Aktual, Independen dan Terpercaya


Kata Amril Mukiminin, Baru Andi Rachman yang Bikin Proyek Air Bersih Terbesar di Riau

Cagub-Andi-Rachman-di-Bengkalis.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

LAPORAN: HASBULLAH TANJUNG

RIAU ONLINE, BENGKALIS - Bupati Bengkalis Amril Mukiminin mengatakan Gubernur Riau non aktif Arsyadjuliandi Rachman sudah berbuat banyak untuk masyarakat Riau. Andi Rachman katanya sangat layak memimpin Riau untuk kedua kalinya periode 2019-2024.

Amril sebagai bupati juga sudah sering diajak bekerja sama dalam membangun daerah. Tidak hanya proyek pengembangan wisata Pulau Rupat, Amril dan Andi Rachman juga terlibat dalam proyek prestisius Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Dumai, Rokan Hilir dan Bengkalis (Durolis).

"Inilah proyek penyediaan air minum terbesar di Riau. Melibatkan tiga kabupaten dan kota. Tanpa heboh heboh, beliau berhasil meyakinkan pusat mengahdirkan proyek tersebut di Riau," ujarnya saat mendampingi kampanye dialogis cagub Riau nomor 4, Andi Rachman di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Kamis, 3 Mei 2018.

Proyek yang lebih dikenal dengan SPAM Durolis ini progres pembangunannya positif dan belum ada kendala berarti. Untuk itu, ia mengajak warga Bengkalis untuk memilih pasangan calon nomor 4, Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno pada pemilihan 27 Juni 2018 mendatang.

Arsyadjuliandi Rachman mengucapkan ribuan terima kasih atas dukungan dari warga Bengkalis. Andi Rachman mengatakan SPAM Durolis dipastikan akan mengatasi kebutuhan air minum di tiga daerah yakni Rokan Hilir, Bengkalis, dan Kota Dumai.

“Saya prihatin karena sering mendapatkan keluhan warga keterbatasan sumber air bersih. Terkadang mereka mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk mendapatkan air bersih," ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan program SPAM Durolis mengalami kemajuan berarti setelah ground breaking dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, Senin, (21/8/2017), di Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir. Dijadwalkan awal 2019 sudah dioperasikan.

Proyek ini akan menghabiskan anggaran Rp760 miliar yang bersumberkan dari APBN, APBD Riau, dan APBD ketiga kabupaten/kota itu. "Tahap pertama sebesar 400 liter/detik ini sudah dimulai pembangunannya pada 2017," jelasnya.

Pada tahap awal operasi SPAM ini melayani enam kecamatan di Dumai, empat kecamatan di Rohil, dan dua kecamatan di Bengkalis.

Di mana masing-masing Sambungan Rumah (SR) yang akan terbangun di Dumai 15.000 SR, Rohil sebanyak 10.000 SR, dan Bengkalis sebanyak 15.000 SR. Untuk sumber air yang digunakan dalam pembangunan air minum Durolis, sebut Andi Rachman, berasal dari Sungai Rokan yang menjadi sumber air baku satu-satunya yang layak digunakan untuk ketiga wilayah tersebut.

Selanjutnya, calon Gubernur Riau Nomor urut 4 ini menuturkan, kabupaten/kota nantinya secara teknis melalui perusahaan daerah air minum (PDAM) masing-masing menyalurkan ke masyarakat melalui SR. Setidaknya, ditargetkan akan dibangun 40.000 SR yang terbagi Dumai 15.000 SR, Rohil 10.000 SR, dan Bengkalis 15.000 SR, dengan jumlah pemanfaat 200 ribu jiwa.

Ditargetkan, fisik SPAM Regional Duralis rampung akhir 2018 atau awal 2019 untuk empat kecamatan di Rohil sudah operasi. Sedangkan Dumai dan Bengkalis segera diaktifkan pada 2019.

Selain sebagai sumber air bersih yang mampu melayani kebutuhan 40.000 rumah, proyek ini ungkap Andi Rachman, juga akan dijadikan sebagai ikon pariwisata andalan di Riau, khususnya bagi Rohil. Karena akan dibangun tower di tempat pengumpulan air, dan tempat ini akan dijadikan ikon pariwisata pesisir Riau. Pada lokasi ini juga rencananya akan ada museum air untuk studi tour siswa sekolah di Riau. Keberadaan proyek ini juga diharapkan akan menyumbangkan pendapatan asli daerah, khususnya bagi Rohil.

"Alhamdulillah, dengan berjalannya proyek itu, InsyaAllah akhir 2018 warga Rohil bisa menikmati air minum yang bersih. Ini merupakan sejarah baru bagi Dumai, Rohil, dan Bengkalis," ujar Andi Rachman.

Ia menambahkan Riau patut bersyukur karena atas kesungguhan pemerintah provinsi dan jajarannya, proyek ini mendapat dukungan penuh dari pusat. Pasalnya, ada beberapa daerah lain di Indonesia yang masih tertunda dan belum bisa menjalankan proyek serupa.