Aktual, Independen dan Terpercaya


Masya Allah, 2 Hari 100 Ha Lahan Taman Nasional Tesso Nilo Dibakar

Kawasan-Taman-Nasional-Tesso-Nilo-Dibakar.jpg
(TIMSATGAS KARHUTLA FOR RIAUONLINE.CO.ID)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kembali terbakar. Kebakaran ini telah terjadi sejak kemarin, Minggu, 3 Juli 2016 lalu, dengan membakar areal konsesi seluas 80 hingga 100 hektare kawasan konservasi tersebut.

 

Kasibaseops Disops Lanud Roesmin Nurjadin, Mayor Lek Ferry Duwantoro mengatakan, perkiraan pilot pesawat air tractor yang melakukan pemantauan, luas lahan telah terbakar di TNTN mencapai 80 hektare.

 

"Informasi kita dapatkan dari pihak TNTN, Mulyo Hutomo, kebakaran di sana sudah mencapai seratus hektare dalam dua hari ini," kata Ferry dalam pesan pendek, Senin, 4 Juli 2016.

 

Baca Juga: Salahkan Warga Membakar, PT SRL Akui HTI Mereka Terbakar

 

Dari Foto yang diambil pilot air tractor BNPB, terlihat kawasan lahan terbakar merupakan bekas rambahan masyarakat dari hutan lindung TNTN yang masih tersisa.

 

Perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo

TIM SATGAS UDARA KARHUTLA

DALAM foto ini terlihat bagian yang sudah dirambah para perambah untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) pada Kabupaten Pelalawan, Senin, 4 Juli 2016.

 

"Hingga kini kita masih menyelidiki penyebab kebakaran apakah dibakar secara sengaja atau karena faktor alam," ujar Ferry.

 

Kondisi TNTN kian mengkhawatirkan setiap tahunnya. Meski luas kawasannya mencapai 83 ribu hektar lebih, tapi menurut Kepala Balai TNTN, Tandya Tjahjana, ketika itu, lebih dari 50 persen kawasan telah ditambah masyarakat tempatan menjadi perkebunan sawit.

 

Kebanyakan para perambah itu bukan orang tempatan atau asli yang bermukim di sekitar kawasan penyangga TNTN, melainkan para pendatang.

 

"Banyak dari daerah Sumatera Utara atau dari daerah Jawa. Ini yang membuat kita sulit sekali membabat perambahan ini sampai selesai," ungkap Tandya pada RIAUONLINE.CO.ID, Kamis, 3 Maret 2016 lalu.

 

Klik Juga: BPBD RIAU: Jika Pembakar Lahan Bebas Sia-sia Usaha Pemadaman

 

Faktor lain membuat sulitnya menghentikan praktik perambahan di TNTN karena terbukanya akses jalan dari berbagai sisi sehingga membuat sulitnya pemantauan dilakukan secara ketat.

 

"Akses jalan itu sudah ada mengelilingi TNTN makanya kita tak bisa sepenuhnya memantau secara menyeluruh jika ada praktik perambahan yang terjadi. Kita cuma punya 18 penjaga saja yang berjaga secara bergantian. Jika jumlah ini dibandingkan dengan total luas lahan TNTN yang ada maka sulit sekali untuk menjaganya," keluh Tandya.

 

Simak berita Pekanbaru Kota Sampah lainnya dengan klik di sini.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline