Pencapaian Kerja Pemprov 2015 Dikeluhkan Plt Gubri

 

Penulis: Wilna Sari

 

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rahman mengeluhkan pencapaian target kerja Provinsi Riau di Tahun 2015, terutama dalam internal pemerintahan. Hal tersebut lantaran APBD tidak bisa direalisasikan.

 

"Cobaan Riau di Tahun 2015 cukup berat, apalagi di internal pemerintahan. Ada APBD yang tidak bisa dikerjakan ditambah lagi cobaan asap dan kebakaran hutan," kata Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rahman dalam sambutan di acara agenda tahunan Bank Indonesia 2015, Selasa (22/12/2015).

 

Padahal tahun ini Riau sudah berhasil menekan tingkat kebakaran hutan dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, cobaan tersebut tetap memengaruhi berbagai sektor di Riau.

 

"Sebenarnya kita hanya mendapat asap kiriman dari provinsi tetangga. Tetapi tetap berdampak pada banyak sektor di Riau, di antaranya ekonomi, sosial, pendidikan dan lainnya. Bahkan dua sektor andalan kita, perkebunan dan migas juga terganggu," katanya.

 

Menanggapi hal itu, ekonom asal Universitas Gadjah Mada Anggito Abimanyu menyarankan pemerintah Provinsi Riau untuk melakukan revolusi struktural guna menyelamatkan pertumbuhan ekonomi.

 

Di saat ekonomi nasional tengah menyusut dewasa ini, menurutnya Riau harus membuat langkah strategis. Sebab Riau adalah daerah yang ekonominya paling turun drastis dibandingkan daerah yang mengalami kondisi sama seperti Aceh, Kalimantan Timur dan Papua.

 

"Kalau Riau hanya bergantung pada dua sektor andalannya selama ini yaitu migas dan perkebunan, saya prediksi ekonomi Riau akan terus memburuk," katanya di acara yang sama. (BACA JUGA: Kinerja Perbankan Riau Melambat di Triwulan III Tahun 2015)

 

Lebih lanjut Anggito menjelaskan, Aceh dan Papua masih selamat karena statusnya sebagai daerah Otonomi Khusus dengan anggaran tambahan dari pemerintah pusat. Sedangkan Kalimantan Timur sudah dapat melakukan diversifikasi sektor unggulan sebagai penopang daerah.

 

Itu sebabnya, menurut Anggito, Riau harus melirik potensi baru untuk menggerakkan ekonominya di luar dua sektor yang sudah lama menjadi motor utama. "Riau harus buat blueprint atau cetak biru pembangunan. Bisa dalam bentuk rencana pembangunan jangka menengah daerah, yang tentunya lepas dari ketergantungan dua sektor unggulan tadi," katanya.

 

Sementara itu untuk jangka pendek, dia menyarankan Pemda setempat sebaik mungkin dapat memanfaatkan anggaran daerah dan anggaran nasional yang ada untuk membangun berbagai bidang infrastruktur. Salah satunya dengan menggunakan anggaran sisa pada dua tahun belakangan ini di 2016 untuk menggesa infrastruktur dan menyiapkan anggaran pengganti pada 2017 mendatang.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline