Syahril dan Herman Nazar Serang Firdaus Soal Kota Madani serta Sampah

Debat-Publik-Pilwako-Pekanbaru.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ZUHDI FEBRIYANTO)
ombudsman

RIAU ONLINE, PEKANBARU -  Dua Calon Wali Kota Pekabaru menyerang Calon Wali Kota Petahana, Firdaus, dengan pertanyaan seputar perubahan Kota Bertuah menjadi Kota Madani, serta sampah berbulan-bulan selama 2016 lalu menjadi pokok bahasan warga Pekanbaru. 

Calon Wali Kota Pekanbaru nomor urut 1, Syahril, menyerang Firdaus soal perubahan Kota Bertuah menjadi Kota Madani. Menjawab pertanyaan tersebut, Firdaus menjelaskan, tak ada yang berubah dan berganti julukan Kota Bertuah menjadi kota Madani. 

"Tak ada berganti Bertuah, itu tetap. Madani adalah masyarakat reliji atau berperadaban, maju. Ada tiga indikator Kota Madani, mulai dari warga kota yang Sehat, Cerdas, serta berakhakul karimah dan cinta budaya bangsa," jawab Firdaus, Sabtu, 4 Februari 2017, saat Debat Publik Pasangan Calon diselenggarakan KPU Pekabaru di Ballroom Hotel Pangeran. 

Baca Juga: Soal Sampah, Herman: Saya Percaya Ke Anak Buah, Firdaus Justru Kontraktor

Sayangnya, Calon Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ayat Cahyadi, terlihat meninggi suaranya saat menjawab perubahan julukan Kota Bertuah menjadi Kota Madani. 

"Bertuah itu moto Kota Pekanbaru, Kota Madani, itu Visi Misi Firdaus-Ayat saat maju pada Pilwako 2011. Ini kemudian menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pekanbaru 2012-2017," kata politisi PKS ini dengan suara tinggi. 

Debat Publik Calon Wali dan Wakil Wali Kota Pekanbaru

Sedangkan Calon Wali Kota Nomor Urut 2, Herman Nazar juga mempertanyakan mengenai kegagalan Firdaus saat menjabat Wali Kota Periode 2012-2017, dalam pengelolaan sampah pada 2016 lalu.

Herman Nazar bercerita, ia diminta Herman Abdullah, pada 2001 lalu untuk mengatasi sampah di Pekanbaru. Ketika itu, Herman Nazar menjabat sebagai Kepala Lingkungan Hidup dan mengubah pola manajemen angkut sampah. 

Hasilnya, selama tujuh tahun berturut-turut, Kota Pekanbaru langganan meraih Piala Adipura, hal tak pernah diraih Firdaus-Ayat Cahyadi saat memimpin Pekanbaru. 

"Kalau mengacu UU Otoda, dan Perda pengelolaan sampah, untuk meningkatkan pengelolaan sampah, harus bermitra dengan pihak ketiga. Zaman Bapak dulu, itu fasilitator, sekarang bukan," kata Firdaus sambil menyerang kembali Herman Nazar. 

Klik Juga: Pak Firdaus, Jangan Malu Belajar Kelola Sampah Ke Ahok

Tak cukup itu, Firdaus kemudian mengatakan, Piala Adipura zaman Herman Nazar polanya baru belajar, dinilai ditentukan dulu, sekarang penilaian dan partisipasi masyarakat.


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline