Inilah Kisah Orang Betawi Merantau ke Pekanbaru

Edi-Tabrani-Loper-Koran.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Mengenakan kaos putih lusuh dan celana pendek hitam serta beralas sandal jepit, laki-laki paruh baya ini berjalan saban hari berkeliling Kota Pekanbaru dari pagi hingga malam.

 

Laki-laki itu merangkul puluhan eksemplar koran harian ia jajakan kepada setiap orang ia jumpai. Edi Tabrani, pria mengaku asli Betawi ini merantau ke Pekanbaru dan menekuni pekerjaan sebagai loper koran harian.

 

Edi menceritakan, ia tak pulang ke rumah jika koran yang diambilnya masih banyak belum terjual. "Kalau belum banyak terjual jarang saya langsung pulang, biasanya saya cari daerah yang masih ramai untuk jual koran yang saya bawa," ungkap Edi kepada RIAUONLINE.CO.ID, Selasa (29/12/2015). (Baca Juga: Libur Panjang Warga Riau Beramai-ramai Umrah ke Tanah Suci

 

Koran harian yang ia jual bukan hanya semacam namanya. Mulai dari Riau Pos, Tribun Pekanbaru, Metro Riau, Pekanbaru MX, Haluan Riau dan Harian Vocal. Semua koran harian itu dibawanya, sebab pelanggan tak semacam juga.

 

"Masyarakat itu bukan cuma cari satu merek koran saja, tapi juga lainnya. Makanya yang dijual juga lebih banyak. Karena kalau kita bilang tidak jualan koran satu atau koran A, maka kita secara sengaja sudah menghilangkan satu pelanggan kita," ungkapnya yakin.

 

Awal-awal menjual koran, ia berjalan kaki dengan menyusuri jalan-jalan seperti Paus, Tuanku Tambusai, Achmad Dahlan, Cempedak, hingga perkantoran di Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru.

 

Dari usaha kerasnya tersebut, Edi belum lama ini sudah mampu membeli sepeda motor guna memudahkannya mengambil koran ke bagian sirkulasi media. 

 

Tak hanya itu, dari berjualan koran tersebut, loper koran beranak satu ini rata-rata berpenghasilan Rp 4 juta per bulan. Jika dirata-ratakan, pendapatan itu melebihi penghasilan seorang pekerja kantoran. (Klik Juga: Anda Mudah Mengantuk? Waspadai Gejala Penyakit Ini

 

"Saya sebenarnya takut karena jika saya sudah tua atau sakit, saya tak akan bisa lagi berjalan menjajakan koran. Semakin hari tenaga saya makin berkurang karena umur semakin menua. Ketika hal itu terjadi maka hal saya takutkan adalah keluarga saya. Saya takut tak bisa lagi mensejahterakan mereka dengan keringat saya sendiri," tutur lelaki asal Jakarta ini.

 

Edi mulai menjajakan koran saat jarum jam menunjukkan pukul 04.00 usai dicetak dan ia langsung didistribusikan langsung ke pelanggan dengan mengendarai motor baru ia beli.

 

Ia mengatakan, omzetnya berkurang saat musim hujan dan asap yang melanda Pekanbaru selama tiga bulan. Pendapatannya bisa turun drastis hingga setengahnya, bahkan kurang dari itu.

 

"Kalau hujan saya kesulitan menjajakan koran, sebab jika korannya basah, pembeli urung membelinya. Mending kalau cuma basah bisa dikeringkan, tapi kalau rusak saya yang tanggung kerugiannya, sebab kertas koran gampang rusak. Sedangkan saat asap, warga malas buka pintu. Pintu rumah itu selalu saja tertutup dan tak terbuka. Mereka jadi malas keluar rumah," keluhnya.

 

Dalam darah laki-laki 47 tahun ini mengalir darah Betawi dan Tionghoa. Ia dilahirkan di daerah Mangga Besar. Ia merantau dari Jakarta ke Pekanbaru pada 2009 lalu. (Lihat Juga: Buruh Angkut Ini Hasilkan Rp 16 Juta dari Aplikasi Game

 

Ketika di Jakarta dulu, Edi bekerja serabutan, mulai dari menyemir sepatu dengan berkeliling ke stasiun kereta api dan terminal bus. Namun, usaha itu tak membuat kebutuhan sehari-harinya tercukupi. Akhirnya, ia memberanikan diri merantau ke Pekanbaru, walau ia tak miliki sanak famili di sini.

 

"Saya memang tak lulus SD. Pendidikan saya hingga kelas 5 SD, itupun tak selesai. Makanya waktu itu, saya sangat kesulitan mencari pekerjaan. Bermodalkan keyakinan kalau saya bakal hidup lebih layak ketika di Pekanbaru. Itu saja," kenangnya.

 

Setalah 6 tahun hidup makan di Pekanbaru Edi merasa Pekanbaru sebagai kampung keduanya. Membandingkannya dengan Jakarta, Pekanbaru dengan kehidupan sosialnya jauh lebih ramah dan erat dibandingkan di Jakarta dulu.

 

Kendati telah 6 tahun di Pekanbaru, ia belum juga kantongi KTP Pekanbaru dengan alasan tak punya syarat cukup untuk membuatnya. (Baca: Berkah Suara Merdu Azan, Tukang Sol Sepatu Naik Haji

 

"Kalau di Pekanbaru orangnya lebih banyak berempati dibandingkan di Jakarta dulu. Saya lebih nyaman di Pekanbaru walaupun Jakarta adalah kampung halaman saya," tuturnya.

 


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline