Aktual, Independen dan Terpercaya
ÔĽŅ

Kisah Sebuah Negeri di Awan (Bagian 1)

 

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tak tampak langit yang berwarna biru. Redup, tak ada cahaya matahari sampai ke bumi Riau. Pandangan terbatas hanya beberapa meter, setiap sudut kota putih tertutup kabut asap. Bangunan-bangunan bertingkat dan jembatan layang kebanggaan Kota Pekanbaru, hampir tak terlihat dalam jarak 100 meter. Untuk membantu penglihatan, pengendara sepeda motor dan mobil harus menyalakan lampunya di siang hari dan berjalan pelan.

 

Sebagian orang yang ditemui menutup mulut dan hidungnya dengan masker, meskipun sebagian besar tidak mengenakan masker standar N95. Papan Indeks Standar Pencematan Udara (ISPU) yang berdiri di depan Kantor Walikota Pekanbaru menunjukkan kualitas udara pada level berbahaya yang berarti partikel PN 10 yang ada di udara lebih dari 300 mikrogram per meter kubik udara. Sekolah-sekolah sudah hampir satu bulan diliburkan sejak 2 September 2015 lalu. Mereka diliburkan agar terhindar dari penyakit paparan asap

Begitulah gambaran Pekanbaru dan beberapa wilayah di Riau pada Tanggal 29 September 2015. Keadaan serupa ini terjadi berulang kali dalam rentang waktu dua bulan sejak akhir Agustus hingga awal Oktober 2015. Tidak heran banyak masyarakat yang terserang sejumlah penyakit lantaran menghirup asap yang PM 10 yang bahkan pernah mencapai angka 1.065 mikrogram per meter kubik udara. (BACA JUGA: BNPB Belum Bisa Pastikan Kapan Asap Berakhir)

 

Tidak sampai di situ, penderitaan masyarakat Riau diperparah pula oleh pemadaman listrik bergilir setiap hari yang dilakukan PLN Pekanbaru dan kelangkaan gas elpiji 3 kg. Hal tersebut menambah kesengsaraan masyarakat Riau.

 

Aksi demonstrasi dari berbagai elemen masyarakat terjadi di mana-mana. Protes keras masyarakt yang rindu langit biru sudah dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui dialog, aksi turun ke jalan, melayangkan petisi hingga gugatan kepada pemerintah daerah dan pusat.

 

Korban sudah banyak berjatuhan akibat buruknya kualitas udara di Riau sejak beberapa bulan lalu. Berdasarkan data yang dirilis Pos Komando Satuan Tugas Darurat Bencana Asap Provinsi Riau, Senin (1/10/2015), jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di 12 kabupaten/kota di Riau mencapai 44,211 orang. Penderita penyakit Asma sebanyak 2.230 orang, penyakit kulit sebanyak 3.507, iritasi mata 2.702 dan Pneumonia sebanyak 761 orang.

 

"Bencana ini akibat dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi di Sumatera. Arah angin yang mengarah ke wilayah Riau membuat kabut asap di Riau pekat, walaupun tidak banyak titik panas di wilayah ini," kata Direktur Yayasan Hutanriau, Raflis. (KLIK: Titik Panas Sumatera Melonjak 769, Riau Mulai Berasap)

 

Menurut Raflis, lahan gambut sudah mulai mengering akibat dikelola dan kanalisasi. Banyak izin HTI dan Perkebunan diberikan di atas lahan gambut. Bahkan di lahan gambut dalam. Lahan yang seharusnya tidak boleh dikelola berdasarkan peraturan perundangan, diberi izin HTI dan perkebunan. Bila gambut sudah kering maka akan rentan terbakar di musim kemarau atau kering.

 

Berdasarkan analisa sejumlah lembaga lingkungan di Riau, sejak hutan rawa gambut dikelola, kebakaran hutan dan lahan mulai marak terjadi Riau. Setiap tahun, Riau selalu dilanda kabut asap. Tahun ini, tahun ke 18 Riau dikepung kabut asap.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline