Aktual, Independen dan Terpercaya

Pria Muslim Ini Mendadak Terkenal Gara-gara Namanya

Slamet-Hari-Natal.jpg
(TEMPO.CO)
Enoki Mall Pekanbaru Japanese restaurant shabu-shabu, sushi dan Grill

RIAU ONLINE - Seorang pria di Kabupaten Malang Jawa Timur mendadak terkenal di jejaring sosial karena memiliki nama unik. Pria muslim itu mendadak viral di Facebook karena memiliki nama Slamet Hari Natal.

 

Kata Slamet dalam bahasa Jawa bersinonim dengan kata selamat dalam bahasa Indonesia. “Iya, Mas, benar nama saya memang begitu. Malah saya akrabnya dikenal sebagai Slamet Yesus karena lahirnya pas hari Natal,” kata Slamet, dikutip dari Tempo.co, Rabu, 28 Desember 2016.

 

Slamet merupakan warga RT 24 RW 08 Dusun Wates, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo yang tinggal di Jalan Sangadi. Slamet yang lahir pada 25 Desember 1962 adalah sulung dari dua bersaudara, anak pasangan Samsuri dan Ngatinah.

Baca Juga: Nama Orang Indonesia Ini Masuk Daftar Nama Teraneh di Dunia

 

Sang bidan, Akaskio, warga Kebonsari, Kecamatan Tumpang, Malang, yang menangani proses persalinan ibunya menyarakankan Ngatinah untuk memberikan nama sesuai dengan perayaan hari Natal. “Ketimbang repot-repot dan sulit-sulit kasih nama, bidannya usulkan beri nama Slamet Hari Natal dan orang tua saya setuju,” kata Slamet.

 

Sejak kecil hingga menamatkan sekolah menengah, Slamet mengaku tidak pernah mengalami masalah serius karena menyandang nama tersebut. Justru orang tuanya yang beberapa kali kerepotan dan mendapat hambatan saat mengurus administrasi kependudukan, seperti memasukkan namanya ke dalam akta kelahiran dan kartu keluarga serta saat mendaftarkan dirinya ke sekolah.

 

Hingga hambatan serupa dialami Slamet saat ia sudah dewasa dan menikah. Kendala yang paling dirasakan Slamet saat mengurus kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga dan akta kelahiran baik untuk dirinya ataupun bagi istri dan ketiga anaknya.

Klik Juga: Bisakah Anda Mengeja Nama Bocah Ini?

 

Urusan di tingkat rukun tetangga dan rukun warga lancar-lancar saja karena petugas dan Slamet sudah saling kenal sebagai tetangga. Namun masalah baru dirasakan saat mengurusnya di tingkat desa, kecamatan, dan dinas kependudukan.

 

Awalnya, para petugas di tiga instansi tersebut tak percaya dan terheran-heran begitu mengetahui nama lengkapnya. Akibatnya, proses administrasi kependudukan jadi lama sebab petugas butuh waktu untuk memverifikasi keaslian dan kelengkapan nama pria 54 tahun tersebut.

 

Slamet beristrikan Setyowati. Pasangan ini mempunyai dua anak lelaki dan seorang anak perempuan, yakni Arif Wendi Yunianto Ferdiansyah, Nova Dewi Nurayomi Ayu, dan Guruh Tedy Prasetyo Susanto.

 

“Urusan anak bungsu saya (Guruh Tedy) saat mendaftar sebagai anggota TNI juga sempat tak lancar. Misalnya, saya ditanya macam-macam saat mengurus SKCK (surat keterangan catatan kepolisian) untuk putra saya, tapi alhamdulillah akhirnya bisa selesai,” ujar Slamet.

Lihat Juga: Heboh Nama Tuhan, Pria Ini Mendadak Terkenal dan Diburu Media

 

Kini, Guruh bertugas di Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti, Tanjungselor, Kalimantan Utara. Saat sudah menjadi anggota TNI, kata Slamet, Guruh masih sering ditanya tentang nama lengkap orang tuanya. Guruh bahkan sampai harus mengirim fotokopi KTP Slamet untuk memastikan bahwa ayahnya benar bernama Slamet Hari Natal.

 

Slamet mengaku, meski lahir bertepatan dengan hari Natal, ia hanya mendapat ucapan selamat ulang tahun dari tiga anak dan empat cucunya tanpa dirayakan dengan sebuah pesta.

 

Slamet merasa membanggakan nama tersebut sebagai doa dan harapan terbaik yang diberikan orang tua. Baginya, nama itu mengandung pesan toleransi terhadap perbedaan agama. Para pemeluk agama harus rukun.

 

“Saya beragama Islam, kayakinan ada di dalam hati. Agama itu pegangan hidup, tapi perbedaan agama tidak harus memecah belah kerukunan dengan umat agama lain. Kita harus saling menghormati sebagai sesama manusia,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir itu.

 

Slamet semakin bangga dengan namanya saat lima tahun lalu KTP-nya pernah disita petugas Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, saat menyeberang ke Bali untuk mengantar orang berwisata. Ternyata, petugas itu malah meminta KTP lama miliknya untuk disimpan sebagai kenang-kenangan karena nama Slamet dianggap unik. Begitu pula ketika mengurus surat izin mengemudi, petugas memotret KTP Slamet untuk kenang-kenangan.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline