Massa HMI Minta 8 Temannya Yang Ditahan Polisi Dibebaskan

Kader-HMI-Miliki-Badik.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ratusan kader Himpunan Mahasiswa Islam asal Badko Sulawesi Selatan - Sulawesi Barat akhirnya dipulangkan menuju tempat asal masing-masing. Sempat terjadi penolakan lantaran masih banyak kader HMI lainnya yang belum jelas kepulangannya.

 

Ratusan kader ini dipulangkan menggunakan 10 bus yang disewa panitia. Mereka akan diantar menuju Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan Kapal Pelni menuju Makassar.

 

Salah seorang kader asal Cabang Makassar Timur, Arif mengatakan mereka sedikit berkeras karena 8 teman-temannya yang ditahan masih belum dilepaskan. Mereka merupakan tersangka kepemilikan senjata tajam yang terjaring oleh kepolisian dalam razia di Gelanggang Remaja tempo hari. (KLIK: Ratusan Kader HMI Badko Sulselbar Dipulangkan dengan 10 Bus)

 

"Kita bukan menolak untuk pulang tapi masih banyak teman-teman kami yang masih belum jelas nasibnya kapan dan bagaimana mereka akan pulang. Kami juga menunggu 8 orang teman kami untuk dilepaskan," ujar Arif kepada RIAUONLINE.CO.ID, Senin (30/11/2015).

 

Namun tak semua mereka menyetujui untuk dipulangkan. Sebagian dari mereka bersikeras untuk menunggu hingga kongres selesai. Mereka bahkan memprovokasi sebagian temannya yang telah menaiki bus untuk turun dari bus. (LIHAT: Kapal Feri Rute Batam - Singapura Tenggelam)

 

"Ayo kita kembali ke basecamp saja. Kita menolak untuk dipulangkan karena masih banyak yang belum jelas dari kawan-kawan kita bagaimana mereka pulang. Kita mengajak dan menghimbau kawan-kawan yang lain untuk tidak Pulang,menunggu bersama sampai semua pulang bersama," tutur salah seorang mahasiswa yang menolak pulang dalam orasinya di lapangan Gedung Idrus Tintin.

 

Arif khawatir dengan provokasi dari sebagian teman-temannya. Ia ragu bisa pulang tepat waktu sesuai dengan jadwal yang sudah mereka tentukan.

 

"Jadwal tiket kapal kita itu tanggal 2 Desember ini. Kita khawatir kalau lebih lama lagi kita bisa terlambat berangkat dan batal pulang. Resikonya kita bakal terdampar lebih lama nantinya di Jakarta," tandas Arif.