Aktual, Independen dan Terpercaya


OK Nizami Jamil Sebut Ada Kisah Percintaan Dirinya di SMAN 1 Pekanbaru

OK-Nizami-Jamil.jpg
(Azhar Saputra)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tokoh Melayu Riau, OK Nizami Jamil menyebutkan banyak kenangan manis yang sayang untuk dilupakan selama dirinya mengecap pendidikan di SMAN 1 Pekanbaru yang kini akan dijadikan sebagai sekolah cagar budaya untuk kawasan kota Pekanbaru.

Termasuk didalamnya kenangan cinta-cintaan dirinya. Pria yang menciptakan tari makan sirih persembahan yang kini menjadi tarian khas dari provinsi Riau itu mengatakan meskipun tak menyebutkan nama pacarnya terdahulu, disekolah inilah cinta pertamanya tumbuh mekar bersemi.

"Banyak sekali kenangan disekolah SMAN 1 Pekanbaru ini. Termasuk pacaran kecil-kecilan," katanya di ruang multimedia SMAN 1 Pekanbaru, Rabu, 18 April 2018.

Sambil kembali mengingat, pria yang telah menulis 25 buku sejarah Melayu Riau ini mengatakan usai belajar kemudian dirinya beristirahat, di belakang sekolah ini mereka berdua dan teman-temanya bercanda gurau duduk sambil menikmati hembusan semilir angin sepoi-sepoi di bawah rindangnya pohon bunga tanjung.

"Saya juga masih ingat, disana dulu diujung itu dulu masih ada pohon bunga tanjung. Kami disana sambil duduk-duduk membawa minuman ringan, bercanda-canda," tambahnya.

Namun dirinya menyayangkan bahwa pohon yang dapat tumbuh tinggi hingga 15 meter tersebut dan mampu mengeluarkan wangi-wangian khasnya ditebang untuk pendirian penambahan ruang sekolah baru yang kini lebih dikenal dengan sebutan SMANSA itu.

"Tapi sayang pohong bunga tanjung dibelakang itu sudah tidak ada ditebang oleh kepala sekolah yang baru disini," katanya sambil menunjuk kearah belakangnya.

Selain kenangan percintaan dan pohon tanjungnya, pria yang memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai sekretaris pribadi dari raja Siak Sri Indrapura, Sultan Syarif Kasim II itu juga turut mengatakan bahwa disekolah ini juga dirinya menjadi angkatan pertama yang menyelesaikan ujian akhir tingkat nasional.

"Waktu itu di Pekanbaru ini belum ada yang namanya SMA Negeri, yang ada sekolah swasta. Saya pindah dari Bukittinggi tahun 1955 kemudian sekolah ini dibangun. Tahun 1958 saya kelas III yang merupakan angkatan pertama yang melaksanakan ujian akhir disini," jelasnya.

Kini bangunan lama dan pertama didirikan yang berbentu huruf U bersebelahan dengan gedung bertingkat baru dipilih sebagai salah satu cagar budaya yang nantinya akan dinilai sebagai kebanggaan bagi masyarakat Kota Pekanbaru.

Bangunan tersebut sampai saat ini kondisinya masih tetap dipertahankan, kokoh berdiri dimana posisinya tepat berada di depan sekolahan ini.(2)