Abu Sayyaf, Bapak Ahli Pedang Hingga Tukang Sandera

Milisi-Abu-Sayyaf.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINE - Nama Abu Sayyaf menjadi terkenal sejak 10 tahun belakangan ini, terutama sekali usai kelompok bersenjata di daerah Filipina Selatan menyandera 10 Warga Negara Indonesia. 

 

Kelompok ini menganggap aksinya seperti menyandera dengan target Warga Negara Asing (WNA) dan Warga Filipina sendiri, dikaitkan dengan Agama Islam.

 

Padahal faktanya, Kelompok Abu Sayyaf dikenal tanpa ampun memenggal sandera serta musuhnya. Warga Indonesia tak luput jadi sasaran penculikan.

 

Baca Juga: Lagi, 4 Anak Buah Kapal Indonesia Diculik

 

Siapa dan bagaimana sepak terjang organisasi separatis di Filipina ini? portal berita Jerman, dw.com, menyajikannya sejak pertama kali terbentuk, perpecahan di kelompok tersebut, hingga kesukaaan mereka menyandera WNA, tanpa memandang agama dianut sanderanya. 

 

Kelompok Abu Sayyaf

 

Melawan invasi Soviet di Afghanistan

Abu Sayyaf Group (ASG) didirikan sekitar tahun 1990 oleh Abdurajak Abubakar Janjalani, semakin radikal setelah berpergian ke negara-negara Timur Tengah. Tahun 1988, Janjalani dilaporkan berjumpa Osama bin Laden di Pakistan dan berjuang bersama melawan invasi Soviet di Afghanistan. Setelah itu, ia mulai mengembangkan misinya mengubah wilayah Filipina Selatan menjadi negara Islam.

 

Merekrerut Eks MNLF

Setelah secara permanen kembali ke Filipina dari Timur Tengah, Janjalani merekrut anggota dari Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) yang kecewa dengan organisasinya, untuk menjadi cikal bakal ASG. Eks-MNLF ini dikenal lebih radikal dalam ideologi mendirikan negara Islam independen daripada mantan organisasi induknya.

 

Klik Juga: Abu Sayyaf Umumkan Batas Waktu Tebusan Lewat Video

 

Lokasi geografis dan jumlah anggota

Abu Sayyaf dalam bahasa Arab berarti bapak ahli pedang. Kelompok bersenjata Abu Sayyaf terdiri milisi berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, seperti Jolo dan Basilan. Menurut kantor berita Associated Press, jumlah pengikutnya hingga 2015 sekitar 400 orang.

 

Milisi Bersenjata Abu Sayyaf

 

Militer dan WNA jadi sasaran

Sepanjang 1990-an, ASG beralih menggunakan aksi kekerasan guna mendapatkan pengakuan, antara lain terlibat dalam pemboman, penculikan, pembunuhan, dan serangan terhadap pemeluk Kristen dan orang asing. ASG juga membidik militer Filipina sebagai sasaran kekerasan.

 

Janjalani tewas, ASG pun retak

Setelah pasukan polisi Filipina tewaskan Janjalani dalam baku tembak 1998, ASG retak. Satu faksi dipimpin saudaranya, Khadaffy Janjalani, faksi lain dipimpin Galib Andang. Ketika aliran dana Al Qaida berkurang, kelompok teror itu mencari uang lewat penculikan. Tahun 2000, ASG menculik 21 orang dari sebuah resor di Malaysia. 

 

Jadi target operasi anti teror AS

Sebagai buntut dari serangan Al Qaida 11 September, 2001 di Amerika Serikat, ASG juga jadi target pasukan AS dan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) di bawah Operation Enduring Freedom. Galib Andang ditangkap tahun 2003.

 

Konsolidasi dan serangan mematikan

ASG konsolidasi lagi & lakukan beberapa serangan besar di awal 2000-an. Termasuk serangan paling mematikan di Manila Bay yang menewaskan 116 orang tahun 2004. Terpidana terorisme Indonesia Umar Patek, pernah didapuk jadi anggota Majelis Syura Abu Sayyaf pada tahun 2005-2006. Kini ia menawarkan bantuan negosiasi guna bebaskan 10 sandera asal Indonesia.

 

Lihat Juga: Siapakah Kelompok Militan Abu Sayyaf?

 

Penculikan dan pemenggalan

Sejak 2007 ASG sering mengancam untuk memenggal kepala sandera jika tak diberikan uang tebusan. Kebanyakan korban penculikan adalah warga Filipina, orang asing di Filipina selatan, termasuk wisatawan dan pekerja asing. Beberapa analis dan pejabat pemerintah menilai ASG lebih menyerupai geng kriminal daripada sebuah organisasi ideologis.

 

Abu Sayyaf

 

Terkecil, tidak dianggap, tapi paling radikal

Lantaran tidak diajak bernegosiasi, ASG 2014 silam berusaha melemahkan putaran terakhir perundingan damai antara pemerintah dan separatis Filipina. Juli 2014, ASG menewaskan 21 Muslim yang merayakan akhir Ramadhan di Jolo, sebagai balasan atas dukungan mereka dalam proses perdamaian. Di tahun yang sama 2 warga Jerman diculik Abu Sayyaf. Operasi pembebasan dilakukan besar-besaran.

 

Mendukung ISIS

Tahun 2014 sekelompok orang yang mengaku anggota ASG memublikasikan video untuk mendeklarasikan loyalitas terhadap ISIS. Para ulama dan pejabat percaya bahwa kesetiaan ASG kepada IS semata-mata untuk mempromosikan kepentingan sendiri. IS diyakini tidak memberikan dana atau dukungan material lain untuk ASG.

 

Sandera Jerman dibebaskan

Bulan September 2014, ASG mengancam akan membunuh sandera Jerman, menuntut Jerman membayar tebusan dan menarik dukungannya kepada AS. Stefan Okonek dan Henrike Dielen ditangkap pada April 2014 ketika kapal pesiar mereka mengalami kerusakan di sekitar Pulau Palawan, Filipina. Dua sandera ini akhirnya dibebaskan 17 Oktober 2014 setelah para militan mendapat uang tebusan.

 

Pembebasan warga Italia

Selain 10 sandera warga Indonesia, beberapa warga asing ikut menjadi korban penculikan dan ancaman pemenggalan tahun ini. Satu di antaranya,warga Italia, Rolando Del Torchio, yang dibebaskan April silam. Saat ini Abu Sayyaf dipimpin oleh Isnilon Hapilon, seorang warga Filipina yang kini jadi buronan Amerika.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline