Aktual, Independen dan Terpercaya


4 Kisah Perjuangan Kemerdekaan di Riau yang Wajib Anda Ketahui

Lukisan-Perjuangan-Kemerdekaan-di-Riau.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/SAAN)

RIAUONLINE.CO.ID, PEKANBARU - Provinsi Riau menyimpan banyak kisah heroik masyarakatnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa lampau. Peperangan di Bagan Siapiapi bahkan penyerangan secara mendadak kolonialisme Belanda di Rengat tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja. Begitu pula cerita Sultan Siak yang secara sukarela menyerahkan harta kekayaannya sebesar 13 juta Golden untuk modal kemerdekaan Indonesia, hingga puncaknya pemuda Riau mengibarkan bendera kemerdekaan merah putih di Pekanbaru. Bagi kita di Riau, tentunya pernah mendengar selentingan saja kisah perjuangan itu. RIAUONLINE.CO.ID kembali mengajak pembaca untuk mengulas 4 cerita peristiwa masa lampau yang terjadi di Riau mempertahankan kemerdekaan hingga berkibarnya sang merah putih di bumi lancang kuning ini.

Klik link pada judul berita untuk membaca artikel lebih lanjut:

1. 68 Tahun Silam, 2.600 Warga Rengat Dibantai Belanda, Termasuk Ayah Chairil Anwar

Kota Rengat, ibukota Kabupaten Indragiri, Riau, pagi hari dikejutkan dengan meraung-raungnya pesawat Belanda di atas langit disertai dengan terjunnya para prajurit.

Ini merupakan langkah awal sebelum akhirnya, Belanda melakukan pembantaian terhadap rakyat Rengat dan Kabupaten Indragiri. Termasuk di dalamnya, Bupati Toeloes, ayah kandung penyair kawakan Indonesia di zaman Kemerdekaan, Chairil Anwar.

Letnan Himron Saheman, mantan Bupati Bengkalis, kini Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Riau, mungkin satu-satunya saksi hidup yang masih tinggal, berusaha mempertahankan markas Batalion III/Resimen IV/Divisi IX Banteng.

2. Kibarkan Bendera China, Bagansiapi-Api Berubah Jadi Lautan Api

Tak banyak yang tahu ternyata di Provinsi Riau ada peristiwa seperti Bandung Lautan Api, di Jawa Barat, dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Belanda, 1945-1949. Itu adalah kejadian Bagansiapi-api Lautan Api. 

Bedanya, jika Bandung Lautan Api merupakan upaya bumi hangus prajurit Divisi Siliwangi saat long march ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, maka Bagansiapi-api Lautan Api antara pejuang Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan para kelompok China.

Peristiwa sejarah ini bermula dari keinginan orang-orang China untuk ambil alih kekuasaan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Indonesia. Alasan mereka, China sebagai sebuah negara merupakan pemenang Perang Dunia II bersama Sekutu. Sehingga mereka ingin menjadikan Bagansiapi-api sebagai bagian negara mereka.

3. Sultan Siak Serahkan 13 Juta Gulden Untuk Modal Indonesia Merdeka

Selama 71 tahun sejak usai penyerahan kekuasaan, harta dan kehormatannya kepada Republik Indonesia sebagai seorang sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura, baru tahun 2016, pemerintah meresmikan patung atau tugu yang menggambarkan penyerahan tersebut. 

Tugu Penyerahan Kesultanan Siak kepada Republik Indonesia ini menggambarkan perjuangan Sultan Syarif Kasim II (SSK II) sebagai seorang nasionalis sejati.

Bupati Siak, Syamsuar kepada RIAUONLINE.CO.ID, Kamis, 21 Juli 2016 malam, di kediaman dinas Bupati menceritakan, Sultan Syarif Kasim II saat penyerahan kekuasaanya kepada Soekarno, tahun 1945, disertai dengan pemberian uang sangat banyak.

4. Inilah Kisah Pengibaran Merah Putih Pertama Di Pekanbaru

Kabar Indonesia sudah merdeka ditandai dengan Proklamasi oleh Soekarno dan Muhammad Hatta, pada 17 Agustus 1945, baru sampai ke telingan pemuda di Pekanbaru, Riau, lima hari kemudian, 22 Agustus 1945.

Kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu diterima melalui telegrafis Pemuda PTT Pekanbaru, Basrul Jamal. Namun, ia belum berani mengungkapkannya kepada pemuda lain karena situasi Pekanbaru ketika itu masih dikuasai Jepang, negara yang kalah perang.

Berselang delapan hari kemudian, 30 Agustus 1945, barulah Basrul Jamal dan para pemuda tergabung dalam Angkatan Muda PTT Pekanbaru, kemudian menyebarluaskan teks Proklamasi tersebut, usai mendapat kabar kepastian utusan yang datang dari Sumatare Barat.