RIAU ONLINE, SIAK - Masyarakat Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak resmi memiliki Rumah Nenas Nastar, sentra olahan nanas yang dibangun untuk memperkuat potensi ekonomi lokal atas dukungan dukungan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melalui program Community Development (CD).
Peresmian Rumah Nenas Nastar ini dilaksanakan pada Selasa, 26 November 2025 dan dihadiri oleh Wakil Bupati Siak Syamsurizal Bersama Camat Sungai Apit Tengku Mukhtasar.
Selain itu juga GM Stakeholder Relations (SHR) RAPP Wan Mohammad Jakh Anza, Head of Community Development RAPP Ferdinand Leohansen Simatupang, serta Head of Corporate Communications RAPP Aji Wihardandi.
Syamsurizal menyampaikan apresiasi atas komitmen berkelanjutan RAPP dalam mengangkat potensi nanas sebagai produk unggulan daerah.
“Apresiasi kami selaku Pemerintah Kabupaten Siak kepada RAPP yang telah mendorong peningkatan ekonomi serta mendampingi masyarakat mulai dari pengembangan budidaya, proses pengolahan, hingga menghasilkan produk turunan seperti nastar yang kini menjadi ikon Kampung Penyengat,” ujarnya.
Nama UMKM Ratu Penyengat pun memiliki makna tersendiri, “Ratu” melambangkan peran kuat para ibu dalam menggerakkan produksi selai dan nastar, sementara “Penyengat” merujuk pada kampung tempat usaha ini tumbuh.
Produk yang mereka hasilkan menggunakan varietas nanas ratu, komoditas yang telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Siak sebagai Nanas Mahkota Siak.
Upaya meningkatkan nilai tambah nanas sebenarnya sudah dimulai sejak 2014, ketika program One Village One Commodity (OVOC) memperkuat budidaya nenas di lahan seluas sekitar 250 hektare.
Produksi yang terus meningkat mendorong masyarakat bersama RAPP
RIAU ONLINE, SIAK - Masyarakat Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak resmi memiliki Rumah Nenas Nastar, sentra olahan nanas yang dibangun untuk memperkuat potensi ekonomi lokal atas dukungan dukungan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melalui program Community Development (CD).
Peresmian Rumah Nenas Nastar ini dilaksanakan pada Selasa, 26 November 2025 dan dihadiri oleh Wakil Bupati Siak Syamsurizal Bersama Camat Sungai Apit Tengku Mukhtasar.
Selain itu juga GM Stakeholder Relations (SHR) RAPP Wan Mohammad Jakh Anza, Head of Community Development RAPP Ferdinand Leohansen Simatupang, serta Head of Corporate Communications RAPP Aji Wihardandi.
Syamsurizal menyampaikan apresiasi atas komitmen berkelanjutan RAPP dalam mengangkat potensi nanas sebagai produk unggulan daerah.
“Apresiasi kami selaku Pemerintah Kabupaten Siak kepada RAPP yang telah mendorong peningkatan ekonomi serta mendampingi masyarakat mulai dari pengembangan budidaya, proses pengolahan, hingga menghasilkan produk turunan seperti nastar yang kini menjadi ikon Kampung Penyengat,” ujarnya.
Nama UMKM Ratu Penyengat pun memiliki makna tersendiri, “Ratu” melambangkan peran kuat para ibu dalam menggerakkan produksi selai dan nastar, sementara “Penyengat” merujuk pada kampung tempat usaha ini tumbuh.
Produk yang mereka hasilkan menggunakan varietas nanas ratu, komoditas yang telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Siak sebagai Nanas Mahkota Siak.
Upaya meningkatkan nilai tambah nanas sebenarnya sudah dimulai sejak 2014, ketika program One Village One Commodity (OVOC) memperkuat budidaya nenas di lahan seluas sekitar 250 hektare.
Produksi yang terus meningkat mendorong masyarakat bersama RAPP melakukan hilirisasi dengan mengembangkan selai nanas dan nastar. Dari sinilah lahir UMKM Ratu Penyengat, yang berkembang pesat sejak mulai berjalan pada tahun 2022.
Proses pendampingan dilakukan secara bertahap, yakni peningkatan keterampilan, legalitas, dan perizinan usaha di tahun 2022, penguatan kualitas produk dan kemasan pada tahun 2023, disusul pengembangan pemasaran online dan offline sepanjang tahun 2024.
Memasuki tahun 2025, dukungan RAPP meningkat melalui pembangunan rumah produksi dan ruang display, hingga pelatihan daur ulang limbah daun nanas serta persiapan pemanfaatan serat daun nanas sebagai peluang usaha baru pada 2026.
Kini, ampas nanas yang dulu tidak terpakai telah berhasil diolah menjadi serat bernilai ekonomi. Inovasi ini menunjukkan bahwa kreativitas dan kolaborasi mampu mengangkat potensi desa menjadi kekuatan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Siak juga melihat langsung bagaimana limbah nanas yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat disulap menjadi berbagai produk menarik. Serat dari daun nanas diolah menjadi beragam kerajinan, mulai dari bingkai foto, kotak pensil, buku catatan, hingga paper bag.
GM Stakeholder Relations RAPP, Wan Mohammad Jakh Anza, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk konsistensi perusahaan dalam mendorong pemberdayaan jangka panjang.
“Melalui program CD, kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya memiliki kemampuan produksi, tetapi juga fasilitas yang mendukung tumbuhnya usaha. Rumah Nenas Nastar ini diharapkan menjadi pusat produksi, pelatihan, sekaligus ruang peningkatan kualitas UMKM Ratu Penyengat,” ujarnya.
Rasa syukur juga datang dari Penghulu Kampung Penyengat, Abok Agustinus, yang melihat fasilitas ini sebagai dorongan besar bagi warganya.
“Bantuan ini tidak hanya menghadirkan sarana yang lebih layak, tetapi juga memberi semangat baru bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas produk. Kami berharap rumah nenas ini membuka peluang ekonomi yang lebih luas dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Penyengat,” tuturnya.
Dengan berdirinya Rumah Nenas Nastar, perjalanan UMKM Ratu Penyengat memasuki babak baru. Sentra ini diharapkan memperkuat posisi Kampung Penyengat sebagai pusat olahan nanas di Kabupaten Siak sekaligus membuka jalan bagi lahirnya peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal.
melakukan hilirisasi dengan mengembangkan selai nanas dan nastar. Dari sinilah lahir UMKM Ratu Penyengat, yang berkembang pesat sejak mulai berjalan pada tahun 2022.
Proses pendampingan dilakukan secara bertahap, yakni peningkatan keterampilan, legalitas, dan perizinan usaha di tahun 2022, penguatan kualitas produk dan kemasan pada tahun 2023, disusul pengembangan pemasaran online dan offline sepanjang tahun 2024.
Memasuki tahun 2025, dukungan RAPP meningkat melalui pembangunan rumah produksi dan ruang display, hingga pelatihan daur ulang limbah daun nanas serta persiapan pemanfaatan serat daun nanas sebagai peluang usaha baru pada 2026.
Kini, ampas nanas yang dulu tidak terpakai telah berhasil diolah menjadi serat bernilai ekonomi. Inovasi ini menunjukkan bahwa kreativitas dan kolaborasi mampu mengangkat potensi desa menjadi kekuatan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Siak juga melihat langsung bagaimana limbah nanas yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat disulap menjadi berbagai produk menarik. Serat dari daun nanas diolah menjadi beragam kerajinan, mulai dari bingkai foto, kotak pensil, buku catatan, hingga paper bag.
GM Stakeholder Relations RAPP, Wan Mohammad Jakh Anza, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk konsistensi perusahaan dalam mendorong pemberdayaan jangka panjang.
“Melalui program CD, kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya memiliki kemampuan produksi, tetapi juga fasilitas yang mendukung tumbuhnya usaha. Rumah Nenas Nastar ini diharapkan menjadi pusat produksi, pelatihan, sekaligus ruang peningkatan kualitas UMKM Ratu Penyengat,” ujarnya.
Rasa syukur juga datang dari Penghulu Kampung Penyengat, Abok Agustinus, yang melihat fasilitas ini sebagai dorongan besar bagi warganya.
“Bantuan ini tidak hanya menghadirkan sarana yang lebih layak, tetapi juga memberi semangat baru bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas produk. Kami berharap rumah nenas ini membuka peluang ekonomi yang lebih luas dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Penyengat,” tuturnya.
Dengan berdirinya Rumah Nenas Nastar, perjalanan UMKM Ratu Penyengat memasuki babak baru. Sentra ini diharapkan memperkuat posisi Kampung Penyengat sebagai pusat olahan nanas di Kabupaten Siak sekaligus membuka jalan bagi lahirnya peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal.

