Ekonomi China Disebut Tidak Lagi Kuat pada 2016

ILUSTRASI-PERTAMBANGAN-MINYAK.jpg
(INTERNET)

Penulis: Wilna Sari

 

RIAUONLINE, PEKANBARU - Lesunya situasi ekonomi di China berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional serta daerah, khususnya yang bergantung pada minyak mentah dan Crude Palm Oil (CPO).

 

Sehingga gambaran tersebut disimpulkan oleh Chief Economist Bank Rakyat Indonesia (BRI) Anggito Abimanyu, dapat membuat pertumbuhan ekonomi China hanya berada di posisi 6% tahun depan.

 

"Kalau dulu China bisa digdaya dan pertumbuhan ekonominya sampai double digit, sekarang tidak lagi sama. Prediksi saya China hanya naik 6% tahun depan," katanya. (KLIK: Beda Pengelolaan Hutan Indonesia dengan Finlandia)

 

Untuk jangka panjang, menurut Anggito yang juga merupakan Ekonom Universitas Gadjah Mada ini, kondisinya masih tetap dan membuat harga komoditas strategis seperti minyak mentah di pasar global yang tidak akan naik, apalagi menyentuh US$100 per barrel.

 

"Jadi jangan berharap dalam waktu dekat ini harga minyak kembali melonjak sampai US$100, termasuk juga CPO belum akan membaik," katanya, Selasa (22/12/2015).

 

Tak pelak kondisinya sekarang Negeri Tirai Bambu ini mengerem belanja infrastruktur negerinya akibat perlambatan ekonomi global. Karenanya, persen pertumbuhan ekonomi China pun kini hanya berharap pada belanja domestik, serupa dengan di Indonesia seperti Aceh, Riau, Kalimantan Timur, dan Papua.