Gubernur Andi Rachman Sulap Pariwisata Riau Jadi Primadona

Jumat-Adv-Pemprov-1.jpg
(Azhar Saputra)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Bermodalkan instruksi dari Presiden RI, Joko Widodo yang menempatkan pariwisata sebagai sektor unggulan dalam pembangunan selain infrastruktur, maritim, pangan dan energi, kini sektor pariwisata nasional menyumbangkan devisa serta penyerapan tenaga kerja bagi negara.

Bahkan sektor ini menjadi primadona baru bagi pembangunan nasional yang diperkirakan pada tahun 2019 akan mengalahkan pemasukan devisa dari industri kelapa sawit (CPO).

Selain itu, sektor ini juga dijadikan sebagai core economy. Hal itu karena komoditas ini yang kondisinya paling sustainable, menyentuh level bawah juga selalu meningkat mengalahkan minyak dan gas bumi, batu bara dan kelapa sawit.

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya mengungkapkan bahwa untuk membangun sebuah destinasi wisata harus diperhatikan Atraksi, Aksesibilitas, Amnenitas (3A) ditambah keseriusan pemimpin daerah dalam membangun destinsi wisata.

"Peran Gubernur, Bupati, Walikota, itu menentukan 50 persen kesuksesan daerah dalam membangun sektor pariwisata diiringi dengan komitmen. Maka semua program dengan mudah akan berjalan. Begitu pun sebaliknya. Karena tugas pemimpin itu menentukan arah dan mengalokasikan sumberdaya," katanya.

Advertorial Pemprov Riau

Tambahnya, keseriusan dari pemimpin derah akan terlihat dari bagaimana memprioritaskan sumber daya dan anggaran untuk sektor pariwisata seperti mengalokasikan anggaran untuk pariwisata.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Riau yang kini dipimpin oleh Arsyadjuliandi Rachman bergerak cepat dengan membuat jargon Riau The Homeland of Melayu pada hari jadi provinsi Riau ke-58 tahun 2015 lalu.

Andi Rachman optimis dengan adanya jargon barunya itu ditambah dengan kekayaan budaya yang dimiliki oleh provinsi Riau akan dapat mendorong sektor pariwisata yang akhirnya berdampak kepada peningkatan ekonomi masyarakat.

"Provinsi Riau memiliki keindahan alam dan kekayaan kebudayaan ciri khas Melayu yang sangat luar biasa. Dengan modal dasar ini kita harus optimis dalam mendorong sektor pariwisata. Sampai saat ini jumlah kunjungan wisatawan yang datang terus ada peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan pariwisata Riau telah berhasil meraih prestasi nasional dengan mendapatkan juara umum pada kegiatan Anugerah Pesona Indonesia 2017 yang digelar oleh pihak Kementerian Pariwisata," jelasnya.

Tambahnya, keberhasilan itu merupakan hasil kerja keras pemerintah ditambah sinergitas stakeholder terkait seperti akademisi, swasta, pemerintah, media dan komunitas.

Data yang berhasil dirangkum oleh Puslitbang Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menunjukkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang berasal dari Bandara internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sebanyak 40,2 persen yang menempatkan provinsi Riau pada posisi nomor dua nasional pertumbuhan kunjungan wisman yang datang ke Pekanbaru. Sedangkan pada urutan pertama diraih oleh Bandara internasional Sam Ratulangi Manado dengan jumlah pertumbuhan kunjungan sebanyak 256,7 persen.

Sedangkan untuk jumlah realisasi wisman berasal dari pintu masuk bandara internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru pada priode bulan Januari sampai November masih pada urutan ke-13 nasional.

Pada priode bulan Januari sampai November 2016 sebanyak 28,623 wisman dan pada priode bulan yang sama di tahun 2017 kunjungan wisman yang datang ke Riau sebanyak 36,842 orang.

Jumlah ini mengalami kenaikan sebanyak 8,219 wisman. Sedangkan pada posisi pertama realisasi kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2017 berdasarkan pintu masuk terbanyak adalah Bandara internasional Soekarno Hatta provinsi Banten dengan jumlah wisman 2,532,218 orang disusul Bandara Internasional Ngurah Rai Bali dan Bandara internasional Kuala Namu Medan.

Advertorial Pemprov Riau

Dinas Pariwisata Provinsi Riau mencatat, untuk jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang berasal dari pintu masuk utama dan di luar pintu masuk utama mencapai 91.484 orang melebihi jumlah pada tahun 2016 yaitu 66.130 orang. Jumlah ini terjadi peningkatan kunjungan wisman sebanyak 25,354 orang.

Bahkan jumlah tersebut juga sudah melampaui target pada tahun 2017 yang mencapai 54.388 orang. Suksesnya Pemprov Riau dalam mengelola sektor pariwisatanya tak terlepas juga dari ketersediaan Sumber Daya Pariwisata (SDP) yang handal.

Dinas Pariwisata (Dispar) provinsi Riaubekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Lancang Kuning Nusantara, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) dan didukung juga oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kota se-Provinsi Riau telah melaksanakan kegiatan pembinaan dan sertifikasi tenaga kerja bidang pariwisata.

Pembinaan LSP Bidang Pariwisata diperuntukan kepada tenaga di bidang pariwisata dalam bentuk kegiatan bimbingan teknis manajemen pengelolaan objek pariwisata dengan sasarannya para pemilik dan pengelola objek wisata serta tenaga kerja hotel dan restoran. Maksud dan tujuan kegiatan ini yang pertama adalah agar terlaksananya sertifikasi terhadap tenaga kerja dalam bidang pariwisata di Provinsi Riau dalam bentuk kegiatan uji kompetensi. 
Ke-dua adalah tersusunya pola perjalanan pariwisata di Riau agar bertambahnya pola perjalanan pariwisata di Riau yang siap menjadi paket pariwisata dalam bentuk kegiatan penyusunan bentuk atau model perjalanan paket wisata. Berdasarkan hasil rekapitulasi data kegiatan sertifikasi tenaga kerja bidang pariwisata LSP Lancang Kuning Nusantara, jumlah tenaga kerja di sektor Hotel dan Restoran, Kepemanduan wisata, Biro perjalanan wisata yang telah mengikuti pembinaan dan sertifikasi sebanyak 2482 orang. 
Kegiatan ini dibiayai melaui APBD, APBN dan biaya mandiri. Upaya untuk meningkatkan dan pembinaan sadar wisata serta pengembangan pariwisata kepada masyarakat, Kementerian Pariwisata bersama Pemerintah provinsi Riau juga menggelar lomba Sapta Pesona yang dilaksanakan di Pekanbaru pada 7-8 Oktober 2017 lalu. Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan dan pembinaan sadar wisata, serta pengembangan pariwisata kepada masyarakat.

Total hadiah yang diberikan, uang tunai sebanyak 72 juta rupiah. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan citra mutu produk juga pelayanan, penerapan sapta pesona dalam kehidupan sehari-hari sekaligus ajang apresiasi terhadap kelompok Sadar Wisata yang ikut mengembangkan pariwisata.

Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Kemenpar, Dadang Rizky Ratman mengatakan bahwa Kemenpar bersama Dinas Pariwisata di daerah tak ingin tampil seadanya dalam menyambut wisatawan. Setelah promosi besar-besaran digeber hingga level internasional, masyarakat juga perlu diperkuat kesiapannya.

"Langkah ini bisa menciptakan community pariwisata yang kuat. Di situlah ekosistem industri pariwisata akan hidup lebih subur dan handal. Gubernur, Bupati dan Walikota di daerah, yang langsung berhubungan di depan dengan masyarakat harus lebih banyak berperan untuk menciptakan sadar wisata di level yang paling dasar, masyarakat," jelasnya.

Selanjutnya, dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Riau, Pemprov Riau selalu berupaya menggali potensi di daerah yang bisa dikembangkan untuk dijadikan menjadi objek wisata.

Pada bulan Juni tahun 2017 lalu, Kadis pariwisata (Kadispar) Riau, Fahmizal Usman beserta jajaranya melakukan eksplorasi ke dusun tiga Teluk Jering, Desa Kanidai, Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

Dari hasil eksplorasi itu, lokasi di Teluk jering diketahui terdapat Pulau yang dijuluki oleh warga sekitar dengan sebutan Pulau Cinta dan pasir yang menyerupai pantai sehingga bisa dikembangkan menjadi objek wisata keluarga, komunitas dan penggiat wisata lainya.

Melihat kondisi ini, selanjutnya Dispar Riaubersama masyarakat Teluk Jering serta didukung juga oleh Kemensosmas BEM Universitas Riau dan komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Riau membentuk tim untuk mendorong Dusun tersebut menjadi tempat wisata yang bisa dinikmati oleh pengunjung dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Dari hasil laporan data yang dirangkum oleh Ketua kelompok sadar wisata Teluk Jering, Husni Mubarak jumlah kunjungan wisatawan datang ke objek wisata yang saat ini dikelolanya itu mengatakan, kunjungan wisatawan yang datang ke objek wisata sudah sebanyak 91,285 orang. Begitu juga dengan perputaran uang di teluk jering pada hari Sabtu sampai Minggu dari hasil berjualan makanan minuman, sewa sampan, banana boat dan parkir mencapai 70 juta rupiah per harinya.

Selain di dusun tiga Teluk Jering, Dispar Riaubersama komunitas penggiat wisata GenPI Riau, My Trip My Adventure (MTMA) Riauserta menggandeng media massa lokal dan nasional melakukan eksplorasi ke Bukit Suligi desa Aliantan kecamatan kabun kabupaten Rokan Hulu.

Kunjungan ke Bukit yang dijuluki samudera awan yang membuahkan hasil cukup mengejutkan menjadi pemberitaan di media online dan media sosial menjadi viral di masyarakat. Ribuan warganet banyak berkomentar positif dan penasaran ingin berkunjung ke Bukit Suligi Aliantan yang memiliki ketinggian 812 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Selain itu ekonomi kreatif yang diterapkan oleh Pemprov Riau dijadikan konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama.

Ada 16 sub sektor ekonomi kreatif seperti, Aplikasi dan Pengembangan Permainan, Arsitektur, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Desain Produk, Fashion, Film, Animasi dan Video, Fotografi, Kriya, Kuliner, Musik, Penerbitan, Periklanan, Seni Pertunjukan, Seni Rupa, dan yang Televisi dan Radio.

Kepala Dinas Pariwisata Riau, Fahmizal Usman menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan pelaku ekonomi kreatif ini tujuannya adalah untuk melahirkan, serta menumbuh kembangkan pelaku ekonomi kreatif di Riau yang tersebar di Kabupaten dan kota.

"Para pelaku ekonomi kreatif yang mengikuti kegiatan ini, secara kepariwisataan hasil produksinya bisa menjawab dan mengisi kebutuhan pada pos-pos destinasi wisata di Riau khususnya dan destinasi nasional secara umum," ucapnya.

Secara garis pada kegiata bimbingan itu diberikan beberapa agenda, yaitu soft skill dan managerial skill. Dari agenda tersebut ada beberapa materi pokok yang disampaikan yaitu motivasi usaha, pengenalan potensi diri pelaku usaha, pengembangan potensi diri pelaku usaha.

Selanjutnya, Life cycle produk, Pengembangan produk Ekonomi Kreatif berbasis kearifan lokal dan berorientasi eksporf, Prinsip Entrepreneur, Manajemen Usaha (SDM, Pembukuan, Penasaran dan Produksi). Guna mendorong 16 sub sektor tersebut, Dinas Pariwisata provinsi Riau pada Bidang Ekonomi Kreatif terus berbenah diri.

Dalam rangka membantu memasarkan hasil karya yang diproduksi oleh para pelaku ekonomi kreatif, Dispar Riau membentuk Riau Crative Centre (RCC) serta membuat situs web,riaucreativecentre.id.

RCC sendiri terdiri dari dua item yakni, fisik dan non fisik. Item fisik yang dimaksud adalah penyediaan sarana prasarana bagi pelaku ekonomi kreatif dalam suatu wadah atau wilayah. Sedangkan non fisik adalah menyediakan sarana dan prasarana sebagai pusat informasi.

Baik fisik maupun non fisik itu bertujuan untuk, pertama, memberi wawasan dan edukasi kepada pelaku ekonomi kreatif dan membantu mempromosikan hasil-hasil produksi para pelaku ekonomi kreatif sekaligus sebagai sarana komunikasi serta data base dinas pariwisata provinsi Riau yang akan dipublikasikan melalui ruang pamer, media massa dan internet.

Dalam mencapai suksesnya tujuan kepariwisataan, tentunya diperlukan elemen-elemen pemasaran yang cepat dan tepat sasaran, diantaranya melalui pencitraan atau dikenal dengan istilah branding.

Dalam pengembangan kepariwisataan branding semakin penting terutama pada era teknologi informasi saat ini. Kegiatan ini menjadi salah satu tren yang biasa digunakan oleh individu, kelompok masyarakat, institusi sosial dan komersil juga pemerintah.

Guna mendorong kegiatan pemasaran pariwisata Riau, Dispar Riau bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI, juga telah melaksanaan kegiatan sosialisasi branding Pesona Indonesia dengan melibatkan 150 orang peserta yang berasal dari, perwakilan Dinas Pariwisata se-provinsi Riau, Akademisi, pelaku usaha, komunitas dan stakeholder terkait lainnya.

Tambahnya, pentingnya peranan branding, dapat mendorong pemerintah untuk mensosialisasikan branding pariwisata. Hal ini disebabkan oleh beberapa poin diantaranya, upaya untuk menegaskan reputasi produk pariwisata agar berpola sesuai dengan mindset kekinian, teknologi, trend wisata yang esensi dasarnya adalah berangkat dari nilai-nilai originalitas dan keunikan lokal.(advertorial)