir, namun tidak mengenai sasaran.

Sontak rombongan menjadi kacau, terlebih lagi jip CPM (Corps Polisi Militer) pengawal yang ada di depan mobil Bung Karno mogok, sehingga Mayor Sudarto Perang harus mendorong mobil itu ke pinggir. Dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Makassar setelah jip CPM diganti dengan jip polisi. Setibanya di perbatasan kota, Bung Karno dijemput dengna jip kap terbuka, karena akan disambut rakyat di kanan-kiri jalan.

“Waktu Bung Karno mengadakan rapat raksasa, para duta besar mengatakan sungguh Bung Karno itu hebat. Habis ditembaki begitu gencar, tetapi tetap tenang dan malahan berani naik kendaraan terbuka. Bagaimana kalau di antara rakyat itu ada pengacaunya dan menembaki Bung Karno?” kata Mangil, melansir Historia.id, Sabtu, 2 Juni 2018.

Menurut Wakil Komandan Tjakrabirawa, Maulwi Saelan, pelaku penembakan mortir itu merupakan gerombolan Kahar Mudzakkar, seorang pemimpin DI/TII Sulawesi Selatan. Kahar, sebelumnya adalah pemimpin Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Kemudian Kahar marah, setelah tuntutan agar KGSS dibentuk menjadi brigade sendiri yaitu Brigade XVI, yang diajukannya kepada Kolonel Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium VII/Wirabuana ditolak.

Anhar Gonggong dalam Abdul Qahhar Mudzakkar Dari Patriot Hingga Pemberontak, berpendapat bahwa mereka beranggapan pemerintah RI pimpinan Presiden Soekarno telah menginjak-injak siri’ –tidak hanya bermakna malu yang dalam, tetapi juga mempertahankan harga diri dengan mempertaruhkan nyawa– mereka.

"Karena menolak diri mereka untuk menjadi anggota APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) dan membentuk suatu kesatuan tersendiri dengan nama pahlawan kebanggan mereka, Hasanuddin," ungkap Anhar.

Kendati pelaku peristiwa Mandai itu tidak tertangkap, namun perlawanan Kahar dan pengikutnya berakhir setelah dia ditembak mati pada 3 Februari 1965.

Dengan dua peristiwa di Makassar, Sukarno telah lima kali menjadi sasaran pembunuhan. “Peristiwa keenam kalinya terjadi ketika suatu hari Bung Karno dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta dalam satu iring-iringan. Bung Karno melihat sendiri seorang laki-laki dengan gerak-gerik aneh seperti maling,” kata Maulwi.

“Saat berada dalam iring-iringan, aku melihat seorang laki-laki dengan gerak gerik aneh, sembunyi-sembunyi,” kata Sukarno. “Ketika kami lewat, kulihat dia berancang-ancang melemparkan granat. Matanya menangkap mataku, dan ada sesuatu kekuatan yang menghentikan maksudnya. Dalam waktu sepersekian detik itu mobilku sudah berada di luar batas pelemparan.”

Kadjat Adra’i dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno, mengatakan upaya pembunuhan Soekarno lainnya terjadi pada Peristiwa Rajamandala. Kala itu berawal dari kunjungan balasan Ketua Presidium Tertinggi Uni Soviet, Kliment Yefremovich Voroshilov. Tak hanya berkunjung ke Surabaya dan Bali, Voroshilov juga mengunjungi Bandung ditemani Presiden Soekarno. Dari Bandung, perjalanan berlanjut ke Jakarta dengan mobil. Rute perjalanan saat itu melewati kawasan tetirah Puncak yang sejuk, mampir di Kebun Raya Cibodas, Istana Cipanas, dan Istana Bogor.

Sehari sebelum rombongan berangkat, rute itu dilalui seorang Letnan I CPM dengan jip Willys, sebuah jembatan panjang yang dikenal dengan Jembatan Rajamandala. Dilihatnya, ada penjagaan satuan Polisi Militer di kedua ujung jembatan tersebut. Hal ini membuatnya bertanya-tanya, “Mengapa ada penjagaan?”

Sesampai di Jakarta, dia langsung menanyakan hal tersebut ke markas CPM Jalan Merdeka Timur. Ternyata, tidak ada perintah untuk menempatkan satuan CPM di Jembantan Rajamandala. “Jadi satuan itu pasti Dl/TII. Dia kemudian ingat, tanda kesatuan yang dikenakan gugus tugas gadungan itu tidak sebagaimana mestinya,” tulis Kadjat Adra’i.

“Karena pembersihan lewat cara konvensional yaitu melalui serangan darat, AURI dikontak. Dua pesawat Mustang P51 dikerahkan, kemudian kawasan sekitar Rajamandala disapu bersih,” Kadjat Adra’i menambahkan.

Menurutnya, sewaktu rombongan Voroshilov bersama Presiden Soekarno lewat, tak tampak tanda-tanda bahwa beberapa jam sebelumnya terjadi kontak senjata di sana.

Dalam almanak upaya pembunuhan terhadap tokoh, Terrorism in the 20th Century, Jay Robert Nash menyebutkan Peristiwa Rajamandala itu terjadi pada 25 Mei 1957, “Kliment Yefremovich Voroshilov, ketua presidium Rusia, menjadi target dari upaya pembunuhan yang gagal di Indonesia.”

Setidaknya sudah tujuh kali Sukarno akan dibunuh. Namun, dia selalu selamat. Sukarno pun meyakini, “Selama hidupku ada Kekuatan Maha Tinggi yang mengawal, memimpin, dan melindungiku. Mungkin di satu waktu salah satu dari usaha pembunuhan ini akan berhasil dan mereka berhasil membunuh Sukarno. Kalaupun saatnya datang, ini terjadi karena Dia menghendakinya. Aku tidak gentar.”